Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Meminta Restu Suseno


__ADS_3

Setelah bertemu Ridho kini saatnya Ferdi menemui ayahnya. Sungguh semuanya dia lakukan secepat mungkin.


Meski masih terganjal keinginan Ridho, setidaknya Ferdi harus bisa meluluhkan hati sang ayah agar mau merestuinya.


Sudah lama dia tak datang ke rumah sang ayah. Sebenarnya dia ingin berbicara di kantor saja dari oada harus datang ke rumah keluarga baru ayahnya.


Dia takut bertemu adik tirinya yang menurutnya adalah seorang phsyco karwna terlalu terobsesi oadanya.


Namun sayangnya sang ayah menolak membicarakan masalah oribadi di kantor sebab dirinya masih harus menutupi identitasnya.


Jadilah ia di sini, berdiri di deoan rumah besar sang ayah.


Setelah memgetuk ointu, seorang oelayan memintanya masuk dan mengikutinya ke ruang makan.


Sang ayah memang memintanya makan malam di rumahnya sevelum nanti mereka akan berbincang.


Dalam hati dia berharao tak ada Louisa di sana, bisa kacau urusannya jika ada gadis itu.


"Ferdi," sapa Laura dang ibu tiri ramah.


Ferdi mendekat dan menerima oelukan wanita yang kini mendampingi ayahnya. Dia juga memeluk sang ayah sebagai ungkapan salam.


Belum ada Louisa di sana, Ferdi jadi bisa menghembuskan napas lega.


"Kamu kalau ngga ada oerlunya oasti sulit sekali di minta untuk datang ke sini," sidnir Laura.


"Maafkan Ferdi tante," jawabnya tanpa rasa bersalah.


Bagaimana Ferdi ingin sering berkunjung kekediaman mereka, jika setelahnya Louisa akan menempel padanya dan membuatnya jengah.


Ingin sekali dia bertanya keberadaan adik tirinya itu, bukan berharap dia hadir, hanya ingin tau saja mengapa saat makan malam belum juga muncul batang hidungnya.


"Kamu mencari Louisa?" terka Laura saat melihat anak tirinya sejak tadi melihat ke arah pintu menuju ruang makan.


"Ah engga tante," elaknya.


"Dia lagi sibuk dengan calon suaminya," lirih Laura yang seperti ingin mengeluh terlihat dari nada suaranya.


Ferdi sebenarnya tak peduli dengan kehidupan Louisa, toh tak ada untungnya juga tau bagaimana kehidupan dia.


Namun rasanya tak sopan jika tak bertanya balik. Saat tengah menimang ingin bertanya, dia urungkan, lebih baik diam saja.


Makan malam terasa lebih tenang tanpa ada Louisa di sana. Biasanya gadia itu akan cerewet sekali menawsrinya ini itu padahal sudah di tolaknya, benar-benar membuatnya risih.

__ADS_1


Selepas makan malam, Ferdi dan Suseno berbincang di halaman belakang.


Laura tak ikut menimbrung karena dia sudah di pesan oleh suaminya jika anaknya akan berbicara dengannya.


"Ada apa kamu sampai ngotot mau ketemu Papah?"


Ferdi menenangkan dirinya dengan menarik napas perlahan dan membuangnya secara perlahan sebelum berbicara pada sang ayah.


"Aku ingin menikahi seseorang," ucap Ferdi membuat Suseno menoleh sambil menurunkan kaca matanya.


"Serius? Kamu belum pernah mengenalkan gadis itu tiba-tiba mau menikah? Ngga terjadi sesuatu di antara kalian kan?" cecarnya.


Ferdi terkekeh dia tau sebagian orang tua pasti akan berpikri jika dia telah menghamili anak gadia orang jika tak ada kabar tiba-tiba dirinya meminta izin untuk menikah.


"Ngga pah, ngga perlu aku kenalkan aku yakin papah sudah kenal dengan dia," jelasnya.


"Siapa? Salah satu karyawan kantor?" tebaknya.


Ferdi mengangguk lalu kembali berucap, "lebih tepatnya mantan pegawai papah."


Suseno tengah menebak siapa gerangan mantan karyawannya yang masih lajang. Dari beberapa karyawan yang kleuar dari perusahaannya, entah karena kontrak kerja mereka habis, atau karena mengundurkan diri, tak ada yang lajang, terkecuali karyawan laki-lakinya.


Pikiran buruk Suseno langsubg mengarah pada orientasi sang putra yang dipikirnya menyimpang.


Ferdi terbelalak mendengar ucapan sang ayah lalu tertawa terbahak-bahak.


"Astaga papah! Aku masih normal, kenapa papah sampai kepikiran sampai ke sana!" ketusnya.


