Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Pembuat Onar


__ADS_3

Baru saja Ridho akan menangkan diri, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tertera nama bi Imah di sana.


Wanita paruh baya yang bekerja di kediaman istri keduanya itu tak pernah sekalipun menelepon dirinya. Pasti ada hal yang darurat hingga Imah sampai meneleponnya.


"Halo Bi ada apa?"


"APA! Astaga, mengapa dia selalu mencari masalah!" ketus Ridho menahan amarah.


Setelah tau Mily di rawat di rumah sakit mana, Ridho bergegas mendatanginya hingga lupa memberitahu istrinya.


Di dalam mobil, Ridho sangat kesal dengan ulah Mily yang lagi-lagi melakukan sesuatu yang selalu membahayakan nyawanya.


Masalah dalam keluarganya belum juga usai, kini ia harus di hadapkan pada keadaan Mily, yang juga membutuhkan perhatiannya. Kepala Ridho rasanya mau meledak.


Sesampainya di rumah sakit, dia terkejut melihat Imah dan Ferdi yang sedang duduk di depan ruangan istri keduanya.


Yang membuat Ridho mengernyit heran, wajah Ferdi tampak masam. Tak ada sapaan apa pun padanya seperti yang biasa di lakukan oleh rekan sekaligus bawahannya itu.


Tanpa memedulikan tatapan Ferdi yang masam, Ridho betanya mengenai keadaan Mily.


"Bagaimana keadaan Mily Bi?"


"Mbak Mily belum sadar pak, bayinya baik-baik aja," jelas Bi Imah lirih.


Ridho meninggalkan keduanya dan masuk menemui istri keduanya yang lagi-lagi ingin mengakhiri hidupnya dengan menyayat pergelangan tangannya.


"Kenapa pikiran kamu selalu tertuju pada kematian? Apa kamu ngga memikirkan bagaimana nasib ibu dan adikmu seandainya kamu mati dalam keadaan seperti itu!" monolognya.


Ridho tak merasa bersalah karena keadaan Mily, justru laki-laki itu yang menyalahkan Mily karena mental istri keduanya di nilai sangat lemah, yang apa-apa selalu mencari jalan pintas.


Setelah berbicara sendiri, dia memilih keluar dari ruangan sang istri dan menemui Ferdi yang ia yakin menuntut penjelasannya.


"Aku yakin ada yang ingin kamu tanyakan. Sebaiknya kita ke kantin rumah sakit saja," ajak Ridho.


Ferdi tak menyahut. Namun bangkit berdiri mengikuti ajakan atasannya itu. Ia hanya ingin tau mengapa keadaan Mily bisa sampai mengenaskan seperti sekarang.


"Bi, titip Mily ya, hubungi saya kalau dia sudah sadar."


Imah hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamar sang majikan.


Ridho dan Ferdi berjalan dalam diam. Ridho juga ingin bertanya pada Ferdi mengapa laki-laki itu bisa ada di sana.


Setelah mencari tempat duduk yang lumayan nyaman untuk berbincang, Ridho membuka percakapan dengan ucapan terima kasihnya.


"Aku berterima kasih karena aku yakin kamu yang menyelamatkan Mily."

__ADS_1


Ridho tau jika Ferdi yang menyelamatkan Mily, sebab kemeja biru muda lelaki itu banyak terdapat noda darah yang pasti milik istrinya.


Yang membuatnya penasaran, mengapa bisa Ferdi menyelamatkan istri keduanya.


"Anda penasaran Pak bagaimana bisa saya menyelamatkan istri kedua Anda?" ucapan Ferdi penuh dengan penekanan, seolah tengah mencibirnya.


Ridho tau saat ini Ferdi pasti tengah memperoloknya.


"Ucapan kamu seperti tengah menyindirku. Kamu tidak tau apa yang terjadi, tapi seolah tau segalanya dan kamu bersikap menghakimi!" dengus Ridho.


Tau ucapan Ridho benar, Ferdi berusaha menenangkan diri agar tak menyesal karena ikut campur urusan atasannya itu.


Ia sendiri juga bingung mengapa harus marah pada Ridho. Meski Ridho tak ingin menjelaskan apa pun padanya juga itu hak dia.


"Maafkan aku Pak, sungguh, melihat Mily seperti itu membuatku khawatir."


Kini Ferdi bisa mengontrol nada bicaranya. Dia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, jadi dia tidak akan berpikir macam-macam ke depannya kelak.


"Kamu belum jawab pertanyaan kamu sendiri, bagaimana kamu bisa menyelamatkan Mily?"


"Aku ngga sengaja bertemu kalian di restoran. Saat itu aku mengikuti Mily yang tampak kacau setelah kalian tinggalkan."


