
Semua orang terkejut mendengar ancaman Fisha, tak menyangka wanita yang mereka kenal lembut dan penyabar itu berubah menjadi sangat kejam.
"Apa maksudmu nak? Kamu berniat memisahkan anak dan ayahnya? Bapak ngga menyangka kamu akan jadi sekejam ini. Di mana hati nuranimu?" cecar Tirta yang kecewa dengan sikap putri bungsunya.
Marlina sendiri meski terkejut tapi lebih memilih diam, dia ingin tau apa yang sebenarnya sang putri inginkan dari suami dan keluarga mertuanya.
Elya sendiri tak habis pikir jika sang menantu bisa berubah seperti itu, di pikiran wanita paruh baya itu, mungkin karena hati yang terluka mampu merubah tabiat seseorang.
"Kalau kamu bersikeras seperti ini, maka aku akan menggugat hak asuh anak-anak agar jatuh padaku!" balas Ridho tak kalah tajam.
Ridho benar-benar sudah jengah dengan segala ancaman istrinya. Semua keinginan sang istri sudah berusaha ia turuti, tapi sepertinya itu tak cukup bagi Fisha.
"Kamu mengancamku? Mereka masih di bawah umur, sudah pasti aku akan menang di pengadilan!" pekik Fisha.
"Benarkah? Kita buktikan nanti, kalau kamu tetap memaksa."
Keduanya masih berada dalam perdebatan sengit, kedua orang tua mereka masih syok dengan berbagai ancaman yang keduanya lontarkan.
"Bisakah kita bicara dengan kepala dingin?" lerai Gunawan.
"Kamu kenapa Sha? Apa karena rumah yang papah berikan kepada Mily membuat hatimu tertutup dendam? Apa salahnya papah memberikan Mily rumah itu, dia juga sedang mengandung cucu kami?" tanya Gunawan tajam.
Fisha tertawa sinis, "terserah papah, kalau papah sudah mengakui anak itu sebagai cucu papah harusnya papah tak perlu memedulikan anak-anakku!" ketusnya.
"Fisha! Bapak tidak pernah mengajarkanmu untuk tidak sopan pada mertuamu!" sentak Tirta.
"Sebenarnya apa mau mu Bun? Semua sudah ayah turuti, dari semua harta gono gini yang tidak boleh ayah gugat, nafkah untuk anak-anak yang lebih besar pun sudah ayah turuti. Apa kamu tidak puas?" tanya Ridho dengan nada sedih.
Fisha melengos, saat ini semua memandangnya seperti perempuan serakah.
"Apa kamu bilang begitu Sha?" tanya Tirta tajam.
"Apa salah pak? Semua itu harta milik anak-anak kami, aku ngga rela Mily yang nanti akan menikmatinya!" balas Fisha tajam.
"Kenapa kamu jadi seperti ini nak?" lirih Tirta yang malu akan kelakuan putrinya.
"Bapak ngga akan tau betapa sakitnya hatiku. Bahkan kalau boleh mengulang, aku lebih memilih Mas Ridho di penjara dari pada harus bertanggung jawab pada Mily!" ucapnya yakin.
Ridho menatap sang istri sedih, sedangkan Elya terkesiap mendengar ucapan sang menantu. Dia tak menyangka, meski dirinya juga tidak setuju dengan pernikahan kedua putranya, tapi tak pernah terbesit di pikirannya lebih baik sang putra mendekam di balik jeruji besi.
Pembicaraan mereka terjeda kala asisten rumah tangga Elya mendatangi majikannya.
"Bu di luar ada tamu, namanya Mbak Mily," terang sang asisten.
__ADS_1
"Hah! Mau apa perempuan itu ke sini! Bikin runyam aja!" omelnya.
"Mah!" sergah Gunawan yang tak suka dengan nada bicara sang istri.
"Aku yang meminta Mily bergabung di sini juga. Supaya kalian tau perempuan seperti apa dia!" cibirnya.
Tak lama Mily masuk bersama Saidah dan Bian setelah Elya memberi perintah sang asisten rumah tangga untuk mengizinkan mereka masuk.
Mily menyalami paman dan Sakti, di balas dengan baik oleh keduanya. Namun saat mendekati Marlina, ia kembali tertolak seperti siang tadi.
Bahkan Elya pun hanya seujung jari saja menyentuhkan tangannya.
"Kamu baik-baik saja Nak?" ucap Gunawan lembut.
Perlakuan Gunawan tentu saja menyulut amarah Fisha dan Marlina di hati mereka.
"Baik Pah, maaf Mily datang ngga ngabarin Papah dan Tante Elya dulu," ucap Mily lembut.
Fisha mendengus mendengar ucapan Mily yang terkesan menjilat baginya.