"Akhir-akhir ini ada beberapa karyawan yang memang keluar dari perusahaan, yang lajang hanya yang laki-laki, jelas aja papah curiga!"


"Apa mungkin kamu berselingkuh dengan istri orang?" tebaknya kembali.


Karena hanya karyawan perempuan yang sudah memiliki status menikah yang rata-rata mengundurkan diri.


Tubuh Ferdi sedikit menegang, tebakkan sang ayah memang benar, ada rasa khawtir bagaimana dengan pendapat sang ayah kelak.


Meski dengan percaya diri, Ferdi akan tetap mempertahankan keinginannya menikahi Mily meski sang ayah akan menolak nantinya.


Ferdi mendesah, "aku ingin menikahi Mily pah," ujarnya tak ingin menutupinya lagi.


"Mily? Istri sirinya Ridho? Gila kamu!" pekik Suseno.


Lelaki paruh baya itu tak habis pikir dengan keinginan putranya menikahi istri dari karyawannya sendiri.

__ADS_1


"Kalau kamu butuh istri, papah siap mencarikan kamu wanita dari kalangan kita, bukan wanita bekas istri karyawan papah Ferdi!" sentaknya.


"Aku ngga butuh orang lain pah, aku menyukai Mily dan hanya dia yang aku inginkan."


Suasana mendadak tegang mendengar perdebatan kedua laki-laki yang wajahnya nyaris serupa itu.


"Aku hanya ingin memberitahu itu saja pada papah. Aku berharap papah mau merestui kami, kalau pun ngga, yang penting aku udah ngasih tau papah," kekehnya.


Suseno menghela napas mendengar keinginan sang putra yang sangat keras kepala menurutnya.


"Kamu akan menggantikan posisi papah Fer, kamu tau sendiri kejamnya dunia kita, ada saja celah yang bisa menjatuhkan kamu, apalagi kalau pasanganmu seperti Mily," jelasnya.


"Ridho paham masud papah, tapi Ferdi tetap pada keputusan Ferdi, tolong hargai keputusan Ferdi pah," pintanya tulus.


"Kamu pikirkan baik-baik Fer, banyak celah dari Mily yang bisa membuatnya menjadi sasaran tembak para pesaing kita. Kamu ngga kasihan sama dia?"


Suseno berusha menggoyahkan niat sang putra, dia tak berbohong jika dunia persaingan bisnis sangat kejam, bahkan kehidupan pribadi pun bisa menjadi senjata mereka untuk menaklukan lawan.


"Ferdi sudah katakan kalau Ferdi tau semua konsekuensinya. Sebelum ke sini tentu papah tau aku bukan orang yang akan membuat keputusan secara singkat."


Padahal keputusan untuk menikahi Mily diputuskannya tanpa pikir panjang. Namun karena dia orang yang selalu teguh memegang ucapannya, jadi dia berusaha membuktikannya.


Di balik pintu, tenryata Laura mendengarkan percakapan keduanya. Wanita itu mendesah pasrah. Bohong jika dia tak berminat pada Ferdi untuk menjadi menantunya.


Dia yang selalu berusaha agar putrinya bisa bersatu dengan anak tirinya ternyata harus menelan kekecewaan, karena Ferdi sudah memiliki tambatan hati.


Laura memnag tak terlalu menyukai calon suami putrinya yang dia anggap hanya menunoang hidup pada putrinya.


Sayangnya putrinya yang bodoh itu amat sangat tergila-gila dengan tunangannya.


Berbagai cara Laura lakukan agar keduanya berpisah, sayangnya seperri dulu Louisa belum mau melepas lekaki itu karena masih sangat menyukainya.


Sama seperti memeperlakukan mainannya, Louisa akan membuangnya jika sudah bosan.


Namun saat ini dirinya berkejaran dengan waktu, dia tetsp ingin sang putri berjodoh dengan anak tirinya.


Sudah biasa di kalangan mereka menikahkan anaknya dengan orang-orang terdekat.


Toh mereka tak memiliki hubungan darah, oleh sebab itu Laura merasa tak masalah jika mereka menikah.


Dia ingin lelaki yang baik mendapmpingi putrinya. Meski saat ini Luoisa masih menyukai tunangannya, ia yakin putrinya itu tak akan tinggal diam mendengar jika Ferdi akan menikahi wanita lain.


Hari senin penuh dengan semangat ya guys, untuk menemani kalian, aku juga mau kasih tau novel keren karya author hebat lainnya, salah satunya Karya Autho DTYAS, yang judulnya cinta aku menyerah, penuh haru biru pastinya🥰

__ADS_1



__ADS_2