Ferdi menghela napas sejenak, lalu melanjutkan kembali ceritanya. "Saya menunggu di depan rumahnya. Saya juga ngga tau kenapa saya lakukan itu," jelasnya.


Ridho menghela napas mendengar permintaan Ferdi. Tentu saja lebih baik seperti Ferdi yang meski terkesan ingin tahu kehidupan pribadinya, tapi hanya agar dia tidak salah paham dan mencap dirinya seolah manusia paling hina.


Dia pun menjelaskan semua yang terjadi hingga semuanya berakhir seperti sekarang.


Ferdi tentu terkejut mendengar kenyataan jika malam nahas itu terjadi tepat setelah dia pergi meninggalkan mereka.


Ada rasa bersalah di diri Ferdi, andai saja saat itu dia masih bergabung dengan Ridho, mungkin saja hal seperti itu tak akan terjadi.


"Maaf Fer, aku sendiri sebenarnya mencurigaimu sebagai dalang penyebab mengapa aku berakhir di kamar yang bahkan bukan milikku."


Ferdi terperangah mendengar ucapan atasannya yang mencurigai dirinya.


"Tapi sungguh aku ngga ngelakuin itu pak, bahkan kalau pak Ridho butuh bukti untuk menguatkan ucapan saya, saya bisa buktikan."


"Benarkah bapak merasa di jebak? Itu bukan murni karena kekhilafan bapak saja?" Ferdi bukan maksud menuduh Ridho, dia berpikir realistis jika saat itu atasannya sedang dalam keadaan mabuk dan mungkin melakukan tindakan asusila itu tanpa sadar.


"Kalau aku mabuk, harusnya keamanan hotel mengantarku ke kamar milikku sendiri Fer. Tapi orang yang mengantarku malah memberikan kartu akses kamar lain," jelas Ridho.


Meski Ferdi berani mengatakan jika bukan dia yang melakukan hal keji itu, tapi Ridho belum sepenuhnya percaya.


"Saya akan bantu bapak buat membuktikan kalau saya tidak terlibat. Apa selama ini bapak ada musuh?"

__ADS_1


Ridho menggeleng, dia sedang berpikir haruskan ia menerima bantuan Ferdi?


"Bapak masih belum yakin terhadap saya?" tebak Ferdi.


"Sudah dua bulan lamanya aku mengumpulkan bukti tapi semuanya buntu. Hanya nama yang memesan hotel yang mungkin bisa jadi petunjuk kuat, tapi pihak hotel bersikukuh tak mau memberitahu jika bukan pihak berwajib yang meminta."


"Kalau seperti itu berarti aku harus melaporkan kejadian nahas itu ke pihak yang berwajib."


"Seharusnya tidak apa-apa pak, bukankah bapak merasa di jebak?"


"Berarti itu akan menyeret namaku karena melakukan kekerasan sek*sual pada Mily! Itu juga termasuk tindakan kriminal," sela Ridho.


Saat ini Ferdi sendiri bingung dengan cerita Ridho. Dia hanya bisa menerka jika Ridho hanya takut berurusan dengan hukum demi nama baiknya sendiri, sedangkan untuk Mily, tak ada keadilan apa pun untuk gadis itu.


Malang sekali nasibmu Mil, lirih Ferdi dalam hati.


Ferdi bertekad akan membantu Mily, ia yakin dalam hal ini Mily lah yang akan di salahkan, dia jadi merasa bersalah kepada gadis malang itu.


Maafkan aku Mily, aku berjanji akan melindungimu.


Ridho memilih kembali ke ruangan Mily untuk berpamitan pulang, sedangkan Ferdi mampir ke toilet sebelum ia juga akan berpamitan pada Mily.


Mily masih belum sadar saat mereka akan berpamitan, jadilah mereka hanya bisa melihat gadis yang dulunya ceria kini tampak pucat dengan kondisi mengenaskan.


"Saya harap Pak Ridho bisa menjaga Mily dengan baik pak, meski terasa sulit tapi saya hanya mampu mendoakan kalian yang terbaik."


Mereka kembali berbincang sambil berjalanll menuju parkiran. Tepat saat itu Fisha datang bersama anak mereka.


"Bun, ada apa dengan Alma?” tanya Ridho yang berlari mendekati ketiganya.


Fisha memandang sinis sang suami setelah dia berhasil meletakan sang putri di ranjang ruang UGD. Setelah Dokter menanganinya Fisha mendekati sang suami dan menamparnya.


Ferdi yang melihat kepanikan keduanya tak jadi kembali malah mengikuti atasannya.


"Kamu memang breng*sek! Baru tadi kamu bersumpah hanya ada kami di hatimu, tapi apa? Aku ngga tau apa yang terjadi, tapi kamu pergi begitu aja!" ucap Fisha marah.


"Aku dan anak-anak akan meninggalkanmu!" ancamnya kemudian.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2