Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Kegigihan Ferdi


__ADS_3

Ferdi membuktikan keseriusannya, setelah kembali dari kampung halaman Mily, dia segera memberitahu keinginannya itu pada sang ibu.


Setelah makan malam, Ferdi mengajak sang ibu duduk di teras halaman belakang rumah ibunya.


"Kamu ceritain Fer, ada apa dengan Mily dan keluarganya, mereka baik-baik aja bukan?"


"Mereka baik mah. Ada yang mau Ferdi omongin ke mamah dan ini cukup serius," ujar Ferdi sambil menatap ke arah sang ibu.


"Ada apa? Kamu buat mamah takut plus penasaran deh!" keluhnya.


Ferdi menarik napas, lalu menggenggam tangan Melisa. "Aku ingin menikahi Mily mah," ucapnya yakin.


Mata Melisa membola, tak menyangka sepulangnya sang anak untuk menemui karyawannya malah berakhir ingin menikahi gadis itu.


"Me ... Menikah? Kamu bercanda? Dia istri orang! Lagi pula saat ini dia sedang hamil!" ketusnya lantas menarik tangannya.


Ferdi menghela napas, ia tau tak mungkin begitu saja sang ibu akan menyetujui keinginannya, dia harus bersabar.


Sayangnya Ferdi tak tau jika Saidah dan Mily sendiri sudah menyiapkan diri untuk pergi di kemudian hari.


"Ferdi tau Mah, tapi mamah harus tau, Ferdi menyukai Mily sejak dulu, meski terlambat, Ferdi tak menyesal, mungkin inilah jalan takdir kami," ucapnya lembut.


"Apa tujuanmu menikahinya? Apa terjadi sesuatu di sana hingga tiba-tiba kamu bicara seperti ini?" cerca Melisa.


"Ngga ada apa-apa Mah, Ferdi tulus menyayangi Mily meski keadaannya begitu, kasihan dia selalu menjadi sasaran dendam Fisha dan keluarganya," ungkap Ferdi akhirnya.


"Ceritakan dulu apa yang terjadi dengan dia Fer, baru mamah bisa mengerti dengan keinginanmu itu," pinta Melisa.


Akhirnya Ferdi menceritakan masalah yang ia tahu, tapi dari kejadian kemarin, Ferdi menangkap bahwa keluarga Fisha terutama ibunya lah yang masih tak terima dengan kondisi rumah tangganya anaknya yang di ambang kehancuran.


"Seorang ibu akan lebih sakit kalau anaknya di sakiti, jadi mamah ngga bisa menyalahkan rasa sakit ibunya Fisha, meski menyayangkan kelakuannya."


"Tapi untuk menyetujui rencana kamu, mamah ngga bisa setuju gitu aja, kamu tau keluarga kita, terutama keluarga ayah kamu berasal dari keluarga terpandang. Bagaimana jadinya kalau kamu menikahi seorang gadis yang hamil dari laki-laki lain?" jelasnya.


"Belum lagi, teman-teman mamah yang juga temannya Fisha itu sudah tau siapa Mily, mau taruh di mana muka mamah Fer?"


"Mamah tau keadaan gadis itu, tapi tetap aja, ngga semua orang mau mengerti hal itu, mamah malah takut malah nanti dia di kucilkan," ungkap Melisa panjang lebar.


Ferdi tau apa yang di khawatirkan sang ibu bukanlah hal sepele, tapi ia tetap pada pendiriannya. Ia akan meminang Mily dan membuat gadis itu bahagia.


"Menikah bukan untuk memikirkan omongan orang mah, bukankah yang penting aku bahagia? Mamah doa kan saja yang terbaik bagi kami dengan restu mamah," kekehnya.

__ADS_1


Melisa menghela napas, dia tau seperti apa putranya, kalau sudah berkehendak maka akan dia buktikan ucapannya.


"Apa kamu berani meminta izin pada papahmu?" cibir Melisa yang berharap sang putra akan goyah dengan pendiriannya.


Melisa memang merasa iba dengan nasib Mily, tapi bukan karena itu lantas ia harus mengorbankan masa depan putranya.


Terlebih lagi, sang putra harus merawat anak yang bukan darah dagingnya. Hati sang putra yang lembut terkadang membuat Melisa kesal.


Seperti saat ini, putranya malah ingin membahagiakan orang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri, meski berkata atas nama rasa sayang.


.


.


Hari ini sidang lanjutan perceraian Fisha dan Ridho. Keduanya datang dengan pengacara masing-masing.


Jika dulu Ridho tak memerlukan pengacara, kali ini ia mengikuti nasehat ayahnya untuk bisa membantu proses perceraiannya.


Bukan untuk menggugat harta gono gini atau hak asuh anak, dia hanya ingin Fisha tak meminta nafkah yang sangat besar seperti permintaannya tempo hari.


Fisha mendengus saat melihat Ridho membawa serta pengacara. Dalam benaknya Ridho ingin mempersulit dirinya, begitulah Fisha selalu berpikiran buruk tentang semua hal yang di lalukan oleh suaminya saat ini.


