Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Desakan warga


__ADS_3

Mily yang tengah menikmati makan siangnya bersama dengan para staf di restoran, tampak terkejut menerima telepon dari ketua Rt di kampungnya.


Ketua Rt memberi tahukan masalah yang tengah di hadapi oleh keluarganya.


Mily terkulai lemah, membayangkan nasib buruk ibu dan adiknya.


"Mbak Mily kenapa?" tanya bawahannya.


Mily hanya mampu menggeleng dan tersenyum getir, dia lantas berjanji kepada ketua Rt untuk segera pulang dan membantu menyelesaikan masalahnya.


Tanpa pikir panjang, dia berpamitan pada para staf dan mencoba menghubungi Melisa untuk meminta izin.


Mily juga berusaha mencari tiket pesawat secara Online, tapi tidak ada di waktu yang ia butuh kan.


Hingga ponselnya kembali berdering tertera nama Melisa sang atasan.


"Maaf Mil, ibu tidak dengar kamu menelepon, ada apa?"


"Ma-maaf Bu, saya harus izin selama beberapa hari. Ada masalah pada keluarga saya yang harus di selesaikan saat ini juga," jelasnya.


Ia tak bisa menjelaskan secara terperinci apa masalahnya sebab terkesan terlalu terbuka, Mily hanya berharap semoga Melisa mau mengerti.


"Masalah seperti apa? Apa ada hubungannya dengan Fisha?" tanya Melisa penasaran.


"Bukan Bu, tapi masalah keluarga saya dikampung," lanjutnya.


Ingin sekali Mily mengakhiri panggilan itu sebab ia memang sedang terburu-buru.


"Baiklah, apa kamu memerlukan bantuan Ferdi?" tawar Melisa.


Meski baru beberapa hari bekerja, Melisa cukup puas dengan kinerja Mily yang tekun dan mudah cepat memahami pekerjaannya.


"Tidak perlu Bu, terima kasih, kalau begitu saya pamit ya Bu," ucap Mily memutuskan panggilannya.


Melisa lantas menghubungi Ferdi meski telah di tolak oleh Mily, ibu satu anak itu merasa ada sesuatu yang buruk menimpa keluarga bawahannya itu.


"Iya mah ada apa?" tanya Ferdi setelah panggilannya tersambung.


"Fer, Mily tiba-tiba izin karena ada urusan dengan keluarganya, ada apa ya? Kamu tau ngga?"


Ferdi terkekeh mendengar pertanyaan sang ibu yang menurutnya terlalu ingin tau tentang kehidupan Mily.


Tak di ungkiri semenjak mengenal Mily, ibunya itu selalu bertanya banyak hal padanya tentang Mily.


Meski begitu, ia bersyukur sebab dengan taunya sang ibu, dia berjanji akan membantu Mily mengetahui siapa dalang di balik penjebakan dirinya di kamar hotel milik saudari tirinya.


"Mamah kepo! Kan aku udah bilang mah, jangan kelihatan banget lah kalau mamah itu mau tau banget urusan dia," ketus Ferdi.


"Ishh kamu ini, mamah cuma khawatir, kamu tau Mily gadis yang baik, hanya nasibnya saja yang buruk, mamah takut kalau Fisha berbuat sesuatu padanya," ujarnya khawatir.


"Astaga mamah sampai segitunya, Fisha bukan orang seperti itu kali mah, mau berbuat apa emangnya dia?" cibir Ferdi yang menjawab kekhawatiran ibunya.


.

__ADS_1


.


Mily berhasil mendapatkan penerbangan tercepatnya. Saat ini waktu sudah malam, dia menghubungi Bian agar bisa menemui mereka.


"Kaka datang?" ucap Bian tak percaya.


"Ia, kaka sekarang ada di Taxi, apa kalian di rumah?" tanya Mily khawatir.


"Iya kami di rumah Ka, tenang aja, Pak Rt. meminta beberapa hansip dan warga untuk menjaga rumah, jadi ngga akan ada yang berbuat anarkis," jelas Bian yang semakin membuat Mily cemas.


Mobil yang di tumpanginya sudah sampai di depan rumah keluarganya. Perasaan cemas semakin meliputinya tatkala melihat beberapa laki-laki yang sedang duduk di teras rumahnya bersama sang adik.


"Bian?" panggil Mily yang membuat pemuda itu tersenyum, mereka lantas mendekat dan membantu sang kakak membawakan tasnya.


"Kamu ngga papa kan?" tanya Mily sambil menangkup wajah adiknya yang sudah lebih tinggi darinya.


"Bian sama ibu baik-baik aja ka," jawab Bian lembut.


Mily menangis meluapkan rasa leganya. "Tapi bibir kamu kenapa?" tanya Mily setelah melihat bercak memar di sudut bibir adiknya.


"Kakak istirahat dulu, baru nanti aku ceritain ok?" paksa Bian.


"Mbak Mily," sapa para lelaki yang di tugaskan menjaga kediaman Saidah.


Mily menyapa dan menyalami semuanya sebelum akhirnya dia masuk untuk menemui ibunya.


