
Ferdi memenuhi janjinya untuk mengajak sang adik tiri makan siang. Louisa bahkan bersikap berlebihan dengan selalu bergelayut di lengan Ferdi.
Laki-laki tampan itu ingin sekali melempar Louisa jika ia tidak sedang memerlukan bantuan gadis itu.
"Ini sangat memalukan! Tidak bisakah kamu bersikap biasa saja Loui?" pinta Ferdi geram.
"Oh ayolah Ferdi, kamu harusnya menuruti apa pun mauku saat ini. Jangan terlalu kejam padaku," balas Louisa yang membuat Ferdi menahan gerahamnya.
Mereka duduk di sebuah ruang VIP restoran. Bahkan ada seorang pemain biola di sana, Ferdi tersenyum geli saat melihat ruangan itu seperti sengaja di desain untuk sebuah acara makan siang romantis.
Ia tahu semua ulah Louisa yang masih saja berharap padanya.
"Ingatlah kalau saat ini kamu sudah memiliki tunangan!" sergah Ferdi.
Meski Ferdi sendiri tidak mengetahui siapa laki-laki yang bakal menjadi calon adik iparnya itu. Karena memang ia tak peduli dengan kehidupan Louisa.
"Aku bahkan bisa membuangnya kalau kamu mau kembali sama aku," ucap Louisa malu-malu.
"Kambali? Itu seperti sebuah ungkapan jika dulu kita pernah bersama. Aku tidak pernah memiliki hubungan apa pun denganmu!" cibirnya.
Louisa mendesis, tak ingin suasana romantisnya terganggu dengan segala ucapan kasar Ferdi, dia meminta pelayan menuangkan Wine pada gelas mereka.
"Oh ayolah, Loui, ini makan siang! Aku masih harus bekerja," tolak Ferdi tegas.
"Aku heran denganmu Fer, kamu adalah calon pewaris perusahaan ayah, mengapa kamu mau saja bekerja sebagai staf biasa."
"Itu bukan urusanmu. Sekarang aku ingin menagih janjimu yang akan membantuku! Kalau tidak, lebih baik aku menemui Tante Laura saja," ancamnya.
Ferdi baru menyadari kebodohannya, mengapa tidak langsung saja meminta bantuan pada ibu tirinya itu dari pada harus menghabiskan banyak waktu dengan Louisa.
Ia sebenarnya tau itu, tapi ia sendiri enggan sang ayah bertanya tentang masalahnya.
Ferdi tak ingin Ridho dan Mily terkena masalah karenanya. Jadi terpaksa dia meminta bantuan Louisa, sebab ia yakin Louisa tak akan mengerti apa yang saat ini sedang di lalukannya.
"Hei, biarkan aku mengisi perut dulu. Kau juga harus makan, karena menghadapiku perlu tenaga ekstra," ucap Louisa manja.
Ferdi hanya bisa mendesah frustrasi, penampilan Louisa hanya untuk makan siang saja sudah sangat menghebohkan.
Mungkin dia memang sengaja ingin menggoda Ferdi dengan penampilan seksinya. Sayangnya Ferdi sudah biasa menghadapi sikap bi*nal saudari tirinya itu.
Bahkan dulu tanpa tau malu, Louisa bahkan pernah tidur di ranjang kamarnya hanya menggunakan gaun tidur tipis.
Setelah kejadian itu, Ferdi memilih meninggalkan rumah baru ayahnya dan kembali tinggal bersama sang ibu.
Ayah dan ibunya memang sudah lama bercerai, bahkan saat Ferdi masih menempuh pendidikan sekolah menengah pertama.
__ADS_1
Ferdi tak pernah tau penyebab perceraian keduanya. Selang beberapa tahun setelah itu sang ayah menikahi janda kaya raya bernama Laura yang tak lain adalah ibu kandung Louisa.
Sedangkan sang ibu memilih tetap sendiri. Hubungan ayah dan ibunya juga baik-baik saja meski mereka bercerai. Laura juga menerima Ferdi dengan baik, hanya saja Ferdi tidak nyaman dengan kelakuan Louisa yang menyukainya.
Ferdi terpaksa memakan makanannya dengan cepat tanpa menikmatinya sama sekali. Ia ingin segera pergi dari hadapan Louisa yang dia anggap licik.
"Kau seperti tidak makan berhari-hari Fer!" sindirnya.
"Lebih baik kamu nikmati makananmu. Aku benar-benar sibuk, jadi bisakah kita selesaikan ini secara cepat?" pinta Ferdi.
