Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Pilihan Mily


__ADS_3

Ridho menghela napas, bahkan dia pun sama terkejutnya dengan sang ayah.


"Lihatlah, bahkan pak Ridho tak tau keadaan istrinya bukan, jadi inilah saya yang dengan tulus menyayangi Mily."


"Saya harap kalian mengerti dan tak memaksakan pernikahan ini. Saya akan menerima anak Pak Ridho dan tak akan menutupi asal usulnya," jelasnya panjang lebar.


"Bebarkah itu Mily?" tanya Ridho yang tak memedulikan ucapan Ferdi yang terkesan memojokkannya.


"Kenapa kamu ngga cerita sama Abang?" ketusnya.


"Aku bahkan menghubungi abang terlebih dahulu, tapi abang abaikan, jadi aku pikir abang tak ingin tau keadaanku, apa aku salah berpikir seperti itu?"


Jawaban Mily justru semakin memojokkannya seperti seorang lelaki tak bertanggung jawab.


Dia berada pada pilihan sulit, hubungan yang terjalin dengan Mily memang tak sehat, jujur dia memang tak pernah tau dan mau tau kehidupan istri sirinya itu.


"Papah kecewa sama kamu Do!"


"Tapi maaf nak Ferdi, hanya karena kesalahan seperti itu lantas membuat nak Ferdi mengambil alih tanggung jawab anak saya?" lanjut Gunawan kekeh pada keputusannya.


"Maaf ini adalah acara di mana harusnya keluarga saya yang menjawab. Bisa beri hak pada kakak saya untuk mengutarakan pendapatnya," sela Bian yang muak mendengar perdebatan kedua lelaki itu.


Pemuda itu merasa geram pada keduanya, harusnya Mily yang memutuskan bukan keduanya, meski ia tau niat keduanya baik, tapi tak ada seorang pun yang bertanya tentang perasaan sang kakak.


"Maafkan aku Mil, aku pikir sebaiknya aku berbicara terlebih dahulu, dari pada kamu akhirnya menerima keputusan mereka karena rasa tak enak," ujar Ferdi panjang lebar.


"Bicaralah nak, ibu akan menghormati segala keputusanmu," ucap Saidah.


"Sebaiknya kita akhiri saja rumah tangga ini Bang, abang bisa kembali mengejar mbak Fisha dan membuktikan janji abang padanya," ada rasa sesak di hati Mily mengambil keputusan ini.


Namun setelah ia memikirkannya, memang seharusnya ia tak menerima pernikahan itu dari awal. Biarlah dia yang menanggung segalanya seorang diri.


Ia tak mau lagi keluarganya menjadi sasaran kebencian Fisha dan keluarganya.


"Cih, giliran Ridho susah bercerai baru kamu ngomong begini! Kemarin ke mana aja!" ketus Elya.


"Mah!" tegur Gunawan. Lelaki paruh baya itu malu sekali atas ucapan sang istri.


"Loh benarkan? Percuma ngomong kaya gini sekarang, Fisha sendiri udah punya pacar baru. Dia!" tunjuknya pada Mily.


"Setelah tau ada yang mau ma dia langsung setuju batalin pernikahan! Emang dasar kalian aja yang munafik!" geramnya meluapkan emosi.

__ADS_1


Mily hanya mampu menunduk, beginilah nasib yang harus di terimanya, apa pun yang di lakukannya akan salah di mata orang lain.


Mungkin bagi Elya ucapan Mily saat ini adalah sebuah pembelaan diri karena telah mendapatkan lelaki yang mau dengannya.


Padahal jauh di lubuk hati Mily bukan karena pinangan Ferdi yang membuatnya mundur. Dia merasa tak perlu memperjuangkan pernikahannya dengan Ridho karena akan di anggap percuma.


Baginya ibu dan adiknya mau menerima dirinya sekarang sudah cukup. Jadi dia tak memerlukan pertanggung jawaban Ridho ataupun lamaran Ferdi.


"Maafkan saya kalau saya melukai hati Bang Ridho dan keluarga. Bukan karena Ferdi saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Saya lelah menjadi pihak yang selalu di salahkan, tolong mengerti saya Pah, Tante," pintanya lemah.


Ferdi menunduk, dia sempat senang saat Mily menolak melanjutkan pernikahannya dengan Ridho dan berpikir akan menerima lamarannya.


Nyatanya ibu hamil itu justru menolak keduanya. Namun ia tak patah semangat, asal Mily bukanlah istri orang lain, bisa membuatnya leluasa dalam menaklukkan hati wanita itu.


