Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Terbongkar


__ADS_3

Setelah berteriak, kini Fisha tertawa dengan seringai yang sangat mengerikan.


"Aku akan hancurkan kalian semua!" ancamnya.


"Nak, sadar nak, ya ampun gusti kenapa denganmu nak," Marlina kini memeluk tubuh Fisha sambil berderai air mata.


"Sebaiknya kita bawa Fisha ke rumah sakit, agar bisa di tangani dengan baik!" usul Gunawan.


"Ngga perlu, aku baik-baik aja pah!" seketika Fisha yang tadi menangis dan tertawa tiba-tiba kembali tenang.


Wanita yang dulu terlihat sangat anggun itu kini terlihat sangat kacau.


"Kamu sebaiknya ikut pulang Do, kasihan istrimu," pinta gunawan.


Mendengar sang mertua meminta suaminya pulang, Fisha lantas berbalik dan menatap tajam pada keduanya.


"Aku ngga mengizinkan mas Ridho kembali ke rumah, itu semua milikku!" bentaknya.


"Sudah Sha, Gun sebaiknya Ridho tak perlu ikut, setelah tenang nanti kita kembali bicara," pinta Tirta yang di balas anggukan oleh Gunawan.


"Titip Fisha Mas, bagaimana pun dia masih menantu kami. Maaf jika jadi runyam begini," lirih Gunawan.


"Tak perlu basa basi! Kalian memang sengaja membuat anakku tertekan. Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Fisha, aku pasti akan menuntut kalian semua!" ancamnya.


"Sudah Bu, jangan menambah panas suasana, sebaiknya kita menangkan Fisha dulu," ajak Sakti sambil menggandeng ibunya keluar.


"Pah apa Fisha depresi?" tanya Elya khawatir.


"Mamah jangan ngomong yang macam-macam, mungkin ia hanya terkejut karena foto-foto yang Ridho miliki," jelas Gunawan.


Mily dan keluarganya masih diam terpaku, tak menyangka jika mereka bahkan mengetahui berita mengejutkan lainnya.


Tentu saja Mily mengenal Dika, dia adalah mantan kekasih Fisha, dulu Fisha pernah menceritakan mengapa hubungannya dengan Dika tiba-tiba kandas, dan akhirnya dia memilih menikah dengan anak sahabat ayahnya yaitu Ridho.


"Kamu dapat dari mana foto-foto itu Do? Apa benar kamu membuntuti Fisha?" tanya Gunawan.


Ridho diam sejenak setelah mengumpulkan semua pecahan laptop miliknya.


"Mungkin ini cara Tuhan menunjukkan pada Ridho seperti apa Fisha sebenarnya," lirih Ridho.


"Jangan berpikir seperti itu, kamu tau jika Fisha wanita yang menjunjung harga diri, tak mungkin dia melakukan hal serendah itu," elak Gunawan.


"Bisa saja pah! Toh dia kan sedang sakit hati dengan anak kita, mungkin dia berniat membalas Ridho," sungut Elya.


"Papah masih ngga percaya!" ucap Gunawan yang masih membela sang menantu.

__ADS_1


"Sebaiknya kami pamit undur diri pah, maaf sudah membuat keributan di rumah ini," sela Mily yang memilih pergi karena tak ingin ikut campur masalah keluarga suaminya.


"Pulanglah, lagian kamu mau saja di minta ke sini. Harusnya kamu jaga kandungan kamu baik-baik, bagaimana pun kamu sedang hamil," meski berkata ketus, Mily tetap merasa senang karena Elya masih memikirkan kandungannya.


"Terima kasih tante, kami pamit dulu," setelah berpamitan Mily bergegas meninggalkan rumah mertuanya.


"Tunggu!" sergah Ridho lantas berjalan mendekati istri mudanya.


"Kapan waktunya kamu kontrol?" tanya Ridho tiba-tiba.


"Emmm sepertinya lusa, kenapa Bang?"


"Abang akan menemanimu memeriksakan kandunganmu," tawarnya.


Mily sempat terkejut, tapi ia berhasil menenangkan dirinya kembali.


"Ngga usah bang udah ada ibu dan Bian, biar mereka yang menemaniku," tolak Mily.


"Aku ingin melihat perkembangannya," pinta Ridho memaksa.


"Biarkan suamimu menemanimu Mil, ngga baik menolak ajakan suami," ucap Saidah.


"Baiklah Bang, terserah abang saja kalau tidak merepotkan," balas Mily, setelah itu mereka benar-benar pergi meninggalkan kediaman orang tua Ridho.


Di kediaman Fisha Marlina tak habis pikir dengan perbuatan putrinya.


