
Fisha menemui anak-anaknya di kamar. Anak-anak yang akhir-akhir ini sering ia abaikan karena Dika lebih senang bertemu dengannya tanpa anak-anak.
Ponselnya berdering, tertera nama orang kepercayaannya. Fisha mendudukkan diri sebelum mengangkat teleponnya.
"Iya Vi," sapanya terlebih dahulu.
"Ibu besok ke butik?" tanya Vio gusar.
Fisha menangkup kepalanya dengan satu tangan seraya menyugar rambutnya, mendengar nada bicara bawahannya.
"Ada apa? Kamu kelihatan gugup gitu?"
Di seberang, Vio menjauhkan teleponnya lalu menghela napas.
"Ada yang harus saya beritahu Bu, bisa besok kita bertemu?" pintanya.
"Ok, ada lagi? Aku mau istirahat," balas Fisha.
"Ngga ada Bu, maaf ganggu, selamat beristirahat Bu," setelah mengucapkan salam, Vio memutuskan panggilannya.
Fisha segera menyandarkan punggungnya ke sofa, firasatnya mengatakan ada hal yang tak enak tengah menantinya.
Baru saja memikirkan nasib butiknya, teleponnya kembali berdering, tertera nama sang kekasih di sana. Dengan malas Fisha mengangkat panggilan kekasihnya itu.
"Iya Dik?"
"Gimana sih kenapa belum kamu transfer Sha! Aku udah dari tadi nunggu!" sembur Dika.
"Astaga Dik! Aku baru pulang, aku ngga bilang bisa bantu kamu lagi, aku juga belum cek pemasukan hari ini Dik!" balas Fisha ketus.
"Kok kamu gini sih sayang? Bukannya kamu janji akan memajukan usaha kita ini? Ini demi masa depan kita Sha ..." rayunya.
Fisha menghela napas, semenjak menjalin hubungan kembali dengan Dika secara serius pasca bercerai, kekasihnya itu sudah berani meminta sejumlah uang padanya.
Dika selalu berdalih untuk mengembangkan usaha hotel miliknya yang nantinya akan di kelola oleh mereka jika kelak mereka menikah, begitu janjinya.
Namun, Fisha merasa tabungannya sudah banyak terkuras, bahkan tabungan milik kedua anaknya sudah dia berikan, tapi belum juga dia menerima imbalan dari investasinya itu.
Dia pebisnis, tentu saja dia mengharapkan sebuah hasil dari pemberiannya.
Meski dia selalu saja kalah saat Dika mengatakan jika ia memutar kembali penghasilan mereka untuk menjadi modal memperluas hotel miliknya.
Sampai saat ini pun Fisha tidak pernah tau di mana hotel itu, dia hanya melihat dari foto-foto yang di tunjukan Dika.
Hotel mewah tentu saja, meski berada di luar kota, tapi tak pernah sekali pun Dika mengajaknya melihat hotel itu.
Sempat muncul keraguan di hatinya kala melihat sang kekasih yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1
"Aku ngga janji Dik, permintaanmu kali ini cukup besar, sungguh aku ngga punya lagi simpanan," lirihnya.
"Aku ngga nyangka, sekarang kamu jadi perhitungan sama aku," ketusnya.
"Astaga Dika, dari mana aku perhitungan sama kamu? Berapa banyak uang yang udah aku keluarin untuk hotel kita! Bahkan aku sama sekali belum pernah melihat hotel itu langsung!"
Fisha yang sedang dalam keadaan kacau akhirnya terpancing juga rasa kesalnya karena di tuduh seperti itu oleh sang kekasih.
"Oh karena kamu meragukan hotel aku, makanya kamu enggan mengeluarkan dana? Baik, besok aku bakal ajak kamu lihat hotel kita! Mau?"
Ada rasa senang di hati Fisha saat Dika akhirnya akan mengajaknya melihat hotel itu. Ini benar-benar hal yang sangat di nanti olehnya.
"Sungguh?" Dia bahkan lupa jika tadi sudah berjanji akan menemui Vio di butik miliknya sendiri.
"Apa sih yang enggak buat kamu sayang, tapi ... Setelah melihat hotel itu, aku harap kamu ngga melupakan janji kamu?"
Ucapan Dika justru membuat Fisha melemas, dia bimbang, apa yang harus dia lakukan, sungguh Fisha tak berbohong saat dia berkata tak bisa memberikan sejumlah modal untuk Dika lagi.
"Kenapa diam sayang?"
Fisha menggigit kukunya gusar, bingung bagaimana harus menjawab, kalau dia tetap menolak, di pikiran wanita cantik itu, takut jika sang kekasih akan menolak janjinya lagi.
