Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Curhat


__ADS_3

Ridho


Mily menyetujui lamaranku yang mendadak, dia akan meminta pamannya untuk menikahkan kami.


Meski dia sempat dilema karena pernikahan ini hanya berstatus siri. Namun aku berusaha meyakinkannya bahwa kelak aku akan memberi status asli padanya.


"Yah, bunda lihat akhir-akhir ini ayah seperti banyak pikiran. Apa ada masalah di kantor?"


Fisha duduk di pangkuan dan bermanja padaku. Astaga, aku tak menyangka jika pada akhirnya aku harus menyakiti hatinya.


Benar kata Mily, bagaimana perasaan Fisha jika tau kalau dirinya diam-diam di madu.


Beban yang kuemban saat ini tak mampu kutahan sendiri. Jadi dengan berat hati aku menceritakan keadaanku pada papah.


"Ngga papa ayah cuma lagi banyak pikiran aja, biasa," elakku berusaha tetap terlihat tenang di hadapan Fisha.


"Oh iya yah, Mily ke mana ya, kok susah sekali di hubungi. Dia baik-baik aja kan?"


Maafkan aku Fisha aku harus berbohong demi melindungimu. "Baik, kami sama-sama sedang sibuk memikirkan proyek, kamu jangan cemas ya."


***


Kudatangi kediaman orang tuaku yang letaknya tak begitu jauh dari tempat tinggalku.


Aku benar-benar butuh nasihat papah sekarang. Saat ini aku tak bisa percaya pada siapa pun selain papahku.


Namun aku juga tidak ingin mamah tau, bagaimana pun aku yakin dia tidak akan setuju dengan rencanaku yang akan menikah lagi.


Fisha menantu kesayangannya sekarang, meski dulu mamah selalu bersikap ketus padanya. Namun karena kesabaran Fisha, istriku itu mampu menaklukkan hati mamahku.


"Loh Do, mana anak dan istrimu? Tumben kamu ke sini sendiri?" tanya mamah saat aku menyalaminya.


"Iya mah, Ridho udah izin sama Fisha kok, ini pulang kantor langsung ke sini ada perlu sama papah."


"Perlu apa?"

__ADS_1


"Biasa mah proyek, Ridho butuh nasehat papah," dustaku.


Mamah memang tau kalau aku sering bertukar pikir dengan papahku mengenai masalah pekerjaan.


"Makanya banyak-banyak belajar kamu sama Papah Do! Siapa tau kelak kita bisa punya perusahaan sendiri," pinta mamahku.


"Aamiin," hanya itu yang bisa kuucapkan pada wanita yang telah melahirkanku ini.


"Papah di mana Mah?"


"Biasalah di ruang kerjanya," tanpa berlama-lama aku bergegas menemuinya di sana.


Papah sedang sibuk dengan beberapa kertas, kaca mata bertengger di hidung mancungnya. Aku sangat mirip dengan papah, kata beberapa orang.


Pintu kerjanya memang masih terbuka, tapi aku tetap mengetuk demi kesopanan, mamah selalu mengajariku seperti itu meski dia terkenal cerewet dan bermulut pedas.


Namun aku dan papah sangat mencintai mamah, tak peduli apa pun omongan orang.


"Eh Do, masuk. Kamu sendirian?" tanyanya dan bangkit berdiri, dia akan menyambutku dengan sebuah pelukan.


Inilah yang aku suka dari papah, sebuah pelukan yang mampu membuatku tenang, pundak yang mampu membuatku bersandar.


"Ada apa? Sepertinya kamu sedang ada masalah?"


Nah kan, papah sangat mengerti keadaanku. Bahkan belum sempat aku bercerita dia sudah bisa sedikit menebak.


"Kalau papah tebak sepertinya bukan karena pekerjaan," ujarnya sambil terkekeh.


Kubalik badan saat papah melepaskan pelukannya. Aku ingin bicara berdua dengannya, jadi sengaja kututup pintu ruangan papah agar mamah tidak mendengar percakapan kami.


"Ada apa? Sepertinya masalah serius?" kerutan di dahi papah terlihat sangat menonjol.


Aku mengajaknya duduk di sofa, dia mengikutiku.


"Pah, Ridho melalukan sebuah kesalahan besar," lirihku sambil menunduk. Terus terang aku tak sanggup melihat wajah kecewanya.

__ADS_1


Sebuah usapan di punggung membuatku menengadah menatapnya. Papah tersenyum, dia tidak menghakimiku dengan bertanya tentang masalahku.


"Ceritakan pelan-pelan. Nanti kita pikirkan solusinya," sungguh ucapan papah seperti sebuah oase di gurun pasir.


Kutelan kasar salivaku. Mataku memanas, sekuat tenaga aku menahan air mata ini agar tak tumpah. Aku tidak boleh lemah, meski beban ini terasa mengimpit dada, tapi aku harus menghadapinya sebagai seorang lelaki sejati.


"Ridho ... Ngga tau apa yang terjadi pah, malam itu—" aku tak sanggup mengatakannya. Tenggorokanku terasa tercekat.


"Tarik napas dan keluarkan perlahan Do, papah ngga akan menghakimi kamu. Jadi kamu pelan-pelan saja ceritanya."


"Ridho merebut kehormatan Mily pah, sampai Mily mengalami depresi."


Kulihat raut wajah papah berubah tegang. Dia bahkan menggenggam tanganku sangat erat.


"Kamu ... Maksud kamu bagaimana Do?"


"Malam itu Ridho mabuk dan tanpa sadar melakukannya dengan Mily, Ridho yakin ada yang menjebak kami berdua Pah," sergahku.


"Menjebak? Maksud kamu, ada orang yang dengan sengaja melalukan itu? Memangnya kamu pernah melakukan kesalahan apa Do?"


Baru akan menjawab, pintu kembali di ketuk, dan suara mamah menginterupsi kesal karena kami menutup pintu.


"Kenapa pintunya di tutup sih Pah! Ayo kalian mau main rahasia-rahasiaan sama mamah!"


Mamah meletakan nampan yang berisi minuman dan kue kering di atas meja. Kucium pipinya untuk mengungkapkan rasa terima kasihku.


"Hilih jangan ngerayu. Kalian ngobrolin apa? Kenapa kamu tampak kacau Do?" tanya mamah sambil mengusap pipiku lembut.


"Biasa, masalah proyeknya," papah yang menjawab pertanyaan mamah.


Aku bersyukur papah mau menutupi masalahku, biasanya apa pun yang mamah inginkan, papah akan sulit untuk menolaknya, semoga kali ini papah bisa membantuku menutupinya dari mamah.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2