
Saidah yang baru sampai di depan rumahnya terkejut melihat banyaknya warga yang berkerumun tepat di depan rumahnya.
"Nah ini orangnya!" ucap salah satu ibu-ibu sambil menunjuk Saidah.
"Maaf ini bu Ibu ada apa ya? Kenapa ramai-ramai di rumah saya?" tanya Saidah tak mengerti.
Wajah para warga tampak sangat marah, Saidah sendiri bingung mengapa mereka seperti itu.
"Halah ngga usah berlagak sedih Bu! Kami minta ibu segera pergi dari kampung ini, kami ngga mau menampung seorang keluarga pe*la*kor!" pekik warga.
"Salah saya apa Bu? Mengapa kalian seperti ini?" Saidah masih berusaha membela diri.
"Heh denger ya Bu Saidah, ajarin anaknya, jangan malah mau jadi simpenan suami orang, pantas saja bisa renovasi rumah, ternyata anaknya cuma bisa ngangkang aja."
Sorak riuh menggema menyudutkan Saidah, dengan segala hinaan dan cercaan.
"Pergi Bu kami ngga mau kalau nanti si Mily pulang ke sini!" ucap yang lainnya.
Suasana sudah sangat mencekam, bahkan para warga tak segan melempari tubuh lemah Saidah dengan telur, terigu dan berbagai macam sampah.
Saidah bingung harus berkata apa, tak mungkin dia menceritakan segalanya, itu sama saja membuka aib putrinya.
Karena fisiknya yang lemah, membuat Saidah tak sadarkan diri akibat tekanan.
Tak lama, dirinya kembali sadar saat bau minyak kayu putih berada tepat di hidungnya.
"Bu Saidah baik-baik aja?" tanya Bu Rt.
Beruntung ada tetangga Saidah yang cepat melaporkan kejadian huru hara di kediaman Saidah pada ketua RT mereka, jadi warga bisa di bubarkan oleh ketua Rt.
Kecaman para warga yang menuntut agar Saidah di usir dari kampung mereka bahkan di tengahi oleh kepala desa langsung.
Kepala desa bahkan akan menindak tegas pada warga yang menjadi biang kerok di sana.
Setelah bertanya pada salah satu warga, permasalahannya hanya karena anak dari Saidah, yaitu Mily yang menjadi istri kedua.
Kepala Desa bahkan sampai geleng-geleng kepala, berkata jika masalah seperti itu jelas bukan masalah yang merugikan warga, terkecuali ada yang melakukan zina baru bisa di sidang.
Namun warga bersikukuh ingin mengusir keluarga Saidah dengan alasan takut jika para suami mereka akan di goda oleh Mily si pe*la*kor.
__ADS_1
Menerima desakan dari warga, Ketua Rt dan kepala desa berjanji akan memediasi kedua belah pihak.
Di kediaman ketua Rt, Saidah kembali terisak mengingat peristiwa tadi.
"Sabar ya Bu, saya tau keluarga Bu Saidah orang baik-baik, saya yakin Pak Rt akan bisa menyelesaikan masalah kalian nanti," ujar Bu Rt menenangkan.
Saidah hanya mampu mengangguk, dia bingung mengapa tiba-tiba warga bisa tau kehidupan putrinya.
"Sekarang lebih baik Bu Saidah membersihkan diri dulu, nanti Pak Rt dan Kepala Desa akan menemui Ibu di sini," ajaknya.
Saidah hanya menurut saat Bu Rt menuntunnya untuk membersihkan diri. Setelah selesai, mereka di kejutkan dengan suara pekikan Bian di luar.
"Bu Ibu!" panggilnya khawatir.
Bian yang baru pulang setelah menyelesaikan hukumannya sangat terkejut saat melihat rumahnya sudah berantakan oleh sampah.
Beruntung tetangganya mengatakan jika sang ibu sudah di amankan di rumah ketua Rt, tanpa pikir panjang Bian bergegas menyusul sang ibu.
"Bian," lirih Saidah. Bian lega melihat ibunya baik-baik saja.
"Bian, Bu Saidah, sebaiknya kalian makan dulu, sebab nanti akan ada pertemuan dengan warga dan juga kepala Desa," pinta Bu Rt lembut.
Bian dan Saidah saling pandang lantas mengangguk menyetujui ajakan Bu Rt.
Setelah selesai makan, mereka di ajak ke ruang tamu untuk menunggu Pak Rt dan para aparat Desa yang akan menjadi mediator.
Pak Rt dan kepala desa datang bersama beberapa warga yang di tunjuk untuk masuk ke dalam, sisanya hanya berkumpul di luar.
Sorak sorai yang meneriaki Saidah agar keluar dari kampung mereka masih juga terdengar, hingga terpaksa pak Rt buka suara.
"Kalau kalian ingin mendengar mediasi ini, sebaiknya tenang, kalau tidak saya akan bubarkan paksa. Pak hansip tolong siapa pun yang bersuara lagi, seret untuk pergi meninggalkan rumah saya," titahnya pada keamanan desa.
"Baik pak," seru para petugas keamanan.
Mereka serempak membuat blokade agar para warga tak berbuat anarkis.
"Baik Bu Saidah, ini para perwakilan dari warga yang ingin mengusir ibu dari kampung sini," sinis kepala desa yang malu akan tingkah para warga itu.
Para warga yang di tanya dengan ketus seperti itu oleh kepala desa mereka tampak gugup dan malu.
__ADS_1
Dia dan ketua Rt berjanji akan mencari tau siapa provokator para warga ini.
"Maaf pak Lurah, boleh saya yang menggantikan ibu saya bicara? Ibu saya masih syok dengan keadaan kami," sela Bian tenang.
"Kamu masih bocah jangan ikut campur!" sinis salah satu warga.
"Saya sudah punya KTP itu sudah di anggap dewasa, mengapa kalian seakan tak ingin mendengar pembelaan kami?" tantang Bian.
"Tenang nak Bian, nak Bian boleh berbicara mewakili ibunya. Maafkan saya juga Bu Saidah jika saya sudah menelepon mbak Mily untuk segera datang, mungkin tidak sekarang karena perjalanan yang di tempuh cukup jauh, tapi beliau janji akan segera pulang menemui kalian," jelas pak Rt.
Semua di lakukan pak Rt karena kelakuan warganya yang semakin anarkis, tak ingin berlarut-larut Pak Rt lantas menghubungi Mily untuk membantu menyelesaikan masalah keluarganya.
"Apa yang ingin di sampaikan?" tanya Pak Rt tajam pada warganya.
"Sa- Kami meminta Bu Siadah untuk keluar dari kampung ini," ucap salah satu warga gugup.
Hanya mereka bertiga yang menjadi perwakilan warga untuk mengusir Saidah dan keluarganya. Namun saat melihat tatapan para tamu yang hadir membuat nyali mereka ciut.
"Atas dasar apa kami di usir dari sini?" tanya Bian tajam.
"Itu, kakak kamu kan kerjanya jadi simpanan suami orang, ibu-ibu di sini takut kalau-kalau suatu saat dia akan menggoda suami-suami kami," jelas Ika lantang.
Semua yang ada di sana tertawa mencibir ucapan Ika yang jelas sekali tak masuk akal.
"Apa menjadi seorang istri kedua menjadi sebuah masalah bagi masyarakat? Kalau iya kenapa kalian tak mengusir keluarga Pak Haji Muji, beliau bahkan memiliki tiga orang istri!" jawab Bian mencemooh.
Ketiga warga saling memandang saat Bian menyebutkan nama tokoh penting di kampung mereka.
"Kakak saya menjadi istri kedua apa urusannya dengan kalian? Apa dia melakukan zina? Saya bahkan bisa menuntut kalian karena telah melakukan tindakan tidak menyenangkan pada keluarga kami!" ancam Bian.
Mendengar ancaman Bian, ketiga warga yang menjadi perwakilan itu mendadak ketar ketir. Mereka tau apa yang di lakukan oleh mereka cukup keterlaluan.
Bahkan warga yang diluar mendengar kata pihak berwajib langsung memilih meninggalkan kediaman pak Rt.
.
.
.
__ADS_1
Tbc