
Fisha mengajak Dika bertemu dan di sanggupi oleh lelaki itu.
Mereka bertemu di sebuah restoran yang dulu sering mereka datangi.
"Maaf Dik, aku harus pulang ke kota. Ternyata suami dan mertuaku merasa bebas setelah kepergianku," jelas Fisha sendu.
"Lepaskanlah kalau memang menyesakkan. Kamu tau, seseorang yang sudah biasa berselingkuh akan kembali mengulangi perbuatannya," Tukas Dika.
Fisha tengah merenungi ucapan Dika. Hati kecilnya sangat tahu jika hubungan sang suami dengan Mily bukan di dasari oleh sebuah pengkhianatan tapi apa seiring berjalannya waktu keduanya akhirnya saling jatuh cinta?
Fisha tertawa getir saat membayangkan jika saat ini suami dan madunya pasti tengah bercengkerama hangat menyusun pernikahan istimewa mereka.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Dika cemas saat melihat Fisha tersenyum menyedihkan.
"Aku tengah menimang, jika nanti akhirnya kami bercerai, aku yakin istri muda suamiku akan merasa sangat puas telah berhasil menyingkirkanku," lirihnya.
"Lalu apa maumu?"
Fisha menghela napas, jika di tanya apa dia masih mencintai suaminya, jelas jawabannya iya. Karena mereka telah mengarungi rumah tangga selama hampir tujuh tahun lamanya.
Dengan berani Dika menggenggam tangan Fisha membuat Fisha membulatkan matanya tapi tak menolak perlakukan Dika padanya.
"Aku ... Bolehkah aku di berikan kesempatan untuk kembali padamu? Aku masih sangat mencintaimu. Meski ini terlihat buruk, aku ingin kamu tau ada lelaki yang masih menjadi rumahmu," ucap Dika yakin.
Fisha menatap tak percaya ucapan laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu.
Apa ini cara Tuhan memberikan kebahagiaan untuknya? Setelah di khianati ternyata dia di pertemukan kembali dengan seseorang dari masa lalunya yang masih sangat mencintainya. Pikir Fisha.
Fisha melepaskan genggaman tangan Dika, ada rasa risi sebab bagaimana pun dia masih sah istri seseorang.
"Terima kasih Dika, tapi aku ngga percaya diri kalau harus merajut kasih denganmu. Aku seorang janda dengan dua orang anak, sedangkan kamu? Aku yakin kamu masih bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku," ucap Fisha lemah.
"Aku mencintaimu, tentu saja aku menerima segala kekuranganmu. Aku juga yakin kamu masih mencintaiku, meski tersembunyi di sudut hatimu."
Fisha menelan kasar salivanya, dia merutuk diri karena Dika dengan mudah bisa menebak perasaannya.
"Biarkan aku menyelesaikan masalahku dulu Dik," pinta Fisha.
Dia tau status yang akan di sandangnya adalah seorang janda dengan dua orang anak. Ia tak bisa seperti dulu yang bisa menerima seseorang dengan mudah kalau hanya menyangkut perasaannya.
Kali ini ada putra putrinya yang harus dia turut sertakan perasaannya. Banyak pikiran yang kini hinggap di benaknya.
Bagaimana jika nanti sang anak menolak kehadiran orang baru dalam kehidupan mereka?
"Apa kamu memikirkan anak-anak?" tebak Dika yang tepat sasaran.
__ADS_1
Fisha akhirnya mengangguk mengutarakan kecemasannya. Dika lantas tersenyum, lalu kembali menggenggam tangan Fisha.
"Kenalkan aku pada anak-anak. Supaya mereka tau akan ada seseorang yang akan menjaga dan melindungi mereka kelak," ucap Dika yakin.
Fisha terkekeh, "kamu seperti sudah siap menjalin hubungan yang lebih serius saja Dik!" cibir Fisha yang tak terasa hatinya kembali berbunga.
"Tentu saja, aku udah cukup umur, mau cari yang kaya gimana lagi emangnya!" sungut Dika kesal.
Setelah pertemuan ini, Fisha dan Dika pergi menuju mobil masing-masing. Fisha sendiri belum memberitahukan keluarganya tentang pertemuannya dengan Dika kembali.
Tanpa terduga, Dika memeluk Fisha erat, membuat Fisha yang tak siap spontan balas memeluknya karena terkejut.
"Terima kasih karena mau memberiku kesempatan lagi Sha. Aku janji ngga akan mengecewakan kamu lagi," ujarnya.