Sidang kali ini adalah membacakan keputusan kedua belah pihak. Sayangnya dari pihak Ridho menyatakan keberatan tentang permintaan istrinya.


"Maaf yang mulia, kemarin pak Ridho sudah menyetujui semua permintaan klien kami," sela Dimas yang masih berusaha membela Fisha.


"Saya tidak bilang setuju dengan tunjangan yang istri saya minta!" elak Ridho.


Di pengadilan ada Marlina dan juga kedua orang tua Ridho. Mereka memutuskan untuk melihat bagaimana akhir dari perceraian keduanya.


"Nominal yang di minta oleh saudari tergugat adalah uang tunjangan sebesar dua puluh juta untuk kedua anak kalian, apa pak Ridho keberatan?" tanya ketua Hakim.


"Ridho mengangguk, itu lebih dari separuh penghasilan saya pak, saya merasa keberatan," ujarnya.


"Cih duit buat makan anaknya aja perhitungan sekali!" cibir Marlina kesal.


Elya lalu menoleh ke arah besannya, dia sangat geram dengan ucapan Marlina.


"Yang benar aja, gaji Ridho hanya tiga puluh juta, dia masih memberikan lima juta pada kami, lalu lima juta hanya untuk dirinya sendiri? Dia punya istri dan anak lain yang harus dia nafkahi. Lagi pula itu nafkah untuk kedua anak Ridho, bukan untuk mantan istrinya dan calon suaminya kelak!" balas Elya geram.


"Dengar ya Elya, akhirnya kamu mengakui menantu kamu yang lain itu kan? Dulu terkesan menolak, akhirnya terbongkar juga kan maksud kalian!" cibir Melisa.

__ADS_1


"Harap tenang, kalau kalian berdebat dan membuat gaduh di ruang persidangan lebih baik keluar!" ancam Ketua Hakim.


"Wajar jika anakku meminta nafkah sebesar itu pada anakmu, karena dia yang membawa anak-anaknya!" ucap Melisa pelan, meski masih di dengar yang lainnya.


"Baik sidang akan di lanjutkan minggu depan setelah kedua belah pihak sudah menemui kesepakatan."


Ketukan palu tiga kali menutup persidangan kali ini yang kembali alot.


"Kita harus bicara mas," ajak Fisha.


"Ok, sekarang?"


"Iya sekarang saja, sekalian dengan pengacara kita untuk mencari kesepakatan," jelasnya.


Ridho mengangguk dan mengikuti Fisha, Marlina dan pengacaranya. Mereka kembali menuju restoran yang tak jauh dari pengadilan.


Kedua orang tua Ridho memilih untuk kembali dan mengikuti saja jalannya persidangan, dia yakin sang putra dan pengacaranya mampu menangani masalah ini.


Elya sebenarnya ingin ikut sebab dia yakin besannya akan kembali memojokkan putranya, tapi di larang oleh sang suami.


Kini mereka berlima duduk di sebuah ruang pribadi yang di sewa oleh Fisha.


Dimas dan Fisha sudah menebak jika Ridho akan keberatan tentang masalah nafkah, sebab kemarin laki-laki itu juga meninggalkan pembicaraan mereka begitu saja.


"Kamu keberatan tentang nafkah itu mas?" Fisha membuka suara.


"Iya, kamu tau betul berapa gajiku. Sekarang ada seseorang yang juga harus aku nafkahi, oleh sebab itu aku menolak keputusanmu," balas Ridho datar.


Fisha tersenyum miris, mungkin ia di anggap serakah, dan memang benar ia takut Mily akan menikmati hasil mantan suaminya yang harusnya menjadi hak anak-anaknya.


"Sepertinya kamu sudah ngga peduli dengan nasib anak-anak ya Mas?" cibirnya.


"Ngga usah mengalihkan perbincangan, apa perlu aku mengingatkan kembali? Semua jadi milikmu, jadi tak usah mengada-ngada."


"Kembali ke pembahasan awal, aku menolak permintaanmu tentang nafkah dua puluh juta. Aku akan memberi nafkah sepuluh juta, semua akan bertambah seiring berjalannya waktu."


"Aku bukan orang yang tak tau tentang kebutuhan! Kamu paham kan maksudku?"


Fisha membuang muka kesal, ia tau seperti apa Ridho, jika dia menekannya saat ini, ia yakin Ridho akan melancarkan ancamannya dan dia harus merelakan sebagian asetnya untuk di bagi dua.


"Baiklah, aku pegang ucapanmu, jika suatu saat kebutuhan mereka bertambah, maka jangan mengelak untuk menambah jatah mereka!" putusnya.

__ADS_1


Nunggu aku up ya, sambil nunggu aku bawain novel lagi nih, novel seru karya Author SANTI SUKI yang judulnya BIDADARI YANG DI ABAIKAN wajib masuk list kalian loh, jangan lupa mampir ya🥰🙏



__ADS_2