Mily mengetuk kamar sang ibu, meski ini sudah malam, tapi Bian meyakinkan Mily jika ibunya belum tidur, karena tadi sang ibu baru saja ke dapur untuk membuatkan para penjaga kopi.


Saidah terkejut melihat siapa yang berdiri di depan rumahnya. Ia memang tau jika Mily akan pulang menemuinya, tapi tak menyangka jika hari ini juga Mily akan kembali.


Saidah membalas dengan mengusap punggung putrinya. Hatinya terasa miris kenapa kehidupan anaknya jadi seperti ini.


"Istirahatlah, kamu pasti lelah kan? Jangan pikirkan apa pun, kita sudah aman sekarang," jelas Saidah.


Mily mengangguk dan berjalan memasuki kamarnya, kamar yang hampir tiga bulan tak ia datangi. Ia merindukan masa remajanya yang di habiskan di kamar itu.


Meski kamarnya sekarang sudah lebih bagus dari pada dulu sebelum di renovasi.


.


.


Pagi menjelang, suasana di sekitar rumah Mily masih tampak sepi. Warga yang kemarin berdemo bukanlah tetangga dekat Mily.


Rumah yang masih di pisahkan dengan kebun, membuat jarak antara satu rumah dengan rumah yang lainnya berjauhan.


"Ibu sudah buat sarapan, sebaiknya kamu makan. Ibu akan ke warung membeli sayur dulu, ada yang kamu butuh kan?" tanya Saidah sambil mengambil keranjang belanjanya.


Dia sudah siap jika nanti akan bertemu Ika dan ibu-ibu julid lainnya di warung sayur. Setidaknya mereka tidak akan melakukan kekerasan fisik padanya.


Benar kata sang putra, mereka akan menuntut kepada pihak yang berwajib kalau sampai mereka berani melukainya.


"Aku khawatir Bu, apa ngga sebaiknya ibu ngga usah keluar?" pinta Mily iba.

__ADS_1


Saidah mengulas senyum dan mengusap punggung tangan Mily yang menggenggam tangannya.


"Kita ngga salah, nak, buat apa takut, kalau kita sembunyi terus, nanti mereka menganggap apa yang selama ini mereka katakan itu benar," jelas Saidah.


Mily menghela napas, meski setuju dengan perkataan sang ibu, tapi ia tetap merasa khawatir.


Benar saja, sampai di warung sayur sudah ramai ibu-ibu yang kemarin ikut berdemo di rumahnya.


"Cih berani sekali kamu keluar Bu Saidah!" cibir Ika sengit.


Saidah memilih diam dan tetap fokus memilih sayuran. Ada yang berbisik-bisik di belakang, tapi tak sefrontal Ika yang langsung menghadangnya dengan makian.


Tetangga dekat Saidah bahkan bersikap biasa saja sama seperti pemilik warung sayur.


"Mily sudah datang Bu?" tanya tetangga dekat Saidah yang kebetulan suaminya bertugas jaga semalam di rumahnya.


"Iya Bu."


"Oh, pe*la*kor dah pulang? Siap menjemput Ibu untuk minggat dari kampung ini ternyata," kelakar Ika yang terlihat sangat senang.


"Dengar ya Bu Ika! Saya akan ke mana itu hak saya, bukan urusan Anda! Satu lagi, kalau pun nanti saya pergi, bukan karena di usir, tapi karena ke inginan saya sendiri," ketus Saidah yang sudah tak tahan dengan ucapan Ika yang sombong.


"Baik, kita lihat saja nanti, saya pastikan Ibu akan terusir dari kampung ini," kecam Ika sambil menunjuk wajah Saidah.


Tak ada yang berani memisahkan ke duanya, sampai Bu Rt datang melerai keduanya.


"Kalian kenapa malah ribut di sini? Bukankah suami saya sudah bilang akan mengundang kalian lagi nanti? Jangan bikin huru-hara Bu Ika kalau ibu masih mau dengar penjelasan Mily nanti!" ancam Bu Rt yang seketika membuat Ika bungkam.


.


.


Seperti yang di sepakati, siang ini pertemuan di mulai, kali ini bertempat di kediaman Saidah sendiri. Warga yang kemarin menjadi perwakilan datang dengan takut-takut.


Hanya Ika yang masih membusungkan dada bersikap arogan.


"Mbak Mily, maaf jika merepotkan Mbak Mily dan membuat mbak Mily harus datang ke kampung," ujar Pak Rt segan.


"Ngga papa Pak, ibu dan Bian adalah yang terpenting bagi saya," jawab Mily sambil mengulas senyum.


"Silakan salah satu dari kalian yang ingin menyampaikan keluhan," dua orang warga hanya menatap Ika, menuntut agar wanita gempal itu saja yang bicara.


Ika tersenyum sinis ke arah Mily, "Kami minta kamu dan keluargamu untuk pergi dari kampung kita ini! Karena kami ngga mau ada pe*la*kor di kampung kami," ucap Ika tajam.


Bian mengepalkan tangannya saat melihat sang kakak di hina seperti itu.


"Atas dasar apa Anda mengusir mereka? Jangan bertindak semena-mena kalau nanti akan merugikan diri Anda sendiri!" kecam seseorang yang tiba-tiba datang di pertemuan itu.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2