Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Hasutan


__ADS_3

Setelah mengantar kedua orang tuanya pergi, Ridho kembali duduk di hadapan istri kedua dan keluarganya.


"Maaf atas sikap lancang mamah saya Bu, Bian,” ujar Ridho sambil menatap ke keduanya.


"Maaf nak Ridho ibu dan Bian baru tau cerita dari istrimu- Fisha, sebenarnya apa yang sudah terjadi?"


Memang Ridho sudah menyiapkan diri jika suatu saat hal ini akan terjadi, setidaknya dia bersyukur ibu dan adik Mily masih mau meminta penjelasannya dengan cara baik-baik seperti ini.


Dulu Mily selalu berkata pasti sang ibu akan menjauhinya dan ia sendiri sudah takut jika ibunda Mily itu memilih memproses secara hukum masalah yang telah terjadi pada mereka.


Setelah menarik napas mencoba menenangkan diri, Ridho lantas menceritakan semua yang terjadi, sampai dia memutuskan untuk menikahi Mily yang saat itu terkena depresi.


Saidah dan Bian bahkan terbelalak saat mengetahui jika Mily pernah mencoba menghilangkan nyawanya sendiri.


"Kenapa begitu Nak, kamu masih punya kami, kenapa kamu pendam semuanya sendiri? Apa kamu ngga memikirkan perasaan ibu dan Bian kalau kamu pergi dalam keadaan seperti itu? Jangan lagi berpikir seperti itu, di sini ada ibu dan Bian yang akan menjagamu," ucap Saidah dengan deraian air mata.


Bian pun tak kuasa menahan tangis saat mendengar jika kehidupan sang kakak sangat mengenaskan beberapa waktu terakhir.


.


Ia menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa memenuhi janji pada sang ayah untuk selalu menjaga kakak perempuannya ini.


"Maafkan Bian kakak," sergah Bian.


"Maafkan Mily bu, Mily bingung menghadapi ini. Sekarang Mily sudah lebih baik," jelas Mily berusaha menenangkan ibu dan adiknya.


"Nak Ridho kalau pernikahan kalian malah justru berdampak buruk bagi Mily, ibu rasa sebaiknya tidak usah di teruskan lagi. Kami sanggup menghadapi omongan orang karena sudah biasa."


"Jangan sampai hanya karena rasa tanggung jawabmu, membuat Mily malah semakin di pojokkan," ujar Saidah yakin.


"Benar Bang, kami biasa hidup sederhana malah sering kekurangan, tapi kami tak pernah merasa terhina seperti sekarang. Lebih baik kami tenang menjalani hidup, dari pada harus terus menjadi pihak yang di salahkan," sela Bian yang setuju dengan keputusan ibunya.


Mily hanya diam saja, dulu memang dia sempat menyerah atas pernikahan sirinya dengan Ridho, tapi semenjak tau dirinya hamil, bukan hanya dirinya yang akan di hina nanti, tapi anaknya yang tidak bersalah juga akan terseret.


Ridho menghela napas, dia diimpit oleh masalah yang datang bertubi-tubi, ingin dia berteriak saat ini untuk meredakan sesak di dadanya.


"Apa kalian tidak memikirkan anakku? Apa aku tega membiarkan dia terhina karena tak ada namaku di aktanya? Tolong pikirkan anak kami Bu, hanya itu permintaanku," jawab Ridho telak.


Saidah terdiam mendengar penjelasan Ridho, sudah pasti cucunya lah yang akan menerima imbas dari segalanya. Dalam hati wanita paruh baya itu berdoa, semoga saja kelahiran cucunya akan memberikan keberkahan tersendiri.


"Ibu dan Bian istirahat saja, urusan Fisha dan mamah, biar Ridho dan papah yang akan menyelesaikannya nanti," janji Ridho.

__ADS_1


Ridho pun pamit undur diri, karena dia memang tidak pernah sekalipun tinggal di kediaman istri keduanya itu.


"Apa nak Ridho ngga pernah tidur di sini Mil?"


Mily menggeleng, "kami memang suami istri secara agama Bu, tapi sikap kami masih sama seperti dulu. Lagi pula aku tak mencintai Bang Ridho. Aku masih menghormatinya sebagai seorang kakak," jelas Mily.


"Benarkah kalian di jebak Ka? Kenapa kalian ngga lapor ke pihak yang berwajib saja, supaya tau siapa dalang di balik semua ini?" tanya Bian bingung.


"Atas masalah apa? Itu harus kakak yang melapor, dan nanti bang Ridho di tahan, baru dalam prosesnya ada penyidikan. Tapi ujungnya tetap saja bang Ridho akan di tahan bukan?"


Bian menghela napas setuju dengan ucapan sang kakak. Namun saat melihat sang kakak yang menjadi korban tapi selalu di salahkan membuatnya geram juga.


