
Sambil menunggu jam buka klub malam itu aku memutuskan untuk menjenguk Mily di rumah sakit.
Kali ini dia tak memintaku pergi saat melihatku masuk ke ruangannya. Aku memang sudah membayar seorang perawat pribadi untuk menemaninya.
Kubawakan buah dan makanan ringan untuk perawat yang menjaga Mily.
"Gimana keadaannya Sus?"
"Beliau masih banyak melamun pak, dia sepertinya depresi," jelas suster Lili.
Kuhela napas, Mily, benarkah kamu depresi? Meski keadaanmu sangat meyakinkan, tapi entah kenapa kecurigaan terhadapmu tak mau enyah juga.
Setelah memastikan keadaan Mily, baik-baik saja, aku bergegas pergi ke kafe tak jauh dari klub malam itu.
Kutatap beberapa orang yang memasuki tempat hiburan itu, sepertinya mereka para pekerja.
Bahkan ada seseorang yang datang mengendarai mobil mewah dengan di ikuti orang-orang berbadan besar dengan wajah sangarnya. Mungkin itu adalah pemilik tempat itu.
Saat sudah waktunya buka, aku bergegas ikut mengantre. Tempat ini belum waktunya buka saja sudah banyak yang mengantre.
Tepat waktunya giliranku masuk, aku sengaja berdiri di hadapan keamanan yang berjaga di sana.
"Mengapa bapak berhenti?" tanyanya setelah mengembalikan kartu identitasku.
"Maaf, boleh saya bertemu dengan pemilik atau pengelola tempat ini?" tanyaku berusaha tenang.
Tatapan mereka sangat sinis, meski aku tidak melalukan kesalahan, tetapi tatapan itu tetap membuatku sedikit bergidik.
Orang-orang seperti mereka yang bekerja di tempat hiburan malam seperti ini kebanyakan sangat kasar.
Ingatanku kembali pada malam kemarin, di mana ada pengunjung yang mabuk dan membuat keonaran di tarik paksa oleh mereka.
"Ada apa Anda mau bertemu dengan Bos kami?"
"Saya ada perlu saja."
"Kalau tujuan Anda tidak jelas seperti ini, saya tidak bisa membantu Anda menemui Bos kami. Beliau bukan orang sembarangan yang mau menemui orang dengan mudah," ucapnya sangat ketus.
__ADS_1
Baiklah, tak ada cara lain agar aku bisa menemui pemilik klub ini, terpaksa aku harus menceritakan kejadian malam kemarin.
"Kemarin aku mabuk—"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku dia sudah kembali memotong ucapanku.
"Kalau ada barang-barang Anda yang hilang, itu bukan tanggung jawab kami! Semua sudah ada di peraturan klub ini," dengusnya.
Astaga, andai aku tidak terlalu takut dengan tubuh besar mereka, ingin sekali aku membentak. Namun aku tau orang-orang seperti mereka akan sangat senang dengan keributan.
"Bukan itu, saya hanya ingin berterima kasih pada orang yang mengantar saya pulang semalam. Sayangnya saya ngga tau siapa orang itu," dustaku.
Meski pihak keamanan hotel berkata jika orang yang memapahku mengaku sebagai seorang sopir Taxi, tapi aku penasaran siapa yang memesannya.
"Yang penting Anda selamat, dan tidak ada barang-barang yang hilang kan? Sebaiknya Anda bersyukur saja, tidak perlu repot-repot menemui Bos kami hanya untuk sekedar berterima kasih."
Bertemu dengan pemilik tempat seperti ini ternyata sangat sulit. Aku kehabisan akal untuk menemuinya.
"Jadi Anda mau masuk ke dalam atau tidak?" tanyanya yang mulai tak sabar.
"Iya. Terima kasih," ujarku sambil tersenyum tapi tak menerima balasan serupa.
Sebaiknya aku duduk saja di depan meja bartender, siapa tau dia masih mengingatku.
"Mau minum apa mas?" tawarnya.
"Mas masih ingat saya?"
Dia sedang mengocok minuman sambil berpikir dan menatapku intens.
"Masnya kenal Husain?" tanyaku mencoba membuatnya ingat akan diriku.
"Oh iya kalian kemarin datang bersama, mau pesanan yang sama?" tawarnya lagi.
Kapok karena minuman kemarin menjadi awal semua petaka, aku memilih memesan soda saja. Meski dia terkekeh dengan pesananku, tapi tepat di layani.
"Mas ingat kemarin kami berdua tepar karena mabuk berat," ucapku berusaha mengorek informasi darinya.
__ADS_1
"Ah iya, kalian merepotkan sekali," meski ucapannya santai tapi aku tau dia sedang menyindir kami.
"Apa kamu yang memesankan Taxi Online untuk kami?"
Sepertinya tak perlu harus bertemu dengan pemilik klub kalau aku bisa mengorek informasi dari bartender ini.
"Tadinya mau aku pesankan saat para penjaga ingin melempar kalian keluar," ucapnya sambil tertawa.
Aku bergidik membayangkan jika para penjaga yang bertubuh besar dan sangar itu menyeret dan melemparkan kami karena mabuk semalam, untung saja itu tak terjadi.
"Berarti kamu ngga jadi memesankan Taxi untuk kami?"
Dia menggeleng, lalu meninggalkanku lagi saat ada seseorang yang kembali memesan minuman, sebagai seorang pelayan dia tak mungkin mengacuhkan pelanggan demi berbincang denganku.
Kutunggu dengan sabar saat obrolan kami terjeda oleh beberapa pengunjung yang memesan minuman racikannya.
Setelah kembali lenggang, aku kembali mendekatinya, berpindah kursi agar bisa berada di hadapannya lagi.
"Jadi siapa orang yang mengantar kami?"
"Aku ngga tau, dia bilang dia teman kalian berdua," jelasnya.
Kurogoh saku celana untuk mengeluarkan ponsel milikku yang menyimpan wajah dari orang yang membawaku ke hotel.
"Apa ini orangnya?"
Bartender itu melihat secara saksama, gambar dari kamera pengawas memang sedikit buram, jadi saat di perbesar gambarnya semakin tidak terlihat jelas.
"Sepertinya bukan,"
Dan, aku kembali menemui kebuntuan, bahuku meluruh. Siapa orang yang mengaku menjadi temanku itu.
.
.
.
__ADS_1
Tbc