Louisa tak menggubris rengekan saudara tirinya. Ia memotong steik dan mengunyahnya secara perlahan, benar-benar menikmati makanannya atau memang sengaja membuat Ferdi jengkel.
"Hemmm ... Daging ini ngga pernah berubah, aku suka itu," pujinya hanya di tanggapi Ferdi dengan dengusan.
Ferdi memerlukan waktu setengah jam menunggu Louisa makan daging yang hanya selebar telapak tangan itu.
Ia benar-benar merasa di permainkan oleh Louisa.
"Kamu sudah selesai bukan? Sekarang aku akan bicara!" ujar Ferdi tajam.
Louisa tengah mengelap mulutnya dengan anggun lalu mengangguk.
"Ada apa?"
"Boleh aku tau akses tamu yang menginap di hotelmu?" pinta Ferdi.
"Sekali ini saja, aku butuh memperbaiki namaku yang di tuduh telah menjebak seseorang."
"Menjebak?"
Dengan penuh drama Louisa membekap mulutnya, ia berpikir lelaki tampan yang sangat di cintainya itu telah melakukan hal yang tidak-tidak dengan seorang wanita.
"Buang pikiran negatifmu! Bukan aku yang melakukan hal kotor itu, tapi aku tertuduh telah melakukan penjebakan pada mereka!" jelas Ferdi yang tau kalau Louisa berpikiran buruk tentangnya.
"Oh senangnya, ternyata kekasihku masih suci," balas Louisa senang.
"Hotel yang di mana? Mengapa bisa mereka menuduhmu! Harusnya kamu melaporkan mereka dengan pencemaran nama baik," usulnya.
"Di Bogor. Sudahlah, aku tau apa yang kulakukan. Aku hanya perlu persetujuanmu untuk akses itu."
"Apa imbalannya?"
Ferdi benar-benar frustrasi menghadapi Louisa, dan ia sudah tak sabar dengan semua akal bulus Louisa yang pasti ingin menjeratnya.
"Sudahlah, sepertinya aku memang membuang waktuku. Kau memang tak bisa di andalkan!" ketusnya lantas bangkit berdiri hendak meninggalkan Louisa.
__ADS_1
Louisa terkekeh tak terusik dengan gerutuan dan rajukan Ferdi. Dia tak akan menyerah karena tau Ferdi membutuhkan bantuannya.
Berbaliklah, aku yakin kamu akan memohon, dan kupastikan aku akan mendapatkanmu!
Louisa terlalu senang dengan pikirannya. Sayangnya Ferdi tidak berbalik dan kembali memohon padanya. Louisa tampak geram. Ia lantas bangkit berdiri dan meninggalkan restoran.
"Pergilah, aku yakin kamu akan kembali. Pasti ada sesuatu yang terjadi hingga membuatmu membutuhkanku bukan?" monolognya.
Ferdi di dalam mobil sangat marah, dia bahkan mencengkeram kemudinya dengan kencang. Sial baginya harus berurusan dengan Louisa.
Padahal dia sudah tau tak akan semudah itu Louisa mengabulkan keinginannya. Pasti ada saja hal licik yang di pikirkan saudari tirinya itu untuk menjeratnya.
"Apa sebaiknya aku bertemu dengan Tante Laura? Ah percuma. Pasti nanti Tante juga akan memintaku menemui Loui, dia kan sudah menyerahkan hotel itu untuk putrinya."
Ferdi pun menemui jalan buntu. Ia memilih kembali ke kantor untuk kembali bekerja.
Dia akan bertanya apa saja yang membuat Ridho curiga, siapa tau dia bisa membantu mengurai sedikit masalahnya.
"Dari mana Fer! Kamu kelihatan kusut?" sapa Selomita.
Selomita mengakui ketampanan Ferdi, sayangnya lelaki itu terlalu dingin dan kaku untuk di dekati. Meski Ferdi terlihat tak begitu kaku padanya dan Mily, tetap saja Ferdi terkesan cuek pada mereka.
"Kamu tau, ada kabar mengejutkan hari ini!"
Ucapan Selomita membuat Ferdi mendengarkan dengan saksama, ia sangat takut jika itu berhubungan dengan Mily.
"Ada apa?"
"Tumben kamu mau tau? Biasanya kamu bakal bilang ngga usah ikut campur urusan orang!"
Ferdi tak menjawab gerutuan Selomita, dia masih menunggu berita yang Selomita sampaikan.
"Mily Fer ..."
Deg, jantung Ferdi berdebar semakin kencang.
Ada apa dengan Mily?
Berita apa?
.
.
.
__ADS_1
Tbc