"Tapi kakak lihat sendiri, mereka kebanyakan menyalahkan kakak! Tidak berempati sekali, padahal sama-sama perempuan!" cibirnya.


"Untungnya ayah mertuamu baik ya Mil. Tapi ibu mertuamu sangat tak menyukaimu. Apa kamu akan tahan memiliki mertua seperti itu?" Saidah tau dari tatapan Elya, wanita itu sangat membenci putrinya.


"Mily ngga akan lama jadi menantunya bu, yang penting anak ini lahir di pernikahan yang sah, yang lainnya sudah tak Mily pedulikan. Apa lagi Ibu dan Bian mau menerima keadaan Mily," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi aku ngga mau sekolah di biayai sama Bang Ridho kak, lihat saja, belum apa-apa saja ibu bang Ridho sudah merendahkan kita apa lagi nanti," sungut Bian.


"Kamu tenang aja, kakak akan kembali bekerja. Kakak juga ngga mau menggantungkan hidup pada Bang Ridho. Kita biasa berdiri dengan kaki kita sendiri, maka kita akan seperti itu selamanya," ucap Mily yakin.


Mily mengangguk dan menjelaskan semuanya. Saidah hanya bisa menghela napas melihat nasib nahas putri sulungnya.


"Ibu dan Bian tenang aja, kakak di tawari oleh teman kakak untuk membantu mengelola restoran milik keluarganya."


Meski belum memberikan jawaban pada Ferdi, tapi Mily sudah bertekad akan menerima tawaran itu melihat bagaimana hidup keluarganya masih bergantung padanya.


"Aku akan kuliah di sini saja ka, siapa tau ada kerja paruh waktu supaya bisa membantu kakak?" tawar Bian.


Saidah merasa terharu dengan sikap anak-anaknya yang berusaha tegar untuk kembali bangkit dari ke terpuruk kan.


"Maafkan ibu, harusnya ibu yang membiayai hidup kalian, tapi malah kalian yang harus menanggung hidup ibu," lirih Saidah dan di balas pelukan oleh kedua anaknya.


"Ibu ngga boleh ngomong begitu, bagaimana pun kami sudah dewasa dan gentian kami yang merawat ibu," ujar Mily dan di balas senyuman oleh Bian.


.


.


Marlina tengah bersungut-sungut setelah kembali dari kediaman Saidah yang ternyata telah sepi.

__ADS_1


"Ibu dari mana?" tanya Fisha yang sedang sibuk menyuapi Alma.


"Ibu dari rumah Si Idah! Dan kamu tau mereka menyusul Mily ke kota!" ujar Marlina geram.


"Ya biarin aja Bu, mungkin Uwa Saidah mau bicara sama putri kebanggaannya!" cibir Fisha.


"Kamu ngga tau? Kata Parman, mereka bahkan di sambut sama mertua kamu!" sungut Marlina.


Parman adalah sopir Travel yang mengantar Saidah dan Bian. Saat mengantar Saidah, Parman memang masih berada di sekitaran perumahan Mily dan hanya melihat jika orang tua Ridho ada di sana.


Di kampung Saidah heboh karena Parman berkata jika hidup Mily sekarang sukses dan memiliki calon suami kaya raya.


Mereka tidak tau siapa Ridho dan ada hubungan apa mereka. Jadilah berita itu menyebar seperti bola panas.


Marlina yang tau jika di kediaman Mily ada seorang lelaki dan kedua orang paruh baya tentu saja menebak jika itu adalah menantu dan besannya.


"Kurang ajar sekali mereka! Kamu ke sini sepertinya ngga berpengaruh apa-apa untuk mereka. Sebaiknya kamu kembali dulu dan meminta hakmu! Jangan sampai si Mily itu menikmati hasil jerih payahmu!" sungut Marlina.


Fisha yang mendengar ucapan sang ibu tentu saja merasa panas hati. Dalam hatinya berkata apa sekarang ibu mertuanya sudah tak berpihak padanya?


Ia ingat kemarin kala memberitahu sang ibu mertua jika Mily mendapatkan rumah dari suaminya. Dia juga berkata merasa tidak di perlakukan dengan adil oleh suaminya itu.


Yang ia tangkap ibu mertuanya terlihat kaget, dan berkata akan membereskan masalahnya.


Fisha berpikir apa itu hanya alibi sang mertua untuk menangkannya? Fisha lalu memutuskan untuk kembali ke kota besok. Dirinya tidak tahan dengan segala rasa penasaran.


Tanpa pikir panjang Fisha menelepon sang mertua, belum di jawab sang mertua, Fisha sudah berkata terlebih dahulu.


"Bagaimana Mah? Apa mamah jadi datengin rumah Mily?" tanyanya.


"Jadi kamu yang menghasut mamahmu untuk melabrak Mily?" tegur seseorang yang bukan pemilik suara sang mertua.


"Pa-pah!"


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2