
Kali ini Ferdi tak sungkan lagi mendekati Mily, dia ingin wanita itu tau jika ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya kala itu.
"Aku akan menemui Pak Ridho untuk mengutarakan maksudku," ucap Ferdi di tengah makan siangnya.
Sekarang, setiap istirahat dia akan mendatangi restoran miliknya dan makan di sana untuk sekedar bertemu Mily.
Mily terkekeh mendengar kegigihan laki-laki di hadapannya ini.
"Apa kamu sudah bicara dengan mamahmu Fer?"
Kali ini Mily tak sungkan kembali memanggil nama Ferdi tanpa embel-embel 'pak' seperti pertama kali bekerja di restoran milik laki-laki itu.
"Aku sudah bicara dengan mamah, tinggal dengan papah dan Ridho," jelasnya.
"Lalu apa tanggapan Bu Melisa? Apa dia setuju dengan keinginanmu?"
Bukan berharap mendapatkan restu dari keluarga Ferdi. Bahkan Mily belum menjawab lamaran Ferdi tempo hari.
Dia tak mau berharap banyak, dia hanya penasaran bagaimana tanggapan orang tua Ferdi atas keinginan laki-laki itu.
"Aku akan tetap menikahimu kalau kamu mau menerimaku, semua akan kita lalui bersama Mil," ucap Ferdi yakin.
Mily tetap tersenyum, dia sangat paham apa maksud ucapan lelaki yang menjabat sebagai bosnya juga.
"Hubungan tanpa restu keluarga itu sangat berat Fer, aku sudah cukup bersyukur ibu mau menerimaku. Aku ngga akan paksa keluargamu untuk menerimaku. Lebih baik seperti ini bukan?" rayu Mily mencoba menggoyahkan keinginan Ferdi.
"Apa itu artinya kamu menolakku?" tanya Ferdi gusar.
Kepercayaan diri lelaki tampan itu runtuh saat mendengar jawaban Mily. Sepertinya usahanya tak bisa meyakinkan Mily jika ia sangat bersungguh-sungguh dengan niatnya.
"Aku belum memiliki perasaan padamu Fer, jujur aku nyaman setelah mengenalmu lebih dekat. Tapi aku yakin itu hanya perasaan sebagai seorang teman. Aku tak pernah memiliki teman yang mengerti keadaanku dan kamu memberikan kenyamanan itu padaku," tukas Mily.
"Hanya sebagai teman? Baiklah, aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku," ujarnya mantap.
Keduanya lantas tertawa bersama, menikmati kedekatan yang sedang mereka jalani, tanpa status apa pun selain teman.
.
.
Demi membuktikan keseriusannya, hari ini bahkan Ferdi bersiap menemui Ridho. Berbicara antar lelaki, begitu pikirnya.
Ridho tak mencurigai apa pun tentang ajakan Ferdi saat makan siang hari ini.
Obrolan di sela makan pun terlihat santai, meski begitu hati Ferdi begitu miris, sebab tak ada pembahasan apa pun tentangnya oleh lelaki yang bergelar suami Mily itu.
Dalam hati Ferdi bertanya, apa Mily tak menceritakan masalahnya kepada Ridho, hingga sudah lewat beberapa hari dari masalah yang mereka alami, laki-laki itu tampak biasa saja.
Akhirnya mau tak mau Ferdi memancing atasannya itu dengan bertanya masalah Mily kemarin.
__ADS_1
"Ada apa dengan Mily kemarin Pak?" pancingnya.
Saat ini mereka tengah menikmati es kopi sebagai penutup makan siang mereka.
"Seperti yang aku bilang kemarin, dia hanya merindukan keluarganya," ujarnya santai.
Ferdi menggeleng miris, terlihat sekali Ridho sangat tak memedulikan nasib Mily.
"Ada yang mau saya bicarakan dengan Bapak. Saya harap Bapak bisa memikirkannya nanti," ucap Ferdi yang tak ingin berbasa-basi.
"Ada apa? Kelihatan serius sekali Fer?" jawab Ridho heran.
"Bolehkah saya menikahi Mily?"
Ridho yang tadi tengah menyeruput minumannya, terbatuk karena terkejut dengan ucapan Ferdi.
"Menikah? Kamu tau dia itu istriku kan Fer? Meski siri dia tetap istriku," jelas Ridho tak percaya.
"Iya saya tau pak, bahkan saat ini dia sedang mengandung anak bapak," jawabnya tenang.
Ridho terperangah tak percaya, bahkan di benaknya sedang bertanya-tanya apa yang membuat laki-laki itu ingin menikahi istri sirinya.
"Apa terjadi sesuatu di antara kalian, hingga kamu berpikir ingin menikahinya?"
Ferdi tersenyum, "saya ingin melindunginya dan membahagiakannya, sudah cukup dia menderita selama ini."
"Tidak, selain rasa itu saya juga sudah sejak lama menyukainya."
Ridho tersenyum, "kamu harus pastikan rasa kamu pada Mily itu apa Fer, jika hanya rasa kasihan, sebaiknya jangan. Bukan aku melarangmu menikahinya, hanya saja seperti yang kamu tau dia sudah cukup menderita."
