Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Pernikahan


__ADS_3

Paman mendatangi kami di hotel tempat tinggalku selama di kota ini.


"Mengapa kalian merahasiakan pernikahan kalian?" tanya Paman dengan raut wajah bingung.


"Apa ibumu tidak tau Mily?"


Aku menggeleng menjawab pertanyaan paman. Kudengar beliau menghela napas kasar.


"Ada apa?"


Aku terisak, paman mendekatiku dan memelukku dari samping, mengusap bahuku, kehangatan ini membuatku teringat akan mendiang ayahku.


"Kami melalukan dosa yang tak ter maafkan paman."


Bang Ridho buka suara, nadanya awas, aku pikir dia memberi jeda agar paman mengerti setiap katanya.


"Aku sudah menodai keponakan paman dengan keadaan tidak sadar."


Kurasakan tubuh paman menegang, tapi beliau masih diam, mungkin lebih memilih mendengarkan penjelasan Bang Ridho.


"Aku harus bertanggung jawab atas kelakuanku, tapi—"


Bang Ridho menarik napas, mungkin dia memikirkan semua rencana kami ke depannya.


"Saat ini saya belum bisa memberikan status resmi pada Mily, karena saya sendiri telah berkeluarga."


Pelukan paman di punggungku mengencang, entah apa yang beliau rasakan.


"Jadi, Nak Ridho hanya akan menikahi Mily secara siri?"


"Maaf paman, saya harus bertanggung jawab akan kesehatan Mily, masalah pernikahan resmi, semoga kami bisa menyelesaikannya sambil berjalan," janji Bang Ridho yang terdengar mustahil bagiku.


Lalu? Bukankah pernikahan ini akhirnya juga percuma, karena statusku nanti bukanlah seorang janda resmi.

__ADS_1


Mendadak pernikahan ini membuatku ingin berhenti, sebab terlihat tak ada kebaikan di dalamnya.


"Kamu siapkan Mily?" tanya bang Ridho.


"Bang apa kamu yakin bisa memberi status yang jelas untukku? Aku tidak yakin Mbak Fisha mau menyetujui pernikahan ini," lirihku.


"Semoga saja jalan kita di permudah Mina, kita tidak berselingkuh, keadaan yang memaksa kita harus menikah, andai Fisha menolak ... Kamu bisa menuntutku."


Aku tau maksud Bang Ridho, jelas saja aku bisa menuntutnya, bahkan aku masih menyimpan surat visum dari Dokter pertama yang merawatku.


Dengan paman sebagai wali nikah dan saksi dari pihak hotel, akhirnya kami sah menjadi sepasang suami istri di atas kertas.


Saat menengadahkan tangan untuk berdoa, aku bingung doa apa yang harus kupanjatkan? Apa berharap pernikahan ini langgeng? Atau berharap Mbak Fisha mau menerimaku menjadi madu? Atau apa?


Sampai kulihat para lelaki sudah mengusap wajah mereka karena selesai berdoa, aku bahkan belum mengucapkan permohonan apa pun.


Kukecup punggung tangan Bang Ridho, lelaki yang sudah kuanggap saudara, kini resmi menjadi suamiku. Suami di atas kertas.


Sebelum pulang, aku juga berpesan pada paman Maryoto agar tak memberitahukan pernikahan ini pada siapa pun.


"Maafkan ke tidak mampuan paman dalam menjagamu Mily. Semoga jalan ini bisa menjadi keberkahan dalam hidupmu. Hanya ini yang bisa paman lalukan, semoga kamu selalu bahagia." Seutas doa tulus dari pamanku.


Ada sedikit gurat wajahnya yang mengingatkanku pada mendiang ayah. Mereka memang saudara kandung, jelas sekilas pasti akan terlihat mirip.


Bang Ridho menyelipkan uang pada paman. Paman sempat menolak, tapi bang Ridho memaksa. Itu dia lakukan atas dasar terima kasihnya, karena sudah mau mengerti kondisi kami.


Paman tak lagi menolak, dia hanya meminta supaya Bang Ridho bisa menjagaku. Hanya anggukan sebagai jawaban bang Ridho.


"Pulang dari sini, kamu bisa pindah kosan?" pinta Bang Ridho.


"Kenapa Bang? Aku nyaman tinggal di sana," elakku.


Meski aku tidak terlalu akrab dengan penghuni kosan lain, tapi lingkungan itu membuatku nyaman.

__ADS_1


"Abang sudah membelikan rumah untukmu, tapi belum selesai serah terimanya. Di kosan kamu, ada juga pegawai kantor lainnya, abang takut nanti kita ketahuan," jelasnya.


Memang benar apa yang Bang Ridho katakan, ada beberapa karyawan dari kantorku, meski mereka berbeda Divisi denganku, tapi aku yakin mereka mengenal Bang Ridho.


Dengan terpaksa aku mengalah dan menuruti keinginannya. "Baiklah Bang, nanti aku cari kosan baru," lirihku.


"Kamu ngga usah kuatir, abang sudah menemukannya untukmu, kamu hanya tinggal sementara di sana, paling sekitar satu bulanan saja."


Bang Ridho berkata begitu sambil mengusap kepalaku. Aku menganggapnya seperti perhatian seorang kakak, tidak lebih.


Aku memang tidak merasakan apa-apa pada Bang Ridho. Tak ada rasa cinta atau semacamnya. Mungkin otakku sudah ter reset Bang Ridho adalah kakakku.


"Kalau cuma sebentar, kenapa harus pindah Bang?"


Sungguh aku tak mengerti dengan jalan pikiran Bang Ridho, mengapa harus pindah jika aku hanya perlu menunggu satu bulan untuk menempati rumah pemberiannya?


Dia menghela napas, dia adalah lelaki yang cukup sabar menghadapi wanita, terutama aku.


"Abang harus bertanggung jawab atas pengobatanmu, saat waktu terapi, abang usahakan untuk mengantarmu, jadi ngga mungkin abang menurunkanmu di jalan bukan? Hati kecil abang menolak hal itu?" jelasnya.


Hatiku terenyuh melihat kesungguhannya dalam bertanggung jawab. Meski kata 'usahakan' nya itu memiliki arti, ada hal yang harus di korbankan nantinya.


Salah satunya mungkin dia akan berbohong dengan Mbak Fisha dengan berbagai alasan.


"Kenapa Abang memberikanku rumah Bang? Aku ngga papa jika hanya tinggal di kosan atau kontrakan, aku hanya ... Perlu status darimu untuk masa depanku."


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2