
Tak mau berhenti, Fisha kembali mengunjungi perumahan Mily, sayangnya dia di hentikan di pos keamanan, sebab para penjaga memang di minta Ridho untuk melarang orang masuk ke rumah Mily sembarangan.
Terlebih lagi Fisha yang masuk dalam daftar hitam mereka.
"Maaf Bu Anda di larang memasuki perumahan ini," jelas salah satu pihak keamanan.
Tak terima di halang-halangi, Fisha lantas keluar untuk memaki para petugas itu.
"Anak saya ada di rumah itu! Kalian mau saya laporin ke pihak yang berwajib atas kasus kriminal?" bentaknya.
"Maaf Bu, ngga ada yang datang ke rumah Bu Mily, bahkan rumah Bu Mily kosong karena adik dan ibunya sudah kembali ke kampung. Bu Mily juga sepertinya sudah bekerja, jadi saya pikir Anda salah sangka," jelas petugas keamanan.
Napas Fisha naik turun mendengar penjelasan para petugas keamanan itu, dia tak mau menyerah dan menerima begitu saja penjelasan mereka.
"Saya mau bukti! Kalian bisa antar saya ke sana untuk membuktikan ucapan kalian? Setuju?" tawar Fisha.
Para petugas keamanan itu saling lempar pandangan, lalu mereka mengangguk setuju.
Jadilah Fisha di izinkan masuk dengan di iringi dua orang petugas keamanan yang mengikutinya.
Sampai di depan rumah Mily, Fisha lantas berteriak memanggil Mily dan Ridho bahkan menggoyang dengan ganas pagar rumahnya.
"Mily! Ridho! Keluar kalian!" pekiknya.
Suasana yang ramai membuat para penghuni lain turut keluar menyaksikan keributan yang di buat Fisha.
"Ibu tenang! Sudah saya katakan kalau rumah Bu Mily sepi! Tadi ibu janji ngga akan membuat keributan! Ini ibu sudah mengganggu penghuni lainnya. Jadi silakan ibu pergi dari perumahan ini!" bentak petugas yang mulai kesal dengan tingkah Fisha.
"Engga, saya yakin mereka bersembunyi di dalam, tolong dobrak pintunya, saya mohon," ucap Fisha sambil berderai air mata.
Dia yang sudah kalut lantas jatuh terduduk di depan pagar rumah Mily, masih sambil menggoyang-goyang pagar.
Dengan kesal, para petugas akhirnya memaksa Fisha kembali ke mobilnya.
"Silakan ibu pergi, percuma ibu di sini karena tak ada siapa pun di sini! Kalau ibu masih ngeyel kami akan panggil pihak yang berwajib atas tuntunan tindakan tidak menyenangkan!" ancam sang keamanan.
Merasa tak ada yang bisa ia lakukan di rumah Mily, meski dengan keadaan lemas, Fisha akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Mily.
Hatinya sangat kacau, dia masih kalut memikirkan putranya. Karena lelah, Fisha memutuskan kembali ke rumah.
"Gimana Sha? Apa Alvian ketemu?" pertanyaan bodoh Marlina.
Fisha hanya menggeleng dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Ia memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
__ADS_1
"Asih tolong bawakan teh hangat!" pinta Marlina.
Dia duduk di sebelah sang putri, menatap iba putrinya yang terlihat sangat kacau. Penampilan yang tadinya rapi kini kusut masai, bahkan matanya sangat sembab.
"Apa kita lapor pihak berwajib aja Sha?" saran Marlina.
Fisha lantas menoleh ke arah sang ibu, "atas dasar apa Bu? Alvian di bawa ayahnya sendiri, aku mau melaporkan atas dasar apa? Penculikan?" cibirnya.
Marlina mendesah, membenarkan ucapan sang putri, tak mungkin mereka melaporkan Ridho atas kasus penculikan anak mereka sendiri.
Beruntung saat ini Tirta dan Sakti sudah kembali ke kampung halaman, kalau tidak, habis mereka di marahi oleh ayah mereka.
"Kamu udah cari ke rumah Mily?"
Fisha hanya mengangguk, "di sana sepi, Uwa dan Bian udah pulang kampung," jelasnya lirih.
Marlina lantas menyeringai, "sudah kamu istirahat aja, ibu yakin Alvian pasti baik-baik aja, ngga mungkin Ridho bawa dia kabur. Besok pasti dia kerja kan? Kalau ngga di balikin paling di rumah mertuamu," ujar Marlina menenangkan.
Dengan lemah Fisha menuruti permintaan sang ibu berjalan menuju lantai dua rumahnya.
