
Hari berganti, Bulan pun berlalu, tak terasa Mily sudah menyandang sebagai seorang istri dari Ridho sudah dua bulan lamanya, hubungan mereka juga seakan tak ada kemajuan, karena pada dasarnya mereka menikah secara terpaksa.
Kondisi mental Mily perlahan membaik, kini kepercayaan dirinya sudah sedikit kembali.
Hari ini dirinya di ajak Ridho mengunjungi rumahnya yang sudah selesai di renovasi, melenceng dari jadwal karena terkendala para pekerja bangunan yang berhenti lama waktu itu.
Ridho berusaha menengahi kala itu, tapi para pekerja bangunan dan mandor tak menemui titik temu. Para pekerja memprotes bayaran mereka yang terlalu kecil.
Akhirnya dengan Terpaksa Ridho menghentikan kerja samanya dengan mandor lama dan mencari mandor baru.
Kini dia sudah membawa Mily ke tempat yang sudah di janjikannya.
"Kamu suka rumah ini?" tanya Ridho lembut.
Mily hanya bisa menatap dengan berkaca-kaca, rumah Minimalis dua tingkat yang sangat nyaman. Gadis sepertinya tak pernah membayangkan jika bisa memiliki rumah seperti itu.
Rumah yang di sewakan oleh sang suami saja sudah termasuk mewah dan nyaman bagi Mily, apalagi ini.
"Bang, ini terlalu mewah untukku. Aku merasa ngga berhak menerima ini," ujar Mily.
"Kamu berhak menerima ini. Ini sebagai ucapan maaf dan tanggung jawabku yang tidak bisa kupenuhi padamu sebagai seorang suami. Maafkan aku, yang belum bisa memberikan apa yang kamu mau."
Ridho sebenarnya masih memikirkan siapa dalang di balik kejadian nahas yang menimpanya dan Mily. Namun semuanya seolah buntu, orang yang melakukan hal itu bekerja sangat rapi.
Pernah terbesit di pikiran Ridho mungkin benar jika itu murni kesalahannya sendiri yang tengah mabuk malam itu.
Namun banyak hal ganjil di sana, yang membuatnya tak bisa mengenyahkan pikiran-pikiran buruknya.
"Kamu bisa membeli perabotan sendiri kan? Isilah sesuai keinginanmu, nanti Abang akan mengirimkan uangnya."
Meski mereka tak pernah menghabiskan waktu selayaknya sepasang suami istri, tapi Ridho selalu mencukupi kebutuhan materi istri keduanya.
Jumlahnya memang tak sebesar jika di bandingkan dengan uang bulanan istri pertama dan anaknya, sebab uang itu adalah uang sisihan dari uang sakunya sendiri.
Mily tidak pernah memprotes, bahkan jika Ridho tak memberikan nafkah lahir pun tak masalah baginya.
"Ngga usah bang, uang pemberian dari Abang, Mily rasa cukup untuk membeli sedikit perabotan. Lagi pula Mily masih memiliki barang-barang yang layak pakai," tolak Mily.
Tentu saja gadis itu segan dengan semua pemberian Ridho. Sebab dirinya takut hanya akan di katakan memanfaatkan laki-laki itu saja.
"Nanti kita bertemu dengan papah dan notaris untuk membicarakan perpindahan nama."
Mily hanya mengangguk, setelahnya keduanya keluar menuju mobil masing-masing.
__ADS_1
.
.
Takdir mungkin ingin menguji Mily kembali, di tengah keadaannya yang mulai stabil, Mily harus menghadapi permasalahan lain.
Pagi itu, kepala Mily seakan pusing yang teramat sangat. Bahkan perutnya seperti diaduk-aduk.
Bahkan Mily memuntahkan isi perutnya yang bahkan belum terisi apa pun, membuat wajahnya terlihat semakin pucat.
"Ya ampun Mbak, mbak Mily kenapa? Masuk angin?"
Kecurigaan itu di ucapkan Imah karena malam tadi sang majikan pergi dan baru kembali jam sepuluh malam.
Cuaca juga sedang hujan malam tadi dan hawanya sangat dingin, jadi mereka berdua mencurigai sakit Mily karena masuk angin.
"Iya kali ya Bi, emang semalam kami malah makan di ruangan terbuka, di tambah aku ngga pakai jaket juga," jelas Mily yang di papah Imah ke tempat tidur.
