
Kehidupan Mily berjalan lancar, hingga usia kandungannya yang sudah menginjak tujuh bulan, dia tak di ganggu oleh siapa pun.
Fisha sendiri tengah sibuk membina kisahnya sendiri dengan Dika, sedangkan Ridho saat ini tengah dekat dengan Selomita.
Louisa sendiri belum bergerak untuk memisahkan keduanya sebab, gadis itu mendapatkan kabar dari orang suruhannya jika kedekatan keduanya tak lebih dari seorang atasan dan bawahan saja.
Namun begitu, Louisa tetap memikirkan cara untuk menyingkirkan Mily dari kehidupan Ferdi kedepannya.
Hubungan antara Ridho dan Mily juga membaik, mereka terkadang bertemu hanya untuk sekedar melihat perkembangan anak mereka.
Seperti hari ini Ridho datang bersama Selomita untuk memeriksakan kandungan Mily.
"Akhirnya kamu bisa menaklukkan pangeran impianmu bukan?" bisik Mily di telinga Selomita.
Selomita yang malu lantas mencubit pelan lengan Mily. "Aku juga terkejut ternyata kamu dekat dengan Ferdi!" ketusnya.
"Apa kamu akan menikah dengannya?"
Mily tersenyum lantas mengusap pelan perutnya, dia masih bimbang, bohong jika dia tak jatuh hati pada Ferdi.
Perhatian laki-laki itu bisa membuatnya nyaman. Namun dia merasa malu dengan statusnya.
Mily hanya mengedikkan bahunya.
"Kenapa?"
"Apa aku layak mendapatkan Ferdi Mit?" lirihnya.
Selomita menggenggam tangan Mily. Dia tau bagaimana perasaan sahabatnya itu.
"Kamu layak bahagia Mily, Ferdi lelaki yang baik, sekarang aku sering lihat dia tersenyum, ngga kaya dulu kaku banget kaya kanebo kering," cibirnya.
Keduanya terkekeh membuat pasangan mereka menatap heran keduanya.
"Ada apa?" tanya Ferdi lalu mendekati Mily dan berlutut di depan wanita itu.
"Kamu mau sesuatu?" lanjutnya lembut.
Selomita terkekeh mendengar nada suara Ferdi yang lembut, sungguh sesuatu yang langka.
"Kamu kenapa Mit!" ketusnya.
"Aish! Kamu giliran ama aku jutek banget Fer!" sembur Selomita membuat Mily tersenyum.
"Si kecil baik-baik aja kan? Kamu laper?" mengabaikan Selomita, Ferdi kembali menatap kekasihnya.
"Ngga kok, dia aktif banget, ngilu aja pas nendang," jawabnya.
Ferdi mengusap perut buncit Mily dengan lembut, Selomita memilih duduk di hadapan keduanya menemani Ridho.
"Kamu ngga papa kan Mas?" tanya Selomita.
__ADS_1
Ridho tersenyum, menjawab pertanyaan kekasihnya.
Dalam benaknya dia masih tak menyangka akhirnya bisa merajut kasih dengan Selomita.
Selomita yang selama ini ia tau mengaguminya, bahkan tak pernah terpikirkan akan bisa berhubungan dengannya.
Namun takdir memang sangat aneh, hanya Selomita yang selalu ada di sisinya dan menghiburnya, membuat hatinya luluh pada gadis itu.
Bahkan sang ibu sangat setuju dengan Selomita saat pertama kali dia mengenalkannya.
Hanya Gunawan yang menganggap datar kekasihnya karena masih berharap hubungannya akan berakhir bersama Mily.
Keadaan bayi Mily menurut Dokter agak lemah, entah apa penyebabnya.
Keluar dari poly kandungan, wajah Mily berubah murung, wanita itu masih terngiang akan kata-kata Dokter tentang bayinya.
"Ada apa?" tanya Ferdi mendekat.
Hanya Ridho dan Mily yang masuk ke ruang pemeriksaan, Ferdi dan Selomita menunggu keduanya di depan.
Ridho menuntun Mily duduk terlebih dahulu. Dalam benak Mily, dia hanya merasa mungkin ini adalah salah satu teguran Tuhan untuknya.
"Kenapa?" ulang Ferdi menatap sendu kekasihnya, lalu menatap Ridho meminta penjelasan.
"Anak kami keadaannya lemah, detak jantungnya lemah, seperti ada kelainan, mereka akan memeriksa lebih lanjut," jelas Ridho.
Selomita hanya bisa ikut bersedih mendengarnya, dia mengusap lengan kekasihnya, menyalurkan rasa prihatinnya.
Ridho mengangguk, baginya mental Mily lah yang harus di kuatkan, karena dia yang mengandung. Meski sedih, Ridho yakin jika Mily lebih sedih lagi darinya.
Ridho duduk berjongkok di hadapannya, menggenggam tangan Mily, mengabaikan Ferdi dan kekasihnya.
"Abang yakin dia baik-baik aja, kamu harus kuat, kamu harus yakin, kalau kamu down, nanti dia lebih terpuruk," ucap Ridho lembut.
