Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Kedatangan Mertua


__ADS_3

Pagi hari, Ridho mengawali harinya seperti biasa, dia menyiapkan segalanya sendiri. Tak ada lagi Fisha yang akan menyiapkan baju kerjanya lagi.


Ridho mendatangi kamar sang istri untuk mengambil keperluan kerjanya.


"Bun ..." panggilnya.


Sampai tiga kali ketukan tak kunjung di jawab oleh Fisha. Saat hendak memutar knop pintu Fisha datang dari arah belakangnya.


"Mau apa kamu Mas?" tanya Fisha sengit.


Ridho berbalik dan menatap sang istri yang mengenakan pakaian senamnya. Lekuk tubuh sang istri yang tercetak sempurna akibat pakaian ketat itu membuat sisi lelaki Ridho bergejolak.


Sudah sangat lama mereka tak memadu kasih, jelas saja Ridho memiliki hasrat saat melihatnya, dia berpikir sepertinya Fisha tengah menatangnya.


Tubuh Fisha yang masih terawat meski telah memiliki dua anak tak di ungkiri Ridho memiliki daya pikat yang luar biasa.


"Kondisikan matamu Mas!" sindir Fisha yang jengah melihat tatapan penuh hasrat suaminya itu.


Fisha tidak bodoh dengan tatapan suaminya itu. Dulu dirinya akan dengan senang hati melemparkan diri pada suaminya. Namun kini, ia bahkan enggan melihat wajah suaminya apalagi di sentuh.


Merasa ucapan sang istrinya seperti sebuah penolakan, Ridho hanya bisa menahan hasrat yang sudah lama tak tersalurkan.


"Ayah mau mengambil pakaian kerja Bun," ujarnya.


"Tunggu di sini, nanti aku ambilkan! Jangan coba-coba masuk," ancamnya.


Ridho hanya mengangguk dan memilih berjalan ke arah sofa yang berada di depan kamar mereka.


Ridho hanya meminta pakaian kerjanya, tapi sang istri malah memberikan dia koper besar yang berisi pakaiannya.


"Kenapa semuanya Bun?" tanya Ridho linglung.


"Toh kamu harus pergi sekarang juga, jadi sekalian aku bereskan saja pakaianmu. Harusnya kamu berterima kasih!" dengus Fisha.


"Kamu benar-benar telah berubah Bun," ujar Ridho sambil menggeleng, tapi tetap menerima koper miliknya.


"Basi mas, ngga usah bahas aku yang berubah!" elak Fisha jengah setelah itu dia memilih masuk ke kamarnya lagi untuk membersihkan diri.


Ridho merapikan penampilannya sebelum berangkat kerja. Dia mendatangi anak-anaknya di meja makan, terlihat putra sulungnya tengah makan di suapi oleh Asih dan putri bungsunya di suapi oleh Firda.


"Alvian, hari ini enggak sekolah?" tanya Ridho lembut.

__ADS_1


Bocah berumur enam tahun itu menggeleng, "ayah lihat mainan Vian! Bagus kan?"


"Ayah mau ke mana?" tanya Alvian saat melihat koper besar yang berada tak jauh dari ayahnya.


"Ayah mau ke luar kota lagi?" meski masih kecil, Alvian masih ingat pekerjaan sang ayah yang kadang mengharuskan ayahnya ke luar kota.


Ridho yang bingung menjawab pertanyaan sang putra lalu mendekat dan duduk di sebelahnya.


"Iya, ayah pergi dulu ya, Vian jaga Alma sama bunda ya," lirih Ridho.


Hatinya begitu sakit saat harus berpisah dengan anak-anaknya. Rumah tangga yang dulu sangat harmonis sekejap mata sudah hancur lebur. Entah siapa yang harus di salahkan, pikir Ridho.


Setelah puas bercengkerama dengan putra putrinya, Ridho bangkit berdiri hendak keluar rumah untuk bekerja sekaligus meninggalkan rumahnya.


Dia berpapasan dengan istri yang juga terlihat sudah rapi. Penampilan Fisha semakin terlihat lebih glamor sekarang.


"Kamu mau ke mana Bun?" tanya Ridho tepat saat keduanya saling berhadapan.


"Bukannya aku udah bilang? Hari ini aku akan ke pengadilan!" balas Fisha tegas.


Ridho hanya bisa tersenyum pasrah, setelah itu dia berbalik berniat meninggalkan rumah sang istri.