"Aku tau selama ini aku berbuat tidak adil padanya, tapi itu memang sudah kesepakatan kami, jika kami tak akan memiliki hubungan selayaknya suami istri meski kami menikah."
"Kamu pasti berpikir jika aku seperti tak peduli padanya. Mungkin benar, karena kami tak pernah menghabiskan waktu bersama. Hubungan kami hanya sebatas tanggung jawabku saja pada keadaannya dan anak kami."
Ridho menghela napas, "aku tetap harus menikahi Mily secara negara, agar anak kami bisa memiliki status yang jelas. Selama itu mau kah kamu bersabar?"
"Saya pastikan anak itu akan memiliki nama ayah di akta lahirnya," kekeh Ferdi.
Ridho tertawa dengan kegigihan Ferdi meski bukan pada tempatnya.
"Dia anakku Fer, meski dia hadir karena kesalahanku, aku ingin namaku yang ada di identitas miliknya. Aku yakin kamu paham itu," jelas Ridho tenang.
Ferdi terlalu menggebu-gebu ingin segera merajut sebuah keluarga bersama Mily, hingga dia lupa jika Ridho lebih berhak pada nasib anak yang Mily kandung.
Rintangan yang di hadapi oleh Ferdi menghadapi Ridho cukup sulit. Mampukah ia menunggu Ridho berpisah dengan Mily?
Yang di takutkan Ferdi adalah bagaimana setelah pernikahan mereka sah, keduanya akan merajut rumah tangga yang sesungguhnya.
.
__ADS_1
.
Di sebuah mall ternama, Fisha tengah menghabiskan waktu bersama kekasihnya Dika.
Fisha memutuskan untuk kembali merajut kasih dengan mantan kekasihnya. Dia tak menutupi lagi hatinya yang kini sudah berpaling dari suaminya.
Meski nanti keluarganya akan menolak keputusannya, Fisha tak ambil pusing saat ini.
Melihat keberhasilan Dika, Fisha yakin dia bisa meyakinkan orang tuanya agar menyetujui hubungannya dengan sang kekasih kelak.
"Bagaimana kelanjutan perceraian kalian?" tanya Dika.
"Tinggal menunggu keputusan hakim aja Dik, aku malas berdebat masalah nafkah, jadinya aku biarkan saja dia dengan permintaan awalku," jelas Fisha.
"Kenapa? Kamu tahu kebutuhan kedua anakmu pasti besar, aku baru merintis usahaku Sha, ngga mungkin mencukupi kebutuhan mereka semua!" dengusnya.
Fisha terkesiap mendengar ucapan Dika. Dika yang menyadari ucapan yang bisa membuat Fisha salah paham akhirnya melanjutkan ucapannya.
"Maaf Sha, bukan maksud aku begitu. Hanya saja, jika nanti kita menikah, aku takut ngga bisa memenuhi kebutuhan anak-anakmu," kilahnya.
Fisha tersenyum, dia tau Dika tak bermaksud menolak anak-anaknya. Dia juga tau Dika baru saja merintis usahanya, jadi tak mungkin kehidupannya dan anak-anaknya kelak harus di tanggung olehnya.
"Ngga papa aku ngerti kok, kamu tenang aja, Mas Ridho janji kalau suatu saat kebutuhan bertambah, dia pasti akan menambah nafkah untuk anak-anak."
Ada sepasang mata yang menatap keduanya dengan sorot mata terluka. Ridho yang kebetulan sedang menemani sang ibu berbelanja di Mall yang sama, begitu terluka mendapati istrinya bersama dengan laki-laki lain.
"Apa ini yang buat kamu kekeh mau bercerai denganku Bun?"
Pertanyaan Ridho membuat Fisha dan Dika menoleh, terkejut tentu saja, tapi Fisha bisa segera menenangkan dirinya.
"Ngga perlu kamu campuri urusanku Mas, hubungan kita selesai. Mau siapa aku di kemudian hari itu urusanku!" ketusnya.
"Do!" panggil Elya lalu mendekati ketiganya.
"Astaga Fisha, belum bercerai saja kamu sudah berani jalan sama laki-laki lain?" sindirnya.
Fisha yang tiba-tiba di pojokkan seperti itu tentu saja tak terima. Dia bangkit berdiri hendak menghadapi mertuanya.
Dika yang melihat akan terjadi perselisihan lantas menengahi keduanya.
"Udah Sha, malu di liatin orang. Ayo kita pergi!" ajaknya lantas menggandeng tangan Fisha pergi dari hadapan Ridho yang terluka dengan kenyataan di hadapannya.
Ridho hanya menatap miris wanita yang masih di cintainya. Pikirannya berkecamuk, apa dia harus merelakan Fisha agar bisa bahagia dengan orang lain?
Sungguh Ridho tidak ikhlas melepas begitu saja ibu dari anak-anaknya itu.
Hari minggu kalian di rumah aja? Nyari bacaan menarik? Aku bawain lagi nih novel seru karya Author CHACHA SHYLA yang judulnya CHASING MY WIFE'S LOST LOVE, mampir ya 🥰🙏
__ADS_1