
Ayah tengah berpikir mengenai musibah yang aku alami. Setelah mamah keluar, kami melanjutkan perbincangan kami.
"Kenapa kamu merasa di jebak? Yakin itu bukan karena kekhilafanmu saja Do?"
"Pah, Ridho udah ngumpulin bukti. Kamar itu jelas bukan kamar Ridho dan orang yang nolongin Ridho bawa Ridho ke kamar itu, yang sialnya lagi ada Mily di sana. Ridho juga yakin ada yang mencampur sesuatu ke minuman Ridho, soalnya Ridho seperti hilang kendali," jelasku.
"Memang saat kamu mabuk, kamu sama siapa?"
"Awalnya bareng Ferdi dan Husain pah, ngga lama Ferdi pergi, Husain sendiri juga terkapar saat itu."
Papah menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, "apa mungkin Husain yang melalukannya?"
"Maksud papah? Husain memasukkan obat perangsang ke minuman aku gitu?"
"Mungkin, soalnya cuma dia kan yang terakhir bersama kamu?"
Aku juga berpikir seperti itu sebelumnya, tapi melihat gelagat Husain yang tampak seperti biasa saja, tuduhanku padanya sedikit berkurang, meski aku tetap membidiknya.
"Bisa juga Ferdi, tapi bukannya dia pergi duluan ya," monolog papah.
Semuanya bisa, Ferdi juga bisa saja kembali dan mencampur minumanku kala Husain sibuk dengan wanita-wanita penghibur di sana.
Bukankah aku pernah meninggalkan meja untuk pergi ke toilet? Saat kembali aku melihat Husain tengah menari di lantai dansa.
Ah, kepalaku rasanya mau meledak. Bahkan Mily yang terlihat depresi seperti itu saja masih menjadi target utama.
Apa mungkin awalnya Mily hanya ingin membuat seolah-olah kami melakukan hubungan, lalu akan membuat ancaman padaku kelak, tapi ia tak menyangka jika ternyata aku benar-benar menggagahinya?
__ADS_1
Untuk apa juga ia melakukan hal seperti itu, Mily lumayan manis, beberapa karyawan laki-laki juga sering mendekatinya.
Aku bingung dengan motif orang yang melalukan hal keji seperti ini.
"Memang sebaiknya kamu menyelidikinya. Jangan sampai kamu menuduh orang tanpa bukti, kita ngga tau siapa yang tengah bermain-main dengan kamu," ujar papah.
Aku setuju, jelas tak mungkin aku menuduh seseorang tanpa bukti yang kuat, meski perasaan curiga sekarang mendominasi pertemananku pada mereka.
"Kamu serius akan menikahi Mily?"
"Iya pah, aku takut Mily akan melaporkanku ke pihak yang berwajib. Setidaknya aku memberi alasan kalau hal itu bukan atas kesadaran, lalu aku membujuknya agar suatu saat dia memiliki status yang jelas."
"Kalau kamu mau memberinya status yang jelas, berarti harus menikahinya secara resmi dengan persetujuan Fisha. Apa itu mungkin?"
Aku menggeleng, "nanti aku pikirkan caranya. Yang penting saat ini Mily tak melaporkanku pah. Aku juga harus bertanggung jawab akan kesehatan mentalnya."
Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan papah, "dia bahkan menolak karena takut menyakiti hati Fisha. Bagaimana pun mereka dekat."
Entah mungkin sekedar sandiwara atau apa, Mily memang seolah enggan menerima ajakkanku untuk menikah. Aku juga masih menunggu jawabannya.
Jika nanti dia menolak, aku harus pastikan jika ia tak akan menyeretku ke pihak yang berwajib.
"Kamu memang harus bertanggung jawab. Satu yang kamu harus ingat, serapat apa pun kamu menutupi bangkai, suatu saat akan tercium juga. Kamu harus menyiapkan diri andai suatu saat Fisha tau kejadian ini."
Ini yang aku takutkan, pertanyaan yang belakangan ini mengusikku. Bagaimana jika istriku tau akan pernikahan diam-diam ini? Aku takut ia meninggalkanku.
Papah menepuk punggungku, "maafkan Papah kalau saat ini papah tidak bisa banyak membantu, tapi papah akan dukung keputusanmu. Kita akan sama-sama menyelesaikan masalah ini."
__ADS_1
"Menikahlah, tapi papah dan mamah ngga mungkin ikut menghadiri. Ini cara papah membantumu menutupinya dari Fisha. Papah harap kamu bisa menyelesaikannya sebelum semuanya menjadi rumit."
Tentu saja aku tak berharap kedua orang tuaku akan datang ke acara pernikahan keduaku nanti. Pernikahan itu bukan sesuatu yang patut di banggakan. Aku melakukannya juga karena terpaksa.
Aku seorang laki-laki yang di ajarkan untuk selalu bisa bertanggung jawab. Dan inilah aku, meski masa depanku tampak semakin tak menentu aku harus melangkah untuk melewatinya.
****
Mily setuju dengan lamaranku. Hari ini juga aku berniat menikahinya. Kami bertandang ke rumah pamannya yang sangat sederhana.
Paman Maryoto menyambut dengan ekspresi senang bercampur bingung, sedangkan bibi Lika layaknya seorang wanita pada umumnya, dia terlalu heboh menyambut kami.
Aku sangat senang saat paman Maryoto bisa mengerti keinginanku untuk berbicara serius tanpa harus melibatkan istrinya.
Paman Maryoto juga tak banyak bicara saat di hotel tempat aku dan Mily melaksanakan pernikahan sederhana kami.
Lelaki paruh baya itu tak bisa menutupi raut kecewanya karena pernikahan ini di lakukan dengan sembunyi-sembunyi.
Namun ia hanya bisa pasrah, dia menitipkan Mily padaku. Dia yang meminta maaf pada Mily, seharusnya dia yang menjaga Mily selepas kepergian kakaknya yaitu ayah Mily.
.
.
.
Tbc
__ADS_1