Percuma dia mengatakan apa pun untuk bisa mempertahankan rumah tangganya, ia yakin saat ini sang istri pasti masih kekeh dengan keputusannya, yaitu berpisah.


"Bapak Ibu? Mas Sakti?" sapa Ridho lantas mendekati mereka untuk bersalaman.


Hanya Ayah mertua serta kakak iparnya yang menyambut uluran tangannya, sedangkan ibu mertuanya menepis secara kasar tangan Ridho.


"Bu!" kecam Tirta tak senang dengan sikap istrinya.


"Kenapa? Ibu memang sakit hati dengan dia? Jadi ngga usahlah bersikap manis pada ibu!" sergahnya.


"Kamu mau ke mana Do?" tanya Tirta.


"Bapak Ibu? Mas Sakti?" pekik Fisha lantas berhambur memeluk ibunya.


"Kamu baik-baik aja Nak?" ujar Marlina penuh dengan drama.


Ucapan wanita paruh baya itu seolah-olah sang putri telah mendapatkan kekerasan dari Ridho.


"Apa maksud ibu tanya kaya gitu? Emangnya Fisha akan di apakan sama Ridho? Jangan lebay Bu!" sergah Tirta merasa malu atas ucapan istrinya.

__ADS_1


"Bapak aja yang pikirannya sempit, jelas ibu tanya apa dia baik-baik aja, fisik Fisha mungkin baik-baik aja, tapi batinnya bagaimana? Jangan lupakan itu!" balasnya sengit.


"Pak Bu, Mas Sakti, ayo masuk dulu istirahat, pasti kalian lelah!" ajak Fisha sambil menggandeng sang ibu dan tak memedulikan Ridho yang masih berada di teras rumah mereka.


"Kamu belum jawab pertanyaan bapak Do. Kamu mau ke mana?" tanya Tirta yang masih berhadapan dengan menantunya itu.


"Mau ke rumah istri mudanya kali Pak, sudah biarkan saja dia pergi, bikin sakit mata saja!" sinis Marlina yang juga memilih berhenti saat mendengar sang suami berbicara dengan menantunya itu.


"Astaga Bu'e kamu mending masuk dan istirahat saja dulu. Bapak ingin berbicara dengan Ridho!" pinta Tirta tegas.


"Ngga bisa, kalau kalian mau bicara harus sama ibu! Sekarang mending kamu pergi saja Do. Nanti setelah kami istirahat kami akan menghubungimu untuk menemui kami," usir Marlina.


Tak ingin keadaan bertambah panas, Ridho memilih mengalah. Dia tau ibu mertuanya sedang tak dalam kondisi yang tenang saat ini.


"Ridho berangkat kerja dulu ya Pak, mas Sakti. Nanti pulang kerja Ridho datang menemui kalian," janji Ridho.


Sakti dan Tirta hanya mengangguk membiarkan Ridho pergi tanpa menjawab pertanyaan mereka tadi.


Setelah sampai ruang tamu, Tirta dan Sakti memilih duduk sejenak untuk mengistirahatkan diri.


"Pak-Mas kamarnya udah Fisha siapkan, sebaiknya bapak dan mas Sakti istirahat terlebih dahulu," pinta Fisha.


"Kamu sudah rapi apa mau bekerja juga Sha?" tanya Tirta.


Fisha menghela napas sebelum ikut bergabung dengan bapak dan kakaknya.


"Fisha mau ke pengadilan agama Pak, mau mendaftarkan gugatan perceraian," jelas Fisha.


"Bisa ngga kamu tunda dulu? Kami baru sampai ke sini dan ingin meluruskan masalah ini, setelah pertemuan semua keluarga, silakan lakukan apa yang menurutmu terbaik. Bisakah bapak meminta itu?" tanya Tirta lembut.


Fisha menggusar, ia sebenarnya sudah ingin sekali segera menggugat sang suami. Namun saat melihat kedatangan keluarganya, tak mungkin ia buru-buru melakukan keinginannya itu.


"Baik pak, kebetulan juga Fisha ingin menemui mertua Fisha. Nanti kita bertemu di sana pak," saran Fisha.


"Ya sudah kalau itu mau kamu. Kita memang harus mendengarkan semuanya dari semua pihak, sebelum kamu mengambil sebuah keputusan," pinta Tirta.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2