Kini Mily sudah pindah ke rumah yang di berikan oleh Ridho. Meski barang-barang yang ia miliki tak terlalu mewah, tapi dengan penataan yang rapi membuatnya terkesan menarik.
"Mau bibi kerokin Mbak?" tawar Imah.
"Ngga usahlah Bi, tolong sapukan minyak kayu putih ke punggungku aja Bi," pinta Mily.
"Emangnya Mbak ketemu siapa? Kelihatannya senang banget?"
Imah memang merasa keadaan Mily semakin membaik, bahkan gadis itu sudah bisa tertawa dan bercerita.
"Bi Imah senang banget sekarang Mbak Mily sedikit demi sedikit bisa kembali ceria. Bibi harap mbak Mily selalu bahagia."
Imah sangat tahu apa yang terjadi dengan gadis malang itu, bahkan hanya dia satu-satunya saksi yang melihat pernikahan Mily dan Ridho yang di lalukan tanpa cinta.
Dirinya juga yang selalu berusaha menjaga Mily seperti putri kandungnya, bagaimana perjuangan gadis itu pulih dari rasa traumanya. Dialah yang melalui semua itu hanya berdua dengan Mily.
Dengan tulus Imah berharap jika di masa depan, Mily bisa merasakan kebahagiaan yang seharusnya gadis itu dapatkan.
"Makasih ya Bi, berkat Bibi yang selalu menyemangati Mily, Mily bisa sembuh dengan cepat," ucap Mily tulus.
Setelah tubuhnya membaik, Mily bergegas merapikan penampilannya dan beranjak untuk pergi bekerja.
Bahkan sekarang Mily sudah berani mengenakan kemeja sepanjang siku sebab luka sayatan di lengannya sudah tampak samar.
Mily juga berhasil menutupi bekas luka itu dengan jam tangan dan gelang emas kecil seperti saran Bi Imah.
__ADS_1
"Aku berangkat ya Bi, jangan lupa Bibi masak pesananku ya, aneh banget aku pengen makan ayam semur bi," lirihnya sambil berjalan menuju mobilnya.
"Apa itu masakan favorit mbak Mily?"
Mily tengah mengingat-ingat mengapa dirinya menginginkan makanan itu.
"Dulu Mily ingat ibu pernah masak makanan itu, waktu itu makan ayam serasa sangat mewah bagi Mily Bi, mungkin Mily merindukan masakan ibu," ucap Mily sendu.
"Bisa juga mbak Mily merindukan ibunya," imbuh Imah.
Perkataan Imah membuat perasaan Mily campur aduk, jelas saja dia merindukan sang ibu, hampir dua bulan ini dia belum pulang menjenguk ibu dan adiknya.
Mungkin sekarang dia bisa mengunjungi merek kembali sebab dirinya sudah cukup membaik. Pikir Mily.
"Apa sebaiknya aku pulang kampung ya Bi?"
"Terserah Mbak Mily aja, meskipun nanti bibi masakkan makanan yang mbak Mily mau, akan terasa berbeda kalau ternyata Mbak Mily merindukan masakan ibu mbak Mily," jelas Imah.
"Jadi sedih pagi-pagi. Bagi aku masakan Bi Imah tetap terenak, masakin aja Bi," pinta Mily sebelum akhirnya dia melajukan mobilnya menuju kantor.
Saat baru keluar dari gerbang rumahnya ternyata ada mobil yang juga sedang berjalan di jalan yang sama dengannya.
"Itu mobil Mily? Apa dia pindah ke rumah itu?" Ferdi berucap saat melewati rumah yang baru saja di tinggalkan Mily.
"Mewah. Kenapa dia ngga cerita kalau pindah ke sini? Ah sudahlah. Sadarlah Fer pekerjaanmu sendiri sudah banyak!" monolognya.
Sesampainya di kantor, rasa pusing kembali Mily rasakan, bahkan bumi yang dia pijak terasa berputar.
Mily menutup mulutnya saat perutnya kembali memberontak.
"Hei astaga Mily, kamu kenapa?" tanya Sofie khawatir.
Tanpa menjawab, Mily bergegas ke kamar mandi dan memuntahkan kembali isi perutnya, hingga sampai membuatnya lemas.
Tak lama ia tak sadarkan diri.
.
.
.
Tbc
__ADS_1