"Katakan sama ibu, sejak kapan kamu bertemu lagi dengan Dika!" bentaknya.


"Sudahlah Bu, biarkan Fisha menenangkan diri dulu, dia sudah cukup tertekan hari ini," sergah Tirta pada sang istri.


"Ngga bisa pak, kamu sudah bisa memojokkan mereka tadi, tapi dengan mudah di balik oleh Ridho! Kamu ingin kehilangan semuanya Fisha! Jawab Ibu!" masih dengan nada tinggi Marlina berbicara dengan putri yang sedari tadi mati-matian dia bela.


"Aku memang bertemu dengan Dika Bu, apa salah? Itu hanya perbuatan seseorang yang sengaja ingin menghancurkan nama baikku!" elak Fisha.


"Kamu bisa bohongi semua orang, tapi enggak dengan ibu Sha! Ibu sangat tau jika saat ini hatimu telah berpaling pada mantan kekasimu yang urakan itu!" balas Marlina sengit.


Fisha tak bisa lagi berkelit, dirinya memang kembali di butakan oleh cinta pertamanya. Jujur saja dia lebih memilih kembali bersama Dika dari pada Ridho.


Namun rasa sakit hatinya atas pengkhianatan sang suami, membuatnya gelap mata dan ingin mengamankan semuanya.


Baginya, pernikahan diam-diam Ridho dan Mily tak jauh beda dengan sebuah pengkhianatan. Apa pun alasannya.


"Tolong Bu, percaya sama Fisha, itu hanya akal-akalan mereka saja. Fisha yakin itu ulah Ridho yang ingin mengancam Fisha balik," ucap Fisha berusaha menutupi kegugupannya.


Sakti sendiri sudah pusing dengan kehidupan rumit adiknya, dalam hati dia sedikit merutuki kebodohan sang adik. Mengapa tak bisa mengalah sejenak untuk tetap menjadi pemenang.

__ADS_1


Sudah berulang kali di nasihati justru sang adik lebih memilih bercerai, Sakti sendiri menebak jika Fisha memang ingin kembali pada mantan pacarnya dahulu.


"Kita ngga bisa lama-lama di sini bu, kita memiliki usaha, dan aku punya istri dan anak yang menungguku di rumah. Apa bisa kita pulang besok?" pinta Sakti.


Tirta duduk untuk menenangkan situasi keluarganya yang terasa semakin pelik.


"Coba kalian duduk dulu tenangkan diri," pinta Tirta.


Semuanya mengikuti keinginan Tirta. Niat hati ingin istirahat segera di urungkan.


Baru mendudukkan diri, ponsel Sakti berdering, nama sang istri di ponselnya membuat ia memilih meninggalkan keluarganya.


"Ada apa Sakti?" tanya Tirta.


"Dian telepon pak, aku angkat dulu," jelasnya lantas berlalu pergi.


"Jawab bapak yang jujur. Saat kamu sering pergi dengan alasan ingin menangkan diri, apa kamu selalu bersama Dika?" tanya Tirta tajam.


Fisha sedikit gelagapan mendengar pertanyaan sang ayah. Ia tahu keluarganya tak ada yang menyetujui hubungannya dengan Dika.


Namun, Fisha ingin merajut kasih lagi dengan sang kekasih. Halangan berupa restu keluarga tampaknya akan semakin sulit ia terima.


"Pak, Fisha sudah dewasa, Fisha tau mana yang terbaik buat hidup Fisha. Bapak jangan khawatir," ucap Fisha sendu.


"Bapak tak akan mengatur hidupmu, tapi ngga kaya gini Sha, kamu masih sah istri Ridho, ngga baik kamu dekat dengan seseorang. Bapak harap kamu mengerti maksud bapak. Jangan sampai kamu salah langkah," pinta Tirta yang di balas anggukan oleh Fisha.


Setelah mengatakan hal itu, Tirta memilih beristirahat di kamarnya, sebab waktu yang sudah cukup malam dan perbincangan tadi membuat tubuhnya lelah.


"Bapak mau ke mana? Kita belum makan malam," tanya Marlina.


"Bapak capek mau istirahat saja Bu!" tolak Tirta dan melanjutkan kembali langkahnya.


"Ingat Fisha, meskipun nanti kamu bercerai dari Ridho, ibu tetap ngga akan menyetujui hubunganmu dengan Dika!" ancam Marlina lantas ikut bangkit berdiri.


Fisha menyandarkan punggungnya, dia merutuki Ridho yang sudah membongkar pertemuannya dengan kekasihnya saat ini.


"Sialan! Awas kamu Do! Aku pasti balas perbuatan kamu ini!"


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2