
Keputusan yang kuambil tanpa tau akibatnya kelak. Akhirnya aku memutuskan menerima ajakkan Bang Ridho untuk menikah.
Lelaki mana yang mau menerima wanita yang sudah tak suci lagi sepertiku, bahkan predikat janda lebih terhormat di banding diriku.
Saat itu aku hanya memikirkan statusku, tanpa berharap pada kehidupan rumah tangga seperti pada umumnya.
Bang Ridho juga berharap kami tetap bersikap biasa saja di kantor, dia tidak ingin orang kantor tahu hubungan kami.
Dengan sengaja dia berharap hubungan kami jangan sampai di ketahui oleh Mbak Fisha, untuk sementara waktu.
Ada yang teriris dalam hati kecilku. Hal yang tidak aku pikirkan adalah bagaimana perasaan Mbak Fisha.
Maafkan aku mbak, aku tidak bermaksud melukaimu, apa aku batalkan saja keinginan kami?
"Bang, maafkan aku, sepertinya aku tak sanggup menyakiti Mbak Fisha," kutangkupkan wajahku dengan kedua tangan, aku menangis, hidupku berada dalam pilihan yang sulit.
"Tenang, perlahan aku akan coba memberitahunya, tapi maaf Mily, aku tidak bisa menjadi suamimu seutuhnya. Sampai keadaanmu membaik, setelah itu aku akan melepasmu," lirihnya.
Jadi niat Bang Ridho hanya untuk bertanggung jawab pada keadaanku yang depresi akibat ulahnya. Menyedihkan sekali, bahkan aku tak bisa merasakan manisnya berumah tangga.
"Aku tak akan menyentuhmu Mily, setidaknya kamu akan memiliki status. Abang yakin akan ada laki-laki baik yang bersedia menerimamu kelak," tambahnya.
Hatiku sangat sakit mendengar rencana Bang Ridho, diriku tak berharga sama sekali. Dia bisa membuangku sewaktu-waktu. Mampukah aku menegakkan wajahku untuk sekedar mencari seorang lelaki yang mau menerima dengan tulus diri ini?
"Lalu apa tujuan pernikahan ini Bang? Jika Abang hanya sanggup bertanggung jawab secara materi, tanpa menikah pun bisa bukan?"
"Bukan hanya itu Mily, tapi aku harus bertanggung jawab tentang statusmu," selanya.
"Status? Jika aku hanya sebagai istri simpanan yang di nikahi siri, Abang pikir status apa yang kupunya?"
Bang Ridho mencengkeram kepalanya, dia kembali merasa dilema. Aku yakin pernikahan ini adalah pernikahan siri, tak mungkin Bang Ridho berani meminta izin kepada Mbak Fisha untuk menikahiku.
"Setidaknya hubungan siri dulu, Abang berjanji akan membuat status yang jelas untukmu," akhirnya Bang Ridho menentukan pilihannya.
__ADS_1
Tak bisa kubayangkan betapa terlukanya Mbak Fisha saat suami yang dia cintai meminta izin menikah lagi.
Terutama saat dia tau jika adik madunya adalah orang yang sudah dia tolong.
"Terserah abang saja, aku juga berharap Abang tak memberitahu ibu dan adikku. Nanti kuminta paman untuk menjadi wali nikahku," jawabku lemas.
Aku memiliki paman dari keluarga Ayah, beruntung keluarga besar almarhum ayahku tinggal jauh dengan kota kelahiranku.
Saat aku dan Bang Ridho mendatanginya, paman tampak gugup dan sungkan.
Keadaan perekonomian keluarga besar ayahku juga tak jauh berbeda denganku.
Rumah yang bahkan masih belum di plester ini menjadi tempat tinggal paman dan bibiku beserta ketiga anaknya yang masih kecil-kecil.
"Ya ampun, kamu sekarang cantikkan Mil, sudah hidup senang?" sapa Bi Lika.
Aku hanya bisa tersenyum getir, apa Bi Lika hanya melihat pakaian yang kukenakan saja? Tanpa melihat raut wajahku yang sayu?
"Ini calonmu ya?" tanya Bi Lika penasaran.
"Walah, bagus tenan bocah iki. Kamu pinter milih calon Mina," kekaguman jelas terpancar dari raut Bi Lika.
"Ini ada apa Mily kemari? Maaf, bukan paman ngga senang di datangi kamu," paman berkata sungkan padaku. Mungkin menghindari dari kekaguman Bi Lika yang berlebihan pada Bang Ridho, aku yakin beliau tidak nyaman dengan sikap sok akrab istrinya.
"Begini Paman, saya akan meminang Mily, karena Ayah kandung Mily sudah tiada, maukah paman menjadi walinya?"
Bang Ridho yang berkata terlebih dahulu, kuakui dia memang cukup pemberani.
"Ya ampun kamu mau nikah Mily? Senangnya, kapan acaranya?" lagi-lagi Bi Lika menyela perbincangan kami.
"Kehmm," Paman Maryoto sengaja berdehem demi menghentikan istrinya.
"Lebih baik ibu buatkan tamu kita suguhan," titahnya membuat Bi Lika mencebik kesal. Namun tak urung membuat wanita bertubuh gempal itu melaksanakan permintaan paman.
__ADS_1
"Kamu mau menikah Mily? Kapan?" tanya Paman Maryoto setelah kepergian Bibi.
"Kalau bisa besok Paman," pinta Bang Ridho.
Aku tau paman bingung dengan permintaan Bang Ridho yang terkesan mendadak.
"Nanti paman bisa datang ke hotel kami menginap, ada hal yang harus kami ceritakan pada paman," ucap Bang Ridho.
Paman hanya mengangguk setuju tanpa banyak bertanya lagi, dia orang yang cukup tau diri tidak ingin mengorek sesuatu, berbeda dengan Bi Lika, layaknya wanita pada umumnya, Bibiku itu terlalu ingin tahu segala hal.
"Baiklah, paman yakin itu sesuatu yang tidak bisa kalian bicarakan di sini, Paman hargai keputusan kalian."
Tak lama Bi Lika muncul dengan membawa teh hangat dan juga pisang rebus, meski beliau baru saja masuk, tapi pisang itu masih mengepulkan uap panas.
"Maaf, Bibi ngga punya apa-apa jadi seadanya aja ya," ujar Bi Lika sungkan.
"Ngga perlu repot-repot Bi, lagi pula kami tidak lama, kami harus kembali, karena memang kami sedang bekerja di daerah sini."
Bang Ridho tak berbohong, memang proyeknya kali ini berada di daerah sini, meski aku tidak dalam satu timnya karena izin sakitku.
Pekerjaan inilah yang membuat Bang Ridho memiliki kesempatan untuk bertemu pamanku. Kami juga datang sendiri-sendiri. Aku bersama dengan Bi Imah, karena kondisiku yang masih lemah, jadi aku turut serta membawanya.
"Loh kok cepat sekali, jadi kapan kalian mau nikah?"
"Di minum dulu Bang," selaku.
Tak enak rasanya jika tidak memakan suguhan dari tuan rumah, apalagi itu adalah keluargaku sendiri.
Bang Ridho mencicipi tanpa rasa jijik atau sungkan sedikit pun, dia bisa berbaur bahkan dengan orang dengan kelas ekonomi rendah seperti keluarga pamanku.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.