
Ridho
Hari nahas itu telah menghancurkan semuanya. Aku sendiri bingung mengapa bisa berakhir seperti ini.
Malam itu ...
"Ke klub yuk! Mumpung di sini ngilangin penat dikit," ajak Husain yang memang baru datang sore tadi bersama Selomita untuk mengurus proyek lain.
Mereka tau aku bahkan sudah tak pernah lagi menginjakkan kaki di tempat hiburan malam seperti itu semenjak kehamilan Fisha yang ke dua.
Aku memang bukan peminum, hanya saja terkadang klien mengundang kami ke tempat seperti itu. Tak bisa menolak sebab kami juga memerlukan mereka, terpaksa sering aku setujui, meski aku jarang meminum-minuman beralkohol itu.
"Selomita ke mana? Minta aja dia ke kamar si Mily, pasti seneng tuh anak," pintaku.
Dua wanita itu memang sangat akrab di kantor, aku yakin Mily akan senang dengan kedatangan Selomita.
"Kita nginep di hotel Montana, dia juga pasti lagi istirahat, besok pasti ketemu juga," jawab Husain.
Benar juga, mereka baru menempuh perjalanan darat kurang lebih tiga jam lamanya, pasti sangat lelah.
"Ayo buruan, malah bengong!" paksa Husain.
Aku memang atasan mereka di kantor, mereka semua sangat profesional dalam bekerja. Saat di kantor mereka akan memanggilku 'Pak' tapi jika di luar jam kantor aku meminta mereka bersikap santai padaku.
Kalau Ferdi lain ceritanya, meski telah lama mengenal, dia tetap memanggilku Pak meski di luar jam kantor. Mungkin karena aku lebih lama kenal dengan Husain dari pada dia.
Memang dulunya aku juga hanya karyawan biasa seperti Husain, keberuntungan meliputiku saat tak lama menikah dengan Fisha.
Istriku itu memang membawa keberuntungan, karierku melonjak naik, kehidupanku bahkan berubah semakin lebih baik.
"Gimana Fer?" tanyaku pada lelaki tampan yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
Dia menengadah menatap kami bergantian. "Aku ngga bisa lama-lama Pak, ada urusan lain soalnya, ngga papa?"
Tanpa banyak kata Husain merangkul bahu kami berdua, memaksa kami mengikuti kemauannya.
Temanku yang bertubuh sedikit gempal ini memang sangat suka dengan dunia malam seperti ini, makanya kariernya masih mentok di staf biasa.
Kebiasaan buruknya yang suka mabuk, sering membuatnya lupa akan pekerjaan kantor.
Riuh suara musik memekakkan telinga sudah terdengar, bahkan bau alkohol sangat menusuk hidung. Para wanita berpakaian seksi berseliweran di depan meja kami.
Hanya mata Husain yang tampak tergiur dengan kemolekan tubuh para wanita yang sengaja mengobral dirinya.
"Astaga! Makanya kawin! Kapan kawinnya kalau masih suka liat yang begituan kamu Sain!" cibirku.
"Cih! Kawin sering boss yang belum nikahnya," balasnya yang membuat kami terkekeh.
"Hei kenapa sih? Kamu kelihatan sibuk banget Fer?" tanyaku pada Ferdi yang masih saja sibuk dengan ponselnya tanpa terpengaruh dengan suasana bising di sekitar kami.
Laki-laki itu memang sedikit misterius, dia tidak pernah terbuka dengan kehidupan pribadinya.
Namun dia membuatku sedikit takjub kala kami berkunjung ke apartemennya. Yang bisa kutebak, Ferdi bukan dari keluarga biasa seperti aku dulu. Sepertinya dia memang lahir dari keluarga berada.
Husain mengatakan untuk membiarkan Ferdi pergi, sebab terlihat sekali jika ada sesuatu yang serius sedang terjadi padanya.
Obrolan kami mengalir begitu saja, banyak wanita silih berganti mendatangi kami, hanya Husain yang memilih salah satu dari mereka.
Dan lihatlah, aku pusing melihat kelakuan Husain yang saat ini tengah memangku seorang wanita sambil saring bertukar gelas.
"Aku ke toilet dulu ya," ucapku sebab panggilan alam tak bisa di abaikan.
Aku memang memesan minuman dengan kadar alkohol sedikit, tapi entah kenapa saat meminumnya lama-kelamaan kepalaku terasa berdenyut nyeri, bahkan hawa panas menjalar ke seluruh tubuh.
__ADS_1
Husain mabuk parah, kulihat dia sudah ambruk di meja kami dan sendirian.
Pandanganku juga semakin kabur saja, aku berusaha membangunkan Husain untuk bisa pulang. Namun sayang, tenagaku kalah karena rasa mabuk ini mengganggu kesadaranku.
Hingga aku tak tau lagi, kurasa aku pingsan di klub. Namun yang aneh, mengapa tiba-tiba aku berada di kamar hotel dengan tanpa busana?
Aku sendirian, tak ada siap pun di sana. Saat kubuka selimut, betapa terkejutnya aku saat ada bercak darah di sana.
Astaga, sepertinya aku telah merenggut kehormatan seorang gadis.
Tapi siapa?
Kuedarkan pandangan mencari petunjuk. Dan di sana, di atas meja di depan ranjang ini ada sebuah tas dan beberapa kertas seperti berkas.
Tunggu! Aku seperti mengenali tas itu. Ya Tuhan apa yang bersamaku malam tadi Mily?
Sial! Bagaimana bisa aku menghabiskan malam panas pada gadis itu.
Kujambak rambut kasar. Berusaha menenangkan diri, aku memilih ke kamar mandi. Potongan-potongan ingatan malam tadi sangat samar.
Aku hanya merasa ada seseorang yang memapahku, tapi siapa aku tak tau.
Kupukuli kepalaku dengan keras, berusaha mengingat kejadian sial semalam. Satu yang harus kulakukan saat ini, mencari Mily terlebih dahulu
.
.
.
Tbc
__ADS_1