
Setelah menerima pesan dari Ferdi, Mily mengirim pesan pada sang suami untuk bertemu dengan Ferdi, dan Ridho mengizinkannya.
Hati Ridho menghangat, meski tak ada cinta untuk istri keduanya, tapi perlakuan Mily yang menghormatinya sebagai suami, tak urung membuatnya senang.
Waktu menunjukkan saatnya pulang kerja, Mily menunggu Ferdi di restoran tempat mereka berjanji untuk bertemu.
"Maaf Mil, kamu udah nunggu lama?" ujar Ferdi tak enak hati.
"Ngga papa Fer, kamu sepertinya sangat sibuk," kekeh Mily melihat penampilan lelaki itu yang tampak kusut.
Mily tidak tau jika Ferdi sedang bersiap menggantikan posisi ayahnya, Suseno, untuk menududuki jabatan tertinggi di perusahaannya.
Tak ada yang tau kalau Ferdi adalah putra kandung Suseno, sebab Ferdi dan Suseno sengaja melakukan hal itu untuk membuat Ferdi nyaman bekerja dari bawah.
Hanya orang kepercayaan sang ayah yang tau siapa Ferdi sebenarnya.
"Biasalah akhir bulan," jelas Ferdi.
"Benarkah Bang Ridho menemuimu?" tanya Mily senang.
Ferdi tertawa melihat raut wajah bahagia Mily yang sudah lama hilang dari wanita itu.
"Iya, suamimu menyetujuinya dengan beberapa syarat. Berhubung besok libur, aku akan mengenalkanmu sama mamahku dan restoran tempatmu bekerja mau?" tawarnya.
Mily mengangguk semangat, "makasih ya Fer, aku ngga tau mau bekerja di mana dengan keadaanku sekarang. Aku janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh," ucap Mily yakin.
"Aku tunggu itu," balas Ferdi lalu keduanya menikmati hidangan sambil berbincang ringan.
"Bagus ya, udah merebut suami orang, sekarang lagi merayu laki-laki lain!" pekik suara seorang wanita yang menginterupsi perbincangan Mily dan Ferdi.
"Mbak Fisha, Bude?" lirih Mily terkejut.
Fisha mendekati keduanya dan menatap sinis pada Mily, "Bagus banget kamu, ternyata begini kelakuan kamu di belakang Ridho Mil?" ejeknya.
"Maaf Bu Fisha sepertinya Anda salah paham," jelas Ferdi yang berusaha membela Mily.
"Kamu tau kan Fer, kalau perempuan ini yang merusak rumah tanggaku!" sentak Fisha.
"Maaf Bu Fisha, itu adalah masalah rumah tangga kalian, tolong jangan bahas di depan umum seperti ini. Ini sangat memalukan. Lagi pula pertemuan ini sudah atas sepengetahuan Pak Ridho."
"Mbak Fisha boleh menghina saya, tapi saya mohon di sini ada Ferdi yang bisa rusak nama baiknya karena kesalahpahaman Mbak Fisha, bisakah Mbak Fisha ngga berpikiran buruk?" pinta Mily.
"Aku itu udah pasti berpikiran buruk sama kamu, siapa tau setelah ngga dapet apa-apa seperti tujuanmu, saat ini kamu tengah mencari mangsa lain?" tuduhan Fisha benar-benar melukai harga diri Mily.
__ADS_1
"Bu Fisha, sepertinya ucapan Anda sudah sangat keterlaluan. Saya ngga menyangka Anda akan berubah seperti ini," ucap Ferdi tajam.
Fisha mendengus lalu menatap Ferdi yang berdiri di hadapannya. Dengan arogan sambil melipat kedua tangannya di dada Fisha menatap mata Ferdi.
Ferdi tau ada luka di tatapan itu, tapi ia menyayangkan mengapa Fisha tak bisa bersikap tenang, tanpa harus mempermalukan diri sendiri seperti ini.
"Kamu ngga tau rasanya di khianati oleh orang-orang yang kamu sayangi. Jadi sebaiknya kamu tutup mulutmu dan menjauhlah dari Medusa seperti dia!" ucap Fisha tajam sambil menunjuk wajah Mily.
Marlina hanya melihat anaknya mempermalukan Mily tanpa ingin ikut campur, ia sangat senang mendengar para pengunjung restoran berkasak-kusuk di belakang.
Marlina lalu menoleh ke arah segerombolan ibu-ibu yang paling banyak membicarakan pertikaian anaknya dan mily.
"Perempuan itu merusak rumah tangga anak saya, dan sekarang malah ke temuan sama laki-laki lain setelah tau kalau anak saya akan merebut semua harta gono gini," jelas Marlina tak penting.
Ibu-ibu itu hanya mengangguk saja, salah satunya ikut mencibir kelakuan buruk Mily dengan suara yang cukup keras.
Marlina tersenyum puas saat melihat banyak pengunjung menghina keponakan dari suaminya itu.
