Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Mengambil Alvian


__ADS_3

Setelah kepergian Ridho, Dimas dan Fisha masih berada di kafe.


Dimas tak mengerti dengan jalan pikiran kliennya ini, sudah beruntung suaminya itu mau menyerahkan semua harta bersama mereka.


Kini Fisha malah menuntut hal yang menurut Dimas juga sangat keterlaluan, pantas saja Ridho murka dan bahkan akan mengancam balik kliennya.


"Bukankah saya sudah menasehati ibu untuk tidak gegabah? Jika pak Ridho menantang ibu, semua yang sudah ibu dapatkan akan raib semua," ucap Dimas datar.


Pusing sekali dia meladeni Fisha dan ibunya yang memiliki banyak tuntutan, saran darinya pun tak di gubris sama sekali.


"Kamu itu pengacara saya, harusnya membela saya! Pokoknya saya ngga mau tau kamu harus bisa memenangkan gugatan saya!" ancamnya lantas berlalu meninggalkan Dimas dengan kesal.


Dimas tak menyerah, dia lantas mengikuti Fisha dan menghadang langkahnya di parkiran.


"Tunggu dulu Bu Fisha, kalau seperti ini saya ngga yakin bisa menuruti semua keinginan ibu, ibu bahkan tau sendiri kalau harta bersama itu bisa dengan mudah di tuntut oleh pak Ridho," tekan Dimas berusaha membuka pikiran Kliennya.


"Kamu tenang saja, saya masih punya langkah terakhir untuk bisa menaklukkan mereka!" ucapnya lantas segera berlalu dari hadapan Dimas.


Dimas hanya mendesah pasrah, baginya Fisha yang keras kepala hanya akan melakukan hal yang sia-sia. Namun ia bisa apa, sebagai seorang pengacara tentu saja dia berusaha menyelesaikan masalah kliennya.


Ridho yang memang berniat mengunjungi anak-anaknya, segera melangkahkan kaki ke rumah miliknya dulu.


Meski belum izin kepada istrinya, Ridho tak peduli sebab rasa rindu pada anak-anaknya sudah sangat besar.


Di taman depan, terlihat anak-anaknya tengah bermain dengan pengasuh mereka.


"Alvian, Alma?" panggilnya kepada putra putrinya sambil mendekat.


"Pak ... Pak Ridho?" gagap Firda, dia bingung bagaimana harus bertindak saat ini, sebab sang majikan sudah mewanti-wantinya untuk tidak mengizinkan Ridho mendekati anak-anaknya.


"Kenapa kamu Fir?" tanya Ridho memandang aneh pengasuh anaknya itu.


Melihat sang majikan memeluk anak-anaknya, Firda merasa terenyuh, dia membiarkan saja Ridho meluapkan rasa rindunya.


"MAU APA KAMU KEMARI HAH!" bentar Marlina sambil berjalan mendekat ke arahnya.


Dengan kasar, Marlina mengambil Alma paksa dari gendongan Ridho, membuat balita itu menangis histeris.

__ADS_1


"Ibu apa-apaan! Saya ini ayah mereka! Mengapa saya tidak boleh menemui mereka?" ucap Ridho menahan amarah.


"Cih! Menjauh dari cucu-cucu saya, lupakan kalau kamu pernah memiliki mereka!"


Sungguh perkataan Marlina membuat Ridho sangat terluka, bagaimana bisa wanita paruh baya itu berkata dengan sangat kejam seperti ini, di mana hati nuraninya.


Tak lama suara mobil berhenti di teras mereka, membuat Marlina dan Ridho menoleh.


Melihat anaknya yang menangis di gendongan sang ibu, Fisha lantas mendekat dan menggendong putrinya.


"Mau apa kamu Do! Bukankah aku sudah bilang untuk jangan menemui mereka dulu!" bentak Fisha tak terima.


Kini Ridho sudah tak bisa membendung lagi amarahnya. Dia mendekati Fisha dengan mata yang menyalang.


Fisha yang melihat aura tak biasa dari suaminya memundurkan langkahnya karena takut.


"Apa ada alasan untuk seorang ayah menemui anak-anaknya? Ingat Fisha aku bisa menuntutmu ke jalur hukum, kamu tau konsekuensinya kan, jadi tunggu saja!" ancam Ridho balik.


"Kurang ajar! Dasar pengecut berani kamu mengancam anak saya hah! Pergi kamu! Pergi!" usir Marlina dengan memukul dada Ridho dengan brutal.