"Kamu sehat Mil?" tanya Sakti yang sejak tadi memilih diam mendengarkan, lelaki berwajah tegas itu belum sekalipun angkat bicara.
"Baik mas Sakti," jawab Mily. "Bagaimana kabar Mbak Dian dan Radit?"
Meski Mily menjadi penyebab kandasnya rumah tangga sang adik, tapi Sakti tak bisa begitu saja membenci perempuan itu, terlebih lagi Sakti tau jika Mily juga menjadi korban di sini.
"Sudah Sakti! Ngapain kamu basa basi sama perempuan itu! Kamu ngga tau aja dia itu tadi sangat sombong dan mengusir ibu!" pekik Marlina.
"Ibu menemui Mily tanpa memberitahu bapak?" tanya Tirta tak percaya.
Marlina gelagapan mendengar pertanyaan sang suami. Namun dia berusaha tenang dan menjawab suaminya.
"Ibu ngga tahan ingin menemui Mily. Ternyata yang mereka ucapkan tak terbukti, katanya Mily hampir gila, nyatanya mereka terlihat seperti keluarga bahagia!" sungutnya.
Mily hanya bisa bersabar mendengar tuduhan budenya, dia datang karena permintaan Fisha. Dia sudah memberanikan diri menerima segala konsekuensinya saat ini.
"Saya sudah memenuhi undangan mbak Fisha untuk datang ke sini, jadi apa yang ingin mbak Fisha sampaikan?" tanya Mily datar.
"Papah Gunawan menolak mengambil kembali rumah yang beliau berikan padamu. Terserah padamu, aku hanya akan memutuskan hubungan mereka dengan cucu-cucunya kalau mereka menolak keinginanku!" ucap Fisha tegas meski sejak tadi tak ada yang mendukung keputusannya.
"Kamu masih ingat kan Bun ucapanku tadi? Apa kita akan meributkan hak asuh anak-anak?" Sela Ridho yang kembali dengan ancamannya.
"Kamu ngga akan layak mendapatkan hak asuh mereka, sudah pasti aku yang menang nanti. Pikirkan baik-baik jangan sampai kalian menyesal!" kekeh Fisha tak mau kalah.
__ADS_1
"Aku akan memberikan rumah itu untuk Mbak Fisha, aku harap mbak tidak memutuskan hubungan anak dan ayahnya mbak," pinta Mily.
"Tidak perlu Mily, itu adalah hak kamu. Jika Fisha menantang baiklah, mari kita bertaruh Bun," ucap Ridho dingin.
"Do! Kamu kenapa menantang istrimu? Jangan begini Do, masalah kalian ngga akan selesai," sergah Gunawan.
"Papah tenang aja, aku punya bukti yang juga akan memberatkan langkah Fisha jika dia masih bersih keras merampas hak Mily!" Kini Ridho tak segan-segan mengancam balik istrinya.
"Maksud kamu apa?" sinis Fisha.
"Kamu ngga usah pura-pura ngga tau, tadinya aku ngga berharap melakukan ini sama kamu Bun, tapi kamu semakin keterlaluan."
"Apa maksud kamu Ridho! Jangan bertele-tele!" pekik Fisha.
Tanpa banyak kata Ridho mengambil laptopnya dan meletakan di ujung meja menghadap semuanya.
Semua orang di sana bingung dengan kelakuan Ridho, tapi tak ada yang berani menyela.
Tak lama sebuah potongan gambar berputar di layar laptopnya.
Foto-foto Fisha bersama Dika di kampung halaman mereka. Bahkan video tentang mereka yang akan kembali merajut asa setelah perceraian mereka pun terekam jelas.
"Sha? Apa maksudnya ini?" lirih Tirta.
"Dika?" monolog Marlina yang mampu di dengar mereka semua.
Fisha yang murka lantas mendekati laptop milik Ridho dan membantingnya, membuat suara yang memekakkan telinga mereka semua.
"Kamu benar-benar brengsek! Kamu sengaja melakukan ini kan mas! Kamu membuntutiku!" teriaknya tak terima.
"Untuk apa aku melakukan hal seperti itu?" elak Ridho.
"Aku tau ini pasti ulah papah kan? Papah sengaja ingin membuat namaku semakin jelek!" tuduh Fisha pada ayah mertuanya.
Mereka semua tak habis pikir dengan perubahan Fisha yang seperti ini.
"Aku tau kalian pasti menjebakku!" ucap Fisha sambil menunjuk ke arah Mily dan keluarga mertuanya.
"Aarrrgggghhhh!!!" jerit Fisha sambil memegang kepalanya. Membuat semua orang terkejut.
.
.
__ADS_1
.Tbc