"Sebaiknya kita pergi saja Mil," ajak Ferdi lantas menggandeng tangan Mily.
Fisha tak menghalangi langkah keduanya. Mily hanya bisa pasrah lalu berjalan dengan menunduk meninggalkan restoran di mana para pengunjung masih menyindirnya.
Di dalam mobil Ferdi, Mily tak kuasa menahan air matanya, dia begitu merasa terhina, tapi lidahnya kelu tak berani menjawab.
"Akj ngga menyangka kalau Bu Fisha bisa berbuat anarkis seperti itu," ucap Ferdi kesal.
"Maaf Fer, sebaiknya aku pulang dengan mobilku," tukas Mily.
"Kamu ke sini in kunci mobilnya, biar nanti aku minta orang mengantar ke rumahmu. Aku ngga mau terjadi apa-apa kalau kamu menyetir sendiri," tolak Ferdi yang melarang Mily kembali seorang diri.
Di dalam restoran, Fisha masih di sana, sebab kedatangannya ke restoran itu untuk bertemu dengan pengacara usai dirinya memasukkan gugatan perceraiannya ke pengadilan.
"Mily itu emang kegenitan banget ya! Ngga tau diri banget!" sungut Marlina kesal.
"Sudahlah Bu, biarkan saja, liat saja bagaimana malunya dia tadi. Memang enak sudah merusak rumah tangga orang!"
Tak lama orang yang ia tunggu tiba. Seorang laki-laki yang terlihat masih cukup muda.
"Bu Fisha?" tanya lelaki tersebut.
"Iya saya, Anda siapa?"
"Saya Dimas, pengacara dari kantor hukum Pak Raharjo," ujar Dimas memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Oh iya, silakan duduk Pak," pinta Fisha.
Dimas duduk di hadapan Fisha lalu mengeluarkan beberapa berkas dalam tasnya.
"Ibu sudah mendaftarkan gugatannya?"
"Sudah, sidang pertamanya minggu depan," balas Fisha.
"Maaf kalau boleh tau apa saja yang menjadi penyebab perceraian? Lalu apa tuntutan Bu Fisha?"
Mengalirlah cerita Fisha, Dimas hanya mengangguk mendengarkan sambil menulis sesuatu pada kertas.
"Baiklah Bu Fisha semuanya sudah saya catat apa saja yang menjadi gugatan, persidangan pertama kami akan mulai mendampingi ibu," jawab Dimas sembari membereskan kertas di atas meja.
"Pak Dimas, boleh saya tanya sesuatu? Apa harta yang di berikan suami saya pada istri keduanya itu bisa saya gugat?"
"Bisa Bu, itu adalah harta bersama yang di hasilkan dalam pernikahan kalian, justru nanti suami ibu yang rugi karena bisa juga di tuntut oleh istri keduanya tentang nafkah."
"Kira-kira ibu tau harta apa saja yang di berikan suami ibu?" tanya Dimas serius.
Memang dalam perkara ini, Dimas tau harta yang di berikan suami pada selingkuhan atau istri keduanya bisa di gugat, setelah pembagian berhasil barulah terserah pasangan masing-masing menggunakan untuk apa dengan harta mereka.
"Begini pak, rumah yang saat ini di tempati oleh istri kedua suami saya adalah pemberian mertua saya, bisa di bilang warisan mertua saya. Apa saya bisa menggugatnya?" tanya Fisha penuh harap.
"Itu bukan hasil dari uang simpanan kalian?"
Fisha menggeleng lemah, dirinya yakin akan sangat sulit mengambil rumah itu.
"Maaf Bu Fisha, hanya harta yang di hasilkan bersama yang bisa di tuntut, untuk masalah itu, akan sangat sulit di tangani bahkan mustahil," jelas Fisha.
"Apa ngga bisa di buat seolah rumah itu memang harta bersama agar bisa di tuntut?" sela Marlina yang juga tak ingin Mily menikmati rumah pemberian besannya.
"Mereka pasti akan memberikan bukti yang nanti justru akan merugikan kita Bu kalau seandainya mereka menuntut balik."
"Saya rasa Pak Ridho sudah mengikhlaskan harta kalian untuk Bu Fisha semua, sepertinya tak perlu di perpanjang lagi," tutur Dimas memberi nasihat.
Dari cerita kliennya, Dimas tau jika Fisha sangat terluka dan ingin mengambil semuanya tanpa sisa. Namun sebagai pengacara tentu saja Dimas harus memberikan saran-saran yang baik bagi kliennya.
"Masalah nafkah untuk anak-anak kalau bisa minta yang sebesar-besarnya!" sergah Marlina.
Tentu saja Marlina dan Fisha tak ingin Fisha menikmati penghasilan Ridho karena mereka merasa jika anak-anaknya yang lebih berhak.
"Nanti kita bicarakan dengan pak Ridho atau pengacaranya," jawab Dimas lugas tak mau memberi harapan tinggi pada Fisha.
__ADS_1