Tak tahan di perlakukan seperti itu, Ridho mencengkeram kedua tangan Marlina, membuat wanita paruh baya itu sedikit ketakutan.


Setelah itu Ridho menyentak kasar tubuh Marlina hingga wanita tua itu terhuyung, beruntung Firda ada di belakangnya, hingga tidak sampai membuat Marlina jatuh terjerembap.


Melihat mereka sedang sibuk, tanpa banyak kata Ridho membawa Alvian dalam gendongannya. Dirinya sudah muak selalu di salahkan oleh istri dan mertuanya.


Tak ada sedikit pun niat untuk menyakiti mereka, tapi Ridho sudah dalam batas ambang kesabarannya, jadi dia nekat melakukan hal ini.


Alvian tak mengelak di gendong sang ayah, Fisha yang melihat Ridho berlari membawa putranya menjerit histeris, membuat Alma yang tadi sudah diam kembali menangis.


"Ridho sialan! Lepaskan anak aku! Ridho!" Fisha tak mampu mengejar Ridho yang sudah menjalankan mobilnya.


Tanpa menunggu lama, Fisha berusaha mengejar mobil Ridho dengan mobilnya. Fisha meletakan Alma di lantai untuk mengejar suami dan putranya. Namun sayang, Fisha kebilangan jejaknya.


Tak putus harapan Fisha segera mendatangi kediaman mertuanya, dia berharap sang suami dan putranya akan kembali ke sana.


"Alvian! Alvian! Ridho! Di mana kalian!" jeritnya saat memasuki rumah mertuanya.

__ADS_1


Mendengar suara keributan di depan rumahnya, Elya segera keluar dari kamarnya.


Betapa terkejutnya wanita itu melihat sang menantu yang masuk dengan tidak sopan sambil berjalan ke arah ruangan yang ada di rumahnya.


"Fisha! Ada apa kamu ke sini hah! Ngga sopan banget kamu, masuk ke rumah mamah ngga salam ngga apa, maen triak-triak!" maki Elya tak kalah garang.


Fisha yang masih di liputi amarah, lantas menatap sang mertua.


"Di mana Ridho mah! Jawab! Kembalikan Alvian!" sambil berteriak luruh juga air matanya.


"Ridho belum pulang, bukannya hari ini sidang kalian? Lalu kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini seperti orang gila!" maki Elya.


Fisha mengelap kasar air matanya, dia menatap penuh harap pada sang mertua.


"Tolong kembalikan Alvian mah, jangan ambil dia," bujuknya yang membuat Elya makin tak mengerti dengan ucapan menantunya.


"Kamu itu, jelaskan dulu masalahnya, mamah ini ngga paham apa maksud kamu," sentak Elya yang semakin kesal dengan tingkah Fisha yang meraung-raung tak jelas menurutnya.


Fisha lantas menceritakan bagaimana Ridho mengambil putra mereka. Dia takut Ridho mengambil putranya.


"Kamu itu aneh sekali, Ridho kan ayahnya Alvian, kenapa kamu seolah menganggap Ridho akan mencelakainya. Sudah cukup, biarkan Ridho bersama Alvian hari ini, nanti juga pasti di pulangkan. Kamu juga jangan mempersulit mereka, ingat, kami juga punya hak atas Alvian dan Alam!" ketus Elya.


"Sekarang kamu pulang, jangan buat keributan, bikin malu saja. Heran mamah kenapa kamu berubah jadi seperti ini," cibir Elya pada Fisha.


"Aku seperti ini karena anak mamah! Andai mamah tau bagaimana rasanya di khianati aku yakin mamah akan lebih gila lagi," sarkas Fisha tak mau kalah.


"Ucapanmu seolah-olah Ridho berselingkuh saja, kamu dengar ya, selama kalian berpisah, Ridho tinggal di sini, tak pernah sekalipun ia menginap di rumah Mily. Justru kamu lah yang terkesan murahan, masih berstatus istri tapi sudah dekat dengan laki-laki lain," cecar Elya yang membuat Fisha mengepalkan tangan.


Ia tak menyangka ibu mertuanya yang dulu selalu mendukungnya, kini balas memandangnya dengan jijik.


Fisha tak pernah merasa bersalah tentang kedekatannya dengan Dika, semua sebab kesalahan sang suami yang membuatnya berpaling.


Menurut Fisha membalas pengkhianatan suami dengan berkhianat adalah sesuatu yang adil baginya. Ridho pantas mendapatkan hal itu, pikirnya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2