
Mily berpamitan pada Selomita dan juga yang lainnya saat baru saja kembali ke ruangannya.
"Kamu dari mana Mil? Dari tadi aku teleponin ponsel kamu ngga aktif?" tanya Selomita khawatir.
Perhatian Selomita tak bisa membuatnya tenang, ingin sekali dirinya bertanya mengapa gadis itu tak mengatakan apa-apa kalau dia berada di kota yang sama dengannya waktu itu
Sebenarnya Selomita ingin berbincang panjang lebar dengan Mily kemarin saat baru bertemu dengan gadis itu. Namun saat melihat perubahan yang begitu drastis dari Mily membuatnya urung untuk bercerita.
Hal itu justru di tanggapi Mily dengan aneh dan mencurigainya.
"Badanku ngga enak Mit, sebaiknya aku pulang aja, aku udah izin sama Bang Ridho," jelasnya.
Selomita ingin sekali mengantar gadis itu pulang. Mily memang pribadi yang cukup tertutup menurutnya dan sekarang gadis itu makin tambah tertutup.
Ferdi dan Husain hanya bisa saling melempar pandangan. Dua lelaki itu juga ingin mengantar teman mereka yang tampak sakit, tapi sayang pekerjaan mereka masih banyak.
Sepeninggal Mily, Selomita mengajak Husain dan Ferdi berbincang.
"Kalian sadar ngga sih kalau Mily semakin aneh? Dia kaya jaga jarak banget sama kita," ujar Selomita.
Ferdi yang masih sibuk di depan layar komputernya hanya berusaha mencerna kata-kata Selomita. Hanya Husain yang menanggapi ucapan gadis itu.
"Mungkin dia sakit parah?"
"Hah! Bener juga kata kamu Sain. Apa dia kesal karena kita ngga jenguk dia? Kan bukan salah kita, ponselnya ngga bisa di hubungi!"
Selomita benar-benar penasaran mengapa temannya itu bisa berubah sedrastis itu, pikirannya malah setuju dengan ucapan Husain yang menyangka jika Mily mengidap sakit yang serius.
"Fer, kamu tau di mana Mily tinggal?"
Ferdi yang namanya di sebut lantas menoleh dan mengangguk.
"Kira-kira, pantas ngga ya kalau kita berkunjung ke sana? Secara Mily bilang kalau itu rumah temannya."
__ADS_1
"Sebaiknya kita biarkan saja dia dulu. Bukannya Pak Ridho bilang beri Mily waktu saat dia bekerja kembali. Mungkin dia sedikit kehilangan rasa percaya diri," imbuh Ferdi.
Selomita tak setuju dengan pemikiran Ferdi, harusnya saat ini mereka memberi dukungan pada gadis itu. Meski bukan ahlinya dalam kesehatan, Selomita merasa ada yang tidak beres dengan keadaan Mily.
****
Di rumah, Mily kembali bergelung dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Kamarnya gelap gulita, bahkan sinar matahari tak mampu menembus tirai tebal di kamarnya.
Kegelapan menjadi tempat ternyaman bagi Mily saat ini. Dia merasa tenang.
Ponselnya berdering beberapa kali. Dia sebenarnya enggan sekali mengangkat telepon yang menurutnya sangat mengganggu.
Namun saat melihat nama yang tertera di sana, Mily bergegas bangkit.
"Ha ... Halo Mbak Fisha?"
"Kamu kenapa Mil? Kok gugup gitu?" tentu saja Mily selalu merasa gugup jika melihat nama Fisha di sana.
"Mbak kangen sama kamu loh, bisa ngga mbak main ke kosan kamu?"
Permintaan Fisha tentu saja membuatnya panik seketika. Otak Mily buntu sesaat, dia bahkan berjalan mondar-mandir demi memberi jawaban yang tepat untuk Fisha.
"Halo ... Halo Mil, kamu masih di sana?"
"Eh iya mbak, sekarang aku tinggal di rumah temanku mbak, gimana kalau kita bertemu di luar aja?" tawarnya.
"kamu pindah apa cuma sementara aja di sana Mil?" pertanyaan yang sama seperti yang Selomita tanyakan.
"Sementara aja mbak, aku lagi main aja," dustanya.
"Kamu ini melupakan Mbak ya! Setelah bertemu teman baru kamu bahkan sudah ngga mau main ke rumah mbak lagi," ujar Fisha sedih.
__ADS_1
Dia merasa jika Mily banyak berubah, dulu gadis itu tak banyak memiliki teman, Mily selalu menjadi tempatnya mencurahkan isi hatinya, tanpa timbal balik.
Fisha merasa bersalah, wanita itu berpikir jika Mily mulai jenuh dengan pertemanan mereka di mana Fisha tau dirinya terlalu egois.
Mily adalah pendengar terbaik, Fisha sangat merasa bersalah karena dalam berteman dia yang selalu mendominasi.
Mily terkekeh mendengar gerutuan Fisha, "Engga gitu mbak, aku cuma di minta temenin dia aja."
Dia menjauhkan teleponnya saat menghela napas, dirinya selalu di ajarkan oleh orang tuanya untuk selalu jujur, tapi kini Mily banyak sekali berbohong.
Bahkan Mily tak sanggup berbincang terlalu lama dengan ibu dan adiknya karena takut, sang ibu mengetahui kebohongannya.
Keduanya akhirnya bertemu di sebuah kafe yang menjadi favorit Fisha.
"Kamu kenapa jadi kurusan kaya gini? Apa mas Ridho memberikan pekerjaan yang berat padamu?"
"Engga kok Mbak, biasa lah lambungku lagi bermasalah," untungnya keterangan Mily dan Ridho sama, meski keduanya tidak pernah membuat perjanjian pernyataan, kalau ada yang menanyakan kabarnya.
"Oh parah banget ya, sampe harus ke rumah sakit? Aku kesel banget tau sama mas Ridho, dia yang anter kamu ke rumah sakit tapi ngga bilang sama aku kalau kamu sakit!" keluhnya.
Keringat dingin sudah membasahi telapak tangan Mily saat Fisha mengatakan jika ia tahu bahwa suami mereka membawanya ke rumah sakit.
Sama seperti Ridho Mily terkejut bagaimana Fisha bisa tau mereka pernah mengunjungi rumah sakit bersama.
"Mbak tau dari siapa aku ke rumah sakit bareng Bang Ridho?" tanya Mily takut-takut.
"Temenku," jawab Fisha santai sama seperti menjawab pertanyaan suaminya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc