
Marlina memaksa suami dan putranya untuk datang menemui anak bungsu mereka.
Ia tak tahan dengan pikirannya yang menganggap jika Mily hidup enak setelah merampas kebahagiaan putrinya.
"Ayo pak kita susul Fisha ke kota! Ibu pengen ngelabrak Mily!" ujarnya emosi.
"Loh kenapa Mily? Harusnya kita menemui Ridho dan keluarganya. Menanyakan kebenaran tentang cerita Fisha," elak Tirta.
"Bapak gimana sih! Masa ngga percaya sama anak kita!" sungutnya.
"Bukannya ngga percaya Bu, tapi kita tetap harus duduk bersama dan mendengarkan penjelasan dari dua belah pihak. Jangan karena Fisha anak kita lalu kita menerima begitu saja," ucap Tirta sabar.
Marlina mendengus kasar, ia lebih ingin memarahi Mily habis-habisan, dan meminta gadis itu enyah dari kehidupan putrinya.
"Benar kata bapak bu, harusnya kita temui Ridho dan keluarganya," sela Sakti.
Marlina menatap kesal kepada suami dan putranya. Dia merasa bahwa sang suami dan putranya tak merasa kasihan pada putri bungsu mereka.
"Kamu itu apa ngga kasihan lihat rumah tangga adikmu yang harus hancur sama perempuan ngga tau diri itu? Sudah di tolong, di angkat derajatnya malah menusuk Fisha! Ibu sakit hati tau!" sergah Marlina.
"Makanya, kita temui dulu Ridho dan keluarganya, baru kita sama-sama menemui Mily," ujar Tirta sambil menghela napas.
"Terserah kalian! Pokoknya sekarang ibu mau ke kota!" setelah berkata seperti itu Marlina memilih meninggalkan keluarganya.
Tirta dan Sakti saling berpandangan. Dian datang lalu meletakan minuman untuk keluarga suaminya.
"Ibu ke mana mas?"
"Ke kamar. Besok Mas mau ke kota untuk mengantar bapak dan ibu ya, kamu mau ikut?" ajak Sakti pada sang istri.
Belum juga menjawab Marlina sudah kembali dengan koper di tangannya.
"Loh Bu mau ke mana kamu?" tanya Tirta bingung.
"Kan tadi Ibu dah bilang mau nyusul Fisha! Udahlah ibu naik Travel saja." Marlina lantas mendekati sang suami berniat berpamitan padanya.
"Enggak-enggak, kalau ibu mau ke kota harus bersama kami!" tolak Tirta.
"Ya udah makanya berangkat sekarang! Jangan nanti-nanti, perasaan ibu ini ngga tenang loh!" pekiknya.
Tirta dan Sakti hanya bisa menghela napas melihat kelakuan wanita yang sangat mereka cintai itu.
"Kamu mau ikut? Siapkan baju Radit," titah Sakti pada sang istri.
__ADS_1
"Tapi mas, Radit sudah tidur," lirih Dian.
Sebenarnya Dian ingin ikut ke kota bersama suami dan keluarganya. Dian yang asli kota itu tak pernah sekalipun melihat kota besar tempat Fisha tinggal.
Namun anaknya sudah tidur dan memang sedang tidak sehat. Ia berharap semoga sang mertua mau menunda kepergiannya agar ia dan putranya bisa turut serta.
"Halah, Dian biar di rumah saja! Tadi Radit itu muntah-muntah, kita ke sana sedang ada perlu bukan mau liburan! Ayo cepat!" tolak Marlina.
Dian hanya bisa menunduk sedih, Sakti yang tau jika istrinya kecewa hanya bisa mengusap punggungnya.
"Nanti kapan-kapan kita ke kota ya," janjinya.
Dian lantas menatap mata sang suami lalu mengangguk.
"Ayo buruan toh!" ketus Marlina tak sabar.
"Sabar Bu, lagi pula ini sudah malam," ujar Tirta gemas.
"Halah baru jam enam sore!"
.
.
"Kalau malam ini mas mau di sini silakan, tapi tidur di kamar tamu!" ucap Fisha ketus.
Ridho hanya mengangguk, lalu menatap sang istri dalam. Istri yang sudah membersamainya selama tujuh tahun itu berubah dalam sekejap.
"Kamu berubah banyak Bun," lirih Ridho.