"Nanti aku usahain ya," putusnya lemah.
Di seberang sana, Dika merasa senang akhirnya bisa kembali meluluhkan hati Fisha.
.
.
Mily di minta oleh Ferdi untuk istirahat di rumah sementara waktu, hingga kondisinya membaik.
Saidah dan Bian cukup terkejut dengan keadaan bayi Mily yang ternyata tidak dalam kondisi yang baik.
"Tapi Fer, restoran lagi ramai, belum lagi bakal ada sidak dari departemen kesehatan," keluhnya.
Ferdi menghela napas, "hei, bisa aku sama mamah yang handle itu, yang penting kamu istirahat aja dulu, tenangin diri, besok harus pengecekan ulang kan?"
Mily hanya bisa menunduk, dia mengusap perut buncitnya. Rasa bersalah menghampirinya saat mengingat kondisi bayi yang dulu pernah dia ingin singkirkan.
"Maafkan aku yang udah jahat," isaknya.
Ferdi memeluk Mily, ia tau wanita itu pasti merasa bersalah. Mily menceritakan semua kisahnya bagaimana dulu ia ingin sekali membuang bayinya sendiri, pantas saja wanita itu terus merasa bahwa semua yang di alaminya adalah sebuah karma baginya.
"Sudah, kamu bikin anak kamu tambah sedih nantinya. Mamahnya harus yakin kalau dedeknya baik-baik aja ok?" bujuk Ferdi lembut.
"Makasih ya Fer, kamu selalu bisa nenangin aku."
__ADS_1
"Aku kan udah janji sama kamu, apa pun akan aku lakukan buat kamu, asal kamu bahagia, kamu harus bahagia," pintanya tulus.
Mily mengangguk, rasa tenang menyelimuti ibu hamil itu. Semua tingkah keduanya tak luput dari mata tua Saidah.
Ibu takut kalau nanti kamu terluka lagi nak, tak bisakah kita hidup tanpa orang lain?
"Kalau begitu aku pamit dulu ya Mil, Bu," ujar Ferdi lantas meninggalkan rumah Mily.
.
.
Di restoran, Ferdi di kejutkan dengan kehadiran Louisa di ruangan milik Mily.
"Loui? Mau apa kamu ke mari?!" ketus Ferdi tak suka.
"Ya ampun, beginikah kamu menyambutku?" cibir Louisa sambil menghampiri Ferdi.
Dia lantas mengambil bingkai foto di meja kerja Mily. Ferdi yang melihat itu ada rasa khawatir.
"Apa dia pegawai baru?" tanyanya tenang.
"Kamu ada perlu apa, aku sibuk sekarang? Kalau hanya sekedar basa basi lebih baik kamu pulang saja!" usirnya.
Ferdi berusaha menyibukkan diri dengan membuka laptop dan beberapa berkas di meja kerja Mily.
"Apa kamu mengerjakan tugas bawahanmu?" sindir Louisa yang tak terpengaruh dengan usiran Ferdi.
"Ini kantorku, mau apa aku, bukankah terserah padaku?" jawab Ferdi tanpa mengalihkan tatapannya.
"Tinggalkan dia!" titah Louisa sambil meletakan bingkai foto Mily ke meja kerjanya.
Ferdi tersentak dengan perkataan Louisa yang di rasanya sangat keterlaluan.
"Kamu ngga berhak mencampuri urusanku. Dasar gila!" makinya.
Louisa tertawa, tawa yang sangat mengerikan. "Kamu tau aku gila, aku bisa berbuat nekat pada siapa pun yang menghalangiku. Jadi ... Kalau memang kamu kasihan padanya, aku pinta dengan tulus, tinggalkan dia," ucapnya lembut.
Louisa menopang tubuhnya di meja kerja Mily berhadapan langsung dengan Ferdi, tatapan keduanya sangat tajam. Seperti dua orang yang siap saling menghabisi.
"Jangan macam-macam Loui!" Ferdi mengepalkan tangannya, sungguh dia ingin sekali menghajar wanita cantik di hadapannya ini kalau saja dia tidak ingat tak mungkin dia menghajar seorang wanita.
Lagi, Louisa tertawa meremehkan, dia melipat kedua tangannya di dada.
"Aku sudah memberi peringatan padamu, jadi terserah padamu, kalau kamu masih peduli padanya ... Ingat baik-baik ucapanku ini."
Setelah mengatakan itu Louisa melenggang pergi begitu saja, membuat batin Ferdi tak tenang.
__ADS_1