
Mily tau ucapannya pasti membuat Selomita merasa bingung. Tiba-tiba berkata ingin berhenti saat masuk ke sana saja penuh dengan perjuangan.
Meski Mily sudah mengenal Ridho, tapi dia tidak pernah menggunakan koneksi keluarga agar bisa masuk di perusahaan itu.
Meski dulunya Fisha yang memberi tahu jika di perusahaan suaminya sedang membuka lowongan pekerjaan.
Semua Mily lalui dengan kemampuannya. Selomita yang tau bagaimana perjuangan Mily hingga sampai di posisi sekarang merasa sangat heran dengan pemikiran Mily saat ini.
"Kamu makin aneh Mil! Kenapa kamu tiba-tiba mau keluar?" Selomita mendengus tak percaya.
"Itu namanya kamu ngga bertanggung jawab, masa hanya karena baru sekali ini kamu di marahi Pak Ridho lantas kamu ingin berhenti bekerja?" sela Ferdi yang memberikan es kopi favorit keduanya.
"Thanks Fer, tau aja aku kehausan," ujar Selomita senang.
Sebenarnya bukan tanpa alasan kalau Mily ingin keluar dari sana. Di satu sisi dia semakin takut dengan Ridho dan Ferdi, dia juga merasa di permainkan oleh teman-temannya di sana.
Bagaimana tidak, Ridho memberi tahu jika kejadian malam itu sepertinya atas ulah seseorang yang sengaja menjebak mereka. Terlebih lagi Ridho memberikan kode kalau kemungkinan itu di antara mereka.
Mily ingin menjauh dari semuanya. Meski awalnya ia bertekad kembali bekerja dan akan ikut menyelidiki teman-temannya. Namun dia sudah menbidik Ferdi yang menjadi pelaku utamanya.
Dia sendiri tidak tau mengapa justru mencurigai lelaki yang jarang sekali berkomunikasi dengannya, tapi karena kejadian kemarin membuat Mily yakin ada yang tidak biasa dari Ferdi.
Saat Ferdi duduk di hadapannya, Mily segera membuang muka. Selomita yang melihat itu hanya bisa mengernyit heran.
Mereka memang sedang berada di roftop kantor. Usai rapat tadi Selomita sengaja mengajak Mily berbincang, sebab gadis itu menolak makan siang bersama.
"Aku minta maaf atas kejadian kemarin Mil, sungguh, itu semua hanya gurauan, aku kira kamu udah sangat mengenalku."
Ferdi tidak tau kalau ucapan-ucapannya kemarin malah di anggap berbeda oleh Mily. Gadis itu juga seperti menghindarinya.
"Tunggu-tunggu, memangnya apa yang terjadi?" sela Selomita penasaran.
__ADS_1
Sebelum menjawab, Ferdi menghela napas dan menceritakan kejadian yang dia dan Mily alami kemarin hanya sebuah kesalahpahaman.
"Ya ampun Ferdi ... Ferdi. Kamu tau Mily seperti sedang banyak pikiran malah kamu ajak dia bercanda seperti itu, jelaslah dia ketakutan sama kamu!" cibir Selomita sambil melempar Ferdi dengan tisu yang sengaja dia gulung.
"Kamu malah buang sampah sembarangan!" ketus Ferdi tapi tetap memungut lalu membuangnya di tempat sampah.
"Aku juga kaget kalau kamu pindah ke rumah itu Mil, sejak kapan?"
Mata Mily membola, dia bahkan lupa kalau seharusnya dia merahasiakan tempat tinggalnya.
"I-tu bu-kan rumahku, i-tu rumah temanku, aku memang lagi menginap di sana," dustanya dengan terbata-bata.
"Ah aku kira kamu tinggal di sana. Senang kalau itu beneran, jadi aku punya tetangga," gumam Ferdi lirih.
"Kamu ngomong apa sih Fer, ngga jelas banget!" ketus Selomita.
"Mau tau aja!" balas Ferdi tak kalah sengit.
"Jadi sekarang kamu ngga tinggal di kosan Mil? Selamanya di sana atau sementara aja?"
Menurut Ridho, rumah yang akan di tempati Mily berada di perumahan itu juga, tapi entah di blok apa Mily tak tau dan tak peduli, jadi menurutnya dia tak merasa membohongi teman-temannya.
"Aku balik dulu ya, masih banyak kerjaan yang harus aku perbaiki. Maka sih Fer minumannya," ucap Mily sambil mengangkat gelas es kopinya.
Ferdi hanya mengangguk, dia sangat yakin Mily masih menghindarinya. Lelaki itu tengah berusaha meminta maaf pada Mily, tapi bingung harus dengan cara apa lagi.
Saat Mily akan memasuki sebuah lift, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang. Membuat punggungnya menabrak tubuh orang itu.
Jelas saja kejadian itu membuatnya tak kuasa menjerit ketakutan.
Ridho yang panik dengan teriakan Mily, segera membekap mulut istri keduanya itu.
__ADS_1
"Ini aku! Kenapa kamu harus berteriak!" maki Ridho sambil menarik tubuh Mily yang ia peluk dari belakang, menuju tempat lain.
Ferdi yang sekelebat mendengar suara jeritan lantas bangkit dengan terburu-buru.
Dia merasa jika suara itu di adalah suara Mily yang baru saja meninggalkannya bersama Selomita.
Bahkan Selomita pun mengikuti Ferdi yang tampak gusar saat tiba-tiba saja bangkit dan berlari.
Dengan napas terengah-engah, Selomita berhenti di samping Ferdi.
"Ada apa sih Fer! Kamu bikin aku takut aja! Pantes aja Mily ketakutan, kelakuan kamu emang aneh!" maki Selomita.
"Kamu ngga denger? Aku kaya denger suara orang berteriak, jangan-jangan itu suara Mily," Ferdi menyisir area di sekitar lift.
"Masa sih! Kamu salah denger kali, atau jangan-jangan ..."
"Apa?" tanya Ferdi panik.
"Suara penunggu lantai ini kali, hiii," setelah berkata seperti itu Selomita meninggalkan Ferdi seorang diri menuju Lift.
Ferdi merasa kesal karena ternyata Selomita malah menggodanya dengan lelucon yang tak masuk akal baginya.
"Aku serius Mita!" pekiknya.
Selomita tertawa terbahak-bahak, bahkan gadis itu menjulurkan lidahnya saat sudah berada di dalam lift kepada Ferdi.
Sedangkan Mily masih di bekap oleh Ridho yang mengajaknya bersembunyi di tangga darurat.
.
.
__ADS_1
.
Tbc