"Kamu yang buat aku berubah mas! Ingat itu, aku paling benci di bohongi," jawab Fisha masih ketus.
"Oh ya jangan lupa bilang sama istri mudamu itu lekas tinggalkan rumahku, jangan—"
"Sudah aku katakan itu rumah Mily! Kamu ngga punya hak untuk menggugat rumah itu!" sela Ridho jengah.
Sudah dia katakan jika rumah yang di tempati oleh Mily bukan termasuk harta bersama mereka, tapi sepertinya Fisha tak mau mendengar.
"Jika kamu belikan dia rumah dari uang yang tidak aku ketahui, jelas itu tetap masih masuk harta milik bersama!"
"Rumah itu pemberian papah!" jelas Ridho yang membuat Fisha tak percaya.
Fisha merasa ayah mertuanya berlaku sangat tak adil, mengapa Mily di berikan rumah olehnya sedangkan dirinya yang sudah lama menjadi menantu dan telah memberikan dua orang cucu pada mereka seperti tak di anggap.
__ADS_1
"Sepertinya selain pandai menggoda Mily itu pandai sekali menjilat ya!" ketusnya.
"Kamu boleh membenciku tapi jangan mengatakan hal buruk tentang Mily! Harusnya kamu yang lebih tau dia itu bagaimana Bun!" bentaknya.
Ucapan Ridho yang bernada tinggi membuat sudut hati Fisha semakin terluka, ia sangat membenci Mily dan suaminya.
Fisha tertawa mengerikan mendengar ucapan sang suami. "Kalau aku mengenal dia dengan baik aku ngga akan kecolongan seperti ini! Dia itu memang ular berbisa, pandai sekali membaur lalu tiba-tiba mematuk!" ucapnya bengis.
"Sekarang bahkan papah kamu lebih menyayangi dia dari pada aku dan cucu-cucu sahnya!"
"Kamu ingat mas, rumah ini kita beli dengan uang hasil keringat kita sendiri, setelah beberapa waktu baru orang tuamu membantu kita untuk merenovasi, tapi untuk Mily? Papah bahkan memberikannya dengan suka rela. Pokoknya aku ngga terima, aku akan bertemu papahmu secara langsung!" ucap Fisha Tegas.
"Terserah kamu Bun, cuma udah ayah ingatkan, mau kamu berbicara seperti apa pun ngga akan bisa kamu menggugat rumah itu sebagai harta bersama," jelas Ridho.
"Setidaknya aku bakal kasih papah kamu pukulan telak! Lihat saja nanti!" ancamnya.
"Apa maksud kamu Bun?"
"Nanti kita bertemu dengan orang tuamu dan kamu akan tau apa yang akan aku lalukan dengan mereka," sinisnya.
"Ayah mohon, jangan macam-macam Bun, jika menyangkut dengan rumah itu, papah hanya memberikannya sebagai ucapan maaf karena aku sudah merusak masa depan Mily. Aku tanya sama kamu di mana letak kesalahan papahku Bun?" ucap Ridho lemah.
Dia tak tau mengapa sang istri sangat mengotot ingin mengambil rumah yang sudah ia dan ayahnya berikan untuk Mily.
Untuk harta gono gini bahkan Ridho sudah ikhlas tak akan meminta bagian. Ia adalah anak semata wayang, ia bisa kembali tinggal di kediaman orang tuanya.
Tak mungkin ayahnya akan menuruti keinginan Fisha, karena memang itu bukan uang mereka. Namun mendengar ancaman istrinya membuat Ridho bingung apa yang sebenarnya istrinya rencanakan.
Fisha masih tersenyum remeh menanggapi sang suami. Ia tak rela jika Mily menikmati semuanya. Ia ingin membuat gadis itu kembali seperti dulu. Miskin dan terhina.
"Dia hanya gadis miskin yang kuangkat derajatnya, tapi sekarang seperti ingin menggantikan posisiku!" dengusnya.
"Mily tidak pernah ingin menggantikan posisimu Bun! Kamu yang memilih menyerah dan tak mempercayai ucapanku!" geram Ridho.
"Ucapanmu yang mana yang bisa aku percaya? Aku bukan orang bodoh yang akan terjerumus untuk kedua kalinya Do! Ingat itu!"
Setelah perdebatan sengit itu Fisha memilih kembali ke kamarnya meninggalkan Ridho seorang diri.
.
.
.
__ADS_1
Tbc