Tak ada yang bisa di perbuat keluarga Ridho menanggapi keputusan Mily, meski Gunawan berulang kali mengatakan agar Mily memikirkan terlebih dahulu.


Gunawan tetap bersikeras agar mereka menikah supaya ada kejelasan pada anak mereka kelak. Namun Mily tetap pada keputusannya, dia tak akan menutupi siapa ayah anaknya kelak, tapi tak perlu ada pernikahan.


Akhirnya malam itu juga Mily resmi bercerai dari Ridho, karena pernikahan yang terjalin hanya sebatas pernikahan siri, Ridho menjatuhkan talak tanpa perlu ke pengadilan agama.


Perasaan Ridho tak menentu, di dalam mobil Gunawan tentu saja kecewa dengan keputusan Mily.


.


.


Laura menemui sang putri di kantornya. Dia ingin memberitahu masalah Ferdi yang ingin menikahi seseorang.


"Mamah? Ada apa? Tumben ke sini ngga bilang-bilang?" cerca Louisa.


"Lou, ada yang mau mamah sampaikan, entah ini berguna atau enggak menurutmu," ucap Laura.


Louisa terkekeh, menuntun sang ibu untuk duduk di sofa warna pink miliknya.


Dekorasi kantor Louisa memang terkesan sangat feminin. Perpaduan warna soft pink dan emas sangat mencerminkan dirinya.


"Ke mana tunanganmu?" tanya Laura yang heran karena tak ada tunangan putrinya yang selalu menempel.


"Dia ada urusan akhir-akhir ini Mah, ayolah ada apa mamah ke sini?!" tanyanya penasaran.


"Ferdi ... Dia kemarin datang meminta izin sama papahnya untuk menikah."

__ADS_1


"Apa!" pekik Louisa marah. Wajah cantiknya merah padam saat mendengar berita yang di bawa sang ibu.


"Siapa dia mah!" geramnya.


"Hei, kenapa kamu marah? Kamu sendiri sudah punya tunangan, lantas kini kamu marah setelah mendengar Ferdi akan menikah?" cibirnya.


Louisa membuang napasnya kesal, tentu saja dia sudah memiliki tunangan, tapi dalam hatinya tak akan pernah melepaskan obsesinya, yaitu memiliki Ferdi.


"Bukankah mamah sudah bilang, lepaskan tunanganmu yang ngga bermutu itu! Jadi kamu akan mudah mendapatkan Ferdi lagi!" ketus Laura.


Louisa mendesah, dia mau mempertahankan tunangannya sebab semua pengelolaan hotel di bantu olehnya.


Sungguh mengerjakan, hotel warisan sang ayah membuatnya bosan, untung saja dia menemukan lelaki seperti tunangannya yang mampu membantunya mengurus semua hotel miliknya dan tentu saja memajukan hotel miliknya.


"Kenapa? Kamu berat bukan melepas dia?" cibir Laura.


"Mamah harus tau, hotel bisa berdiri dengan kokoh berkat tangan dinginya. Dia pekerja keras, kalau aku memutuskan pertunangan kami, aku yakin dia akan meninggalkanku, aku ..."


"Kamu tidak bisa mengerjakan pekerjaanmu sendiri? Sampai kapan kamu akan bergantung sama dia? Bisa-bisa kamu di bodohi sama dia!"


"Mah aku masih bisa mengontrolnya. Tapi sungguh pekerjaan dia sangat memuaskan, aku ngga bisa begitu aja melepaskan dia," lirihnya.


Louisa sungguh dilema, bukan karena cinta dia menerima laki-laki yang sekarang menjadi tunangannya.


Namun karena dia yang membantu mengurus hotel peninggalan sang ayah. Tentu saja Louisa tak bisa melepasnya begitu saja.


"Ya sudah terserah kamu, mamah cuma mau kasih tau kamu itu aja. Jangan menyesal kalau Ferdi sudah melangkah lebih jauh meninggalkan kamu," ucap Laura datar.


"Mamah tau siapa calon istrinya? Siapa tau aku bisa menyingkirkannya," pinta Louisa.


"Namanya Mily, hanya itu yang mamah tau, siapa dia, dan bekerja di mana mamah ngga tau," jelasnya.


Louisa menghela napas, "ya udah nanti aku coba cari tahu sendiri."


"Pikirkan lah Louis, ngga mungkin selamanya kamu bisa menyingkirkan wanita-wanita di sekitar Ferdi. Kamu terlalu lambat bergerak sayang."


"Beri aku waktu mah, tentu aja Ferdi tujuan utamaku. Mamah jangan khawatir."


Mereka tak tau ada seseorang yang tak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka sambil mengepalkan tangan.


__ADS_1


__ADS_2