Dia butuh istirahat, kepalanya seakan mau pecah, tak bisa di bayangkan jika nanti dirinya dan anak-anaknya akan di pisahkan kalau Ridho menuntut hak asuh anak mereka.
Dalam hati dia berpikir, untuk tak melanjutkan rencananya yang ingin mengambil rumah Mily, sungguh ia takut jika nantinya Ridho akan melakukan ancamannya.
"Kalian harus merasakan sakit yang teramat sangat, seperti anakku!" monolognya.
****
Saidah yang tengah memilih sayur, bingung terhadap kelakuan para tetangganya yang menatap aneh dirinya.
"Ada apa ya Bu Ika, kenapa menatap saya begitu?" tanya Saidah yang tak tahan melihat para ibu-ibu menatap dan berbisik di sebelahnya.
"Eh Bu Idah! Nasehatin dong anaknya, udah di tolong malah nyolong suami saudara sendiri, apa ngga malu!" balas Bu Ika sengit.
"Maksud ibu apa?" tanya Saidah bingung, bukan karena tak tau arti ucapan bu Ika, dia hanya tak menyangka berita mengenai anaknya bisa sampai di telinga para tetangganya.
"Anaknya tuh di nasehatin bukan malah di biarin jadi pelakor! Ibu ngga malu banget sih! Seneng ya di kasih makan uang dari merampas hak orang lain? Pantas aja bisa renovasi rumah, duitnya dari ngangkangin suami orang," cibir Bu Ika yang di balas anggukan setuju para ibu-ibu lainnya.
"Apa hak Bu Ika berkata seperti itu? Emangnya ibu tau masalah anak saya? Jangan sok tau dan jadi kompor, emang ibu punya buktinya?" elak Saidah yang sudah menahan amarahnya.
Sebagai seorang ibu tentu saja dia tak terima anaknya di hina seperti ini, terlebih lagi mereka tak tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Halah Bu Idah ngga usah ngeles deh, kami semua punya foto-foto Mily yang lagi sama suami anaknya Bu Marlina si Fisha, ngga malu ngeles mulu!"
__ADS_1
Ucapan demi ucapan Ika dan ibu-ibu yang lain sontak membuat Saidah melemas, dia tak menyangka orang-orang akan menghakiminya, ingin membela sang putri tapi ia tak ingin aib putrinya yang korban pemerkosaan di ketahui banyak orang.
Dengan perasan sedih dan sakit hati atas ucapan para tetangganya Saidah lantas meninggalkan warung sayur.
Kepergiannya di balas sorakan dan cibiran para tetangganya.
Tak jauh beda dengan Saidah, Bian yang saat ini sedang berada di sekolah pun tak luput dari cibiran teman-temannya.
"Wih kakakmu open BO Yan? Berapa tarifnya?" cibir salah satu rekan Bian yang sejak dulu memang tak menyukainya.
"Maksud kamu apa Rik!" balas Bian sengit.
Keduanya berdiri saling berhadapan, rekan yang lain bukannya melerai malah mengompori keduanya untuk berduel.
"Hajar Yan!"
"Maksud kamu apa ngomong gitu Rik! Jawab!" pekik Bian.
"Halah emang benerkan kakak kamu itu jadi simpanan laki-laki beristri? Pantas aja kamu bisa bergaya, kakaknya simpanan cuy!" Ejek Riki dengan suara lantang.
Satu kelas ramai membalas dengan tertawa, Bian yang tak terima kakaknya di hina tanpa pikir panjang langsung menerjang Riki dan menghadiahkan bogeman pada wajahnya dengan membabi buta.
Riki pun tak mau kalah, dia juga membalas pukulan demi pukulan yang Bian layangkan.
Bukannya melerai, teman-teman sekelas mereka malah membuat lingkaran, bahkan ada yang membuat taruhan siapa di antara keduanya yang akan menang.
Sampai suara pekikan guru menghentikan mereka semua.
"Riki Bian! Kalian apa-apaan? mau jadi jagoan?" bentak guru mereka.
Riki dan Bian yang sudah babak belur hanya saling melempar pandangan sengit.
"Dia dulu yang mulai Bu!" tunjuk Riki pada Bian.
"Saya ngga akan pukul kamu kalau kamu ngga menghina kakak saya!" sungut Bian tak terima.
"Sudah berhenti, ayo kita ke ruangan kepala sekolah! Ibu akan minta wali kalian untuk datang!" sela guru mereka lantas menggiring keduanya untuk meninggalkan kelas.
.
.
.
__ADS_1
Tbc