Fisha yang terharu lantas menangis di pelukan mantan kekasihnya. Kini ia mantap melepaskan sang suami dan kembali merajut asa dengan mantan kekasihnya ini.
.
.
.
Di kantor, Ridho terperangah dengan sebuah pesan dari nomor asing yang mengirim gambar istrinya tengah bersama lelaki lain.
Foto terakhir membuatnya membelalak tak percaya, saat melihat sang istri memeluk laki-laki lain.
"Apa kamu emang sengaja melakukan ini Bun? Untuk membalas sakit hatimu?" monolog Ridho.
Suasana kantor sudah tak senyaman dulu. Bahkan Husain yang dulu sangat akrab dengannya juga seperti menjaga jarak dengannya.
***
"Sekarang sangat sulit untuk bertemu denganmu ya Sain?" sindir Ridho kala keduanya tengah menikmati kopi di sebuah kafe tak jauh dari kantor.
"Maaf Do, aku kecewa, tentu saja, orang yang kuanggap sebagai pedoman jika nanti berumah tangga nyatanya sama saja sepertiku," jawaban Husain seperti cibiran di telinga Ridho.
Mereka sudah tak seakrab dulu saat video tentang pelabrakan itu mengguncang nama baiknya.
"Seseorang yang berpangkat sepertimu seperti di perlakukan dengan spesial. Padahal kelakuanmu telah mencoreng nama perusahaan," sindir Husain yang tak lagi menutupi ke tidak sukaannya pada Ridho.
"Kamu marah karena itu? Aku bahkan sudah siap menanggung konsekuensinya Sain, tapi perusahaan tidak menyalahkanku sepenuhnya karena itu memang masalah pribadi. Mereka menilai kinerjaku, bukan hanya dari kasus itu!" sergah Ridho.
Ridho tak menyangka jika Husain yang ia anggap teman baik, bahkan tak mengenalnya sama sekali dan bahkan seperti menyudutkannya.
"Ah sudahlah Do! Lebih baik begini saja, hubungan kita ngga lebih dari atasan dan bawahan saja!"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu Husain pergi meninggalkan Ridho seorang diri. Padahal niat awal Ridho mengajak bertemu Husain adalah untuk meminta pendapatnya, tapi sepertinya semua telah berubah, dan Ridho harus menerima itu.
.
.
Fisha berjalan memasuki rumah bersama kedua anak dan perawatnya.
Ridho terkejut karena sang istri ternyata hanya beberapa hari pulang kampung halamannya sudah kembali.
Fisha pun terkejut saat mendapati sang suami masih berada di rumahnya.
"Bukannya aku udah bilang supaya kamu sudah pergi meninggalkan rumah ini sebelum aku pulang?" cibir Fisha yang sudah tak lagi menghormati suaminya itu.
Ridho tersenyum miris melihat perubahan sikap Fisha yang masih sah istrinya itu.
"Bunda bilang seminggu baru kembali, jadi ayah rasa ini belum waktunya ayah pergi,” meski begitu Ridho tetap membalas dengan lembut.
Setelah memberi jawaban pada Fisha, Ridho lantas mendekati anak-anaknya.
Dia mengambil Alma yang tadi dalam gendongan Firda.
"Halo anak-anak ayah, apa kalian senang liburan di rumah kakek nenek?" tanya Ridho meski tak mendapat jawaban dari putrinya. Hanya Alvian yang menjawabnya dengan anggukan karena bocah laki-laki itu masih sibuk dengan mainan barunya.
"Bahkan ayahnya ngga menyusul. Harusnya kamu datang menemui orang tuaku dan menjelaskan segalanya!" sindir Fisha.
"Kamu yang meminta waktu untuk sendiri, kalau ibu dan bapak meminta ayah untuk datang, sudah pasti ayah akan menemui mereka," elak Ridho
Fisha memutar bola matanya malas. Sudah pasti sang suami bisa menjawab semua pertanyaannya.
"Sudahlah, besok aku akan mengajukan gugatan perceraian. Jadi sebaiknya besok kamu udah pergi dari sini!" usir Fisha tanpa basa-basi.
"Apa kamu sudah ngga sabar ingin menjalin kasih dengan laki-laki lain Bun?" ucap Ridho yang membuat Fisha mematung.
"Apa maksudmu! Aku bukan kamu yang akan mudah berpaling!" balas Fisha dengan gugup.
"Benarkah?" sinis Ridho
.
.
.
Tbc
__ADS_1