Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Mencari Tahu


__ADS_3

Ridho


Perutku terasa sangat melilit, aku sampai lupa mengisi perut saking sibuknya mengurus Mily.


Meski banyak pikiran, aku tetap harus menjaga kondisi agar tetap sehat saat ini.


Di tengah asyiknya memakan makananku, ponselku kembali berdering, tertera nama istriku tercinta-Fisha.


"Ayah gimana kerjaannya? Kapan pulangnya?" tanya Fisha manja.


Hatiku berdenyut nyeri memikirkan perasaan Fisha. Istriku pasti akan merasa sakit hati jika tau kalau aku telah menghianatinya. Meski tidak berselingkuh secara langsung, tapi tidur dengan wanita lain termasuk berselingkuh menurutku.


"Mas kok diam aja? Kenapa?" tanyanya khawatir.


Aku tersenyum getir saat Fisha malah mengkhawatirkanku. "Ngga papa bun banyak kerjaan aja, kamu sama anak-anak gimana?"


"Baik mas, ini lagi senggang di butik. Mas tau ngga, semalam kok aku mimpi ngga enak banget tau," ceritanya.


Aku terkekeh mendengar curhatannya. Fisha memang selalu menceritakan kesehariannya padaku saat kami berjauhan, menurutnya agar aku tak kehilangan momen keluarga.


"Memangnya kamu mimpi apa?"


"Aku mimpi jalan berdua sama kamu, tapi tau-tau kamu pergi jalan ninggalin aku. Aku kejar kamu tapi ngga sampai-sampai. Tau ngga sakitnya sampai buat aku nangis betulan."


Tiba-tiba perasaan bersalah menyelimutiku. Ya Tuhan semoga itu bukan pertanda akan hubungan pernikahan kami.


"Mas ... Mas kamu masih di situ?" gerutu Fisha.


"Iya Bun, sudah jangan di pikirkan, namanya mimpi kan bunga tidur sayang. Mau mas bawakan apa nanti?" aku berusaha mengalihkan pikiran buruk istri tercintaku.


Aku yakin saat ini dia pasti tengah memikirkan hal-hal buruk. Harinya pasti terasa kacau jika moodnya jelek.


"Kamu di sana ngga macam-macam kan Mas? Awas loh nanti aku tanya Mily kalau kamu berani bohong!" ancamnya.


Bunda-bunda, bagaimana kalau kamu tau kalau aku dan seseorang yang telah kau anggap adik malah menghabiskan malam bersama meski itu tanpa kesengajaan?

__ADS_1


"Iya sayang, ya udah, mas lanjut kerja dulu ya, biar cepet beres ok?"


"Iya mas, jaga hatimu ya mas, aku sama anak-anak sangat mencintai kamu dan merindukan kamu," ucapnya sendu.


"Iya sayang i love you."


Maafkan mas Fisha, sebenarnya banyak hal yang ingin mas ceritakan padamu, tapi sungguh itu tak mungkin. Mas yakin kamu pasti akan terluka.


Bagaimana aku harus menyelesaikan permasalahan ini?


"Pak, Mily mana?" sapa Selomita yang segera duduk di hadapanku tanpa menunggu persetujuanku.


"Dari tadi aku teleponin ngga di angkat-angkat, kata Husain dia menginap di hotel ini sama pak Ridho," tukasnya.


"Kamu udah makan Mit?" tawarku. Sekarang waktunya jam makan siang, jadi tak terasa aneh jika aku menawarinya makan.


Selomita tersipu malu, aku sangat tau bagaimana gadis ini begitu menyukaiku. Namun tingkah lakunya masih di batas sekedar mengagumi, dia tak pernah berusaha merayuku.


"Makasih pak, ini di traktir?"


"Asyik, lumayan bisa buat ngirit di akhir bulan," balasnya sambil terkekeh.


Kehadiran Selomita dan gurauannya membuatku sedikit bisa melupakan masalah dengan Milly sejenak. Selomita memang gadis yang cukup menyenangkan, banyak karyawan kantor yang diam-diam jatuh hati padanya.


Entah kenapa gadis iti bahkan tak pernah melirik mereka. Apa sebegitu sukanya dia padaku?


"Husain masih di kamarnya?" tanyaku saat Selomita sudah menandaskan makanannya.


"Ada kayaknya Pak, tadi aku telepon dia katanya dia lagi hangeover," cibirnya dengan memutar bola mata malas.


Kelakuan Husain yang seperti itulah yang membuat rekan satu divisinya malas jika harus bekerja bersamanya.


"Ya sudah aku akan menemui Husain, kamu sendiri mau ke mana?"


"Aku rencananya mau ke kamar Mily, Pak Ridho tau di mana kamarnya?"

__ADS_1


Aku melupakan ucapannya kala dia sejak awal memang mencari Mily.


"Dia kusuruh pulang. Tau sendirilah, penyakit lambungnya kambuh," lagi-lagi aku harus berdusta.


"Hah! Ya sudah nanti pulang dari sini aku tengokin dia lah."


Ya ampun mengapa Ferdi dan Selomita malah sibuk ingin menjenguknya, alasan apa lagi yang akan kubuat nanti.


"Aduh pak, aku pamit duluan ya, klien kami udah sampai," ucapnya sambil melihat layar ponsel.


Syukurlah Selomita cepat berlalu dari sini, sebab aku juga harus bergegas menemui Husain untuk mencari tau tentang kejadian malam tadi.


"Mita tunggu! Kamar Husain berapa?" pekikku sat Selomita sudah berjalan cukup jauh.


"3315 Pak."


Untung dia mendengar teriakanku. Aku bergegas menuju hotel tempatnya menginap yang tak begitu jauh juga dari hotel ini.


Kulangkahkan kaki menuju lantai kamar Husain setelah bertanya kepada resepsionis di bawah.


"Husain?" panggilku seraya mengetuk pintu.


Tak lama lelaki itu membuka pintu, dia hanya mengenakan kimono handuk hotel. Sepertinya baru saja selesai membersihkan diri.


"Ngga hangeover kamu Do?" tanyanya santai.


"Ada yang mau aku tanyain ma kamu Sain," ucapku serius.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2