Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Pengecut


__ADS_3

Merasa bahwa kehadiranku tak di terima di sana, aku memilih pulang ke rumahku sendiri.


Selepas Mamahnya bang Ridho mengucapkan segala ancamannya, aku memilih pamit undur diri dari acara Mbak Fisha yang masih berlangsung.


"Mbak, aku pamit dulu ya. Maafkan aku malah jadi merepotkan tadi. Kudoakan semoga usaha Mbak Fisha semakin sukses dan berkembang pesat."


Doa itu tulus aku ucapkan padanya. Aku tau bagaimana Mbak Fisha bekerja keras untuk membangun usahanya.


"Kamu ngga nginep aja di sini Mil, mbak khawatir sama keadaanmu loh, apa ibu dan Bian tau keadaanmu?" tanya Mbak Fisha cemas.


Aku mencoba tersenyum demi bisa menenangkan hatinya yang mencemaskanku. Dalam hati selalu mengatakan beribu kata maaf karena tanpa sengaja telah menyakiti hatinya.


"Ngga usah Mbak, aku ada kerjaan yang harus di selesaikan. Ngga enak sama teman, kalau belum kirim berkasnya sekarang," dustaku.


"Kamu kelihatan lelah begitu masih harus mengerjakan tugas Mil? Ya ampun istirahat aja dulu, nanti Mbak yang ngomong sama abangmu!" kekehnya.


"Ngga papa mbak, aku benaran harus pulang," pintaku memaksa.


"Baiklah. Mas bisa kamu antar Mily pulang?" Mbak Fisha menatap sang suami.


Aku yang saat ini enggan bersama dengan Bang Ridho buru-buru menyelanya. "Jangan Mbak, ngga usah, aku pulang pakai Taxi Online aja."


"Jangan gitu lah, kamu lagi ngga sehat Mil, mbak takut kamu kenapa-napa di jalan. Udah buruan mas."


Kulihat Bang Ridho pun sedikit enggan mengikuti keinginan istrinya itu. Saat kami masih bersitegang dengan kepulanganku, tiba-tiba Ferdi datang menyela di antara kami.


"Biar aku saja yang mengantar Mily, pulang. Ini adalah syukuran keluarga kalian, rasanya akan aneh kalau Pak Ridho meninggalkan pesta istrinya," ucap Ferdi santai.


Kulihat Mbak Fisha yang masih ragu, setelah aku berusaha meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja dia akhirnya mengizinkanku pulang lebih awal.


Aku dan Ferdi jalan beriringan saat meninggalkan rumah Mbak Fisha menuju mobil Ferdi yang memang di parkir jauh dari kediaman mereka.

__ADS_1


"Kamu ngga papa kan Mil?" tanya Ferdi saat kami sudah sampai di dekat mobilnya.


"Baik Fer, cuma kelelahan aja."


"Apa kamu mau memeriksakan diri?" tanya Ferdi saat kami sudah di dalam mobilnya.


"Ngga usahlah Fer," tolakku.


Aku hanya butuh istirahat di kamarku, bergelung dengan selimut tebal yang kuharap bisa melindungiku.


"Gimana kalau kita makan malam dulu? Aku liat tadi kamu belum makan apa-apa," ajaknya.


Aku menghela napas pelan, tak ingin dia sadar jika aku sebenarnya enggan berlama-lama dengannya saat ini.


Gara-gara obrolan tentang seseorang yang menjebakku dan Bang Ridho, membuatku bersikap waspada terhadap Ferdi dan yang lainnya.


Aku takut akan masuk perangkap mereka lagi, meski belum terbukti jika salah satu dari mereka memang berniat jahat padaku.


"Bagaimana jika aku memaksa?" ancaman itu jelas membuatku mengkeret ketakutan.


Ya Tuhan, apa benar jika Ferdi pelaku yang sesungguhnya? Mengapa dia melakukan hal jahat seperti itu.


Tak terasa air mata sudah berada di pelupuk mataku. Aku sungguh ketakutan jika dia akan mencelakaiku.


"Hei kenapa?" Ferdi meminggirkan mobilnya di bahu jalan.


"Apa yang kamu inginkan Fer?" tangisku pecah, aku bahkan menggenggam sabuk pengaman dengan erat.


"Astaga, kamu ketakutan? Maafkan aku Mil. Sungguh aku minta maaf, maksud aku memaksa kamu buat makan bersama, karena aku khawatir, kamu banyak berubah semenjak habis sakit," lirihnya.


Dia kembali mengendarai mobilnya. Mungkin karena masalah itu, aku jadi sedikit parnoan, benar kata Ferdi, aku menjadi penakut dan cengeng.

__ADS_1


"Maafin aku ya Mil, sekarang kita pulang," ucapnya lagi saat tidak menerima respons apa pun dariku.


Aku memilih diam, bahkan tanganku masih bergetar karena rasa takut belum mau enyah dari pikiranku.


Sesampainya di depan rumah, aku bergegas meninggalkan Ferdi tanpa ada niat berbasa-basi untuk mengajaknya mampir. Aku bahkan tidak mengucapkan terima kasih padanya.


Setelah masuk, aku mengintipnya lewat jendela, Ferdi keluar dari mobilnya dan menatap ke arah rumah dengan bingung. Namun tak lama ia pergi meninggalkan rumahku.


Rasa lega membuatku memegang dada. "Mbak," suara Bi Imah mengagetkanku, membuatku berbalik dengan mata membeliak.


"Ya ampun, mbak ngga papa?" tanyanya khawatir.


"Ngga papa bi, saya mau ke kamar."


Aku bahkan sedikit berlari menuju kamar, menghempaskan tubuh dan menyelimuti diri seperti kepompong. Di sana air mataku kembali tumpah.


Mengapa aku jadi sesensitif ini, aku kini menjadi orang yang sangat penakut, aku yakin Ferdi akan merasa kesal padaku.


Ponselku berdering, tapi tak kuhiraukan, ku tutup wajahku di balik selimut hingga dering itu mati sendiri. Namun panggilan itu berulang-ulang masuk dan sanggat menggangguku.


Dengan terpaksa aku mengambilnya di dalam tas, ternyata Bang Ridho yang meneleponku berulang tadi.


Mengapa dia meneleponku seperti orang gila? Apa Ferdi mengadu padanya tentang perlakukanku tadi?


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2