Mily terisak, dia melepas salah satu genggaman tangan Ridho dan menghapus air matanya.
Sebenarnya kelakuan Ridho tak ayal membuat rasa cemburu di hati Ferdi dan Selomita, tapi mereka berusaha mengerti, karena bagaimana pun anak yang di kandung Mily, anak mereka berdua.
"Mungkin ini hukuman buatku Bang," lirih Mily.
"Jangan bicara seperti itu Mily! Aku yakin dia baik-baik aja. Akan aku lakukan apa pun agar bayi kamu sehat, yang tenang ok?" pinta Ferdi.
"Benar Mily. Dia anak kita semua, aku janji kami akan berbuat apa pun untuk dia," ucap Selomita yang ikut berjongkok di samping kekasihnya.
Mereka semua berusaha menguatkan ibu hamil itu yang tengah terpuruk perasaannya.
Kehidupan tenang yang selama ini ia lalui, ternyata menyembunyikan sebuah masalah besar yang tengah menanti, pikirnya
Mengapa Tuhan selalu mengujinya seperti ini? Di saat dia sudah menerima anak itu, justru kini dia di hadapkan pada kondisi sang anak yang tak sempurna.
Mereka keluar dari rumah sakit, Ferdi bahkan mengajak mereka semua ke sebuah kafe favorit Mily untuk menenangkan hati ibu hamil itu.
__ADS_1
Sialnya, di kafe itu mereka bertemu dengan Fisha dan Dika yang juga tengah berkencan.
Selomita merasa minder berhadapan dengan Fisha mantan istri kekasihnya, jadi dia melepaskan genggaman tangan mereka saat keduanya bertemu.
"Dunia sempit banget ya, ke mana pun pasti aja ketemu kalian!" cibirnya.
Mulut Fisha yang semakin pedas membuat Ridho semakin geram pada mantan istrinya itu.
"Aku mau ajak anak-anak pergi tapi kamu larang, dengan alasan kamu akan mengajak mereka pergi, nyatanya di mana mereka?" balas Ridho membuat Fisha gelagapan.
"Kalau tau kamu pergi seperti ini, bukankah lebih baik anak-anak ikut denganku?" lanjut Ridho.
"Cukup Mas, kalau aku melarang kamu mengajak mereka itu hak aku. Kamu ngga tau kehidupan kami, jadi jangan banyak mengeluh!" ketusnya.
Ferdi yang takut keadaan sang kekasih makin terpuruk bergegas mengajaknya untuk mencari tempat duduk.
"Pak Ridho sebaiknya kita cari tempat duduk, ngga perlu bersitegang, nanti keadaan Mily makin terguncang," bisiknya memohon pengertian Ridho.
Ridho menghela napas lalu berbalik menatap kekasihnya dan Mily.
"Maafkan Abang ya," ujarnya.
Mily dan Selomita hanya mengangguk lalu mereka berlalu meninggalkan Fisha yang merasa kesal karena di abaikan.
Entah kenapa melihat keadaan Ridho dan Mily yang tak terpuruk membuat hatinya memanas.
"Kamu kenapa sih! Kekanak-kanakan banget tau ngga! Bikin malu aja!" pekik Dika kesal.
Fisha terkejut mendengar gerutuan sang kekasih padanya. Bukannya membela, kekasihnya justru malah ikut memarahinya.
"Aku ngga seneng mantan suamiku mengeluh tentang anak kami Dik. Kenapa kamu ngga ngerti sih, aku tuh ngga suka di gituin, seolah-olah dia nuduh aku. Itu juga kan gara-gara kamu!" dengusnya.
Kini justru Fisha dan Dika yang terlibat perselisihan sepeninggal Ridho dan yang lainnya.
"Kok kamu jadi nyalahin aku?!"
"Kan kamu yang batalin ajak anak-anak aku jalan-jalan. Jadinya gini kan? Coba tadi kalau Ridho liat anak-anak emang jalan sama kita, ngga bakal dia mojokin aku!" jelas Fisha kesal.
"Kamu harusnya sadar, anak-anak kamu sangat rewel Sha! Mereka ngga memberikan aku kesempatan untuk dekat dengan kamu! Makanya aku ingin menghabiskan waktu berdua aja sama kamu. Salah?"
Fisha melengos, hatinya nyeri, dia tau Dika seperti enggan mendekati anak-anaknya. Bahkan Fisha sangat tau kalau Dika tak mempunyai niat mengambil hati anak-anaknya.
Merasa takut sang mantan suami mendengar pertengkarannya, Fisha memilih untuk mengajak Dika keluar dari kafe.
"Sebaiknya kita pulang Dik. Aku ngga tenang, soalnya udah terlalu lama ninggalin anak-anak!" pintanya sambil berdiri.
"Aku ngga bisa antar, ada pekerjaan," tolak Dika membuat Fisha menghela napas.
"Kamu janji akan mentransfer uangnya kan? Aku memerlukannya segera, demi masa depan kita sayang," rayu Ferdi kemudian.
Fisha hanya mengangguk lalu meninggalkan kafe dengan perasaan dongkol.
__ADS_1