
Ridho sudah melakukan berbagai usaha agar hubungannya dengan Mily tidak sampai terendus oleh Fisha dan juga orang yang mereka kenal.
Lelaki itu bahkan rela menempuh jarak jauh untuk mengantarkan Mily terapi di rumah sakit yang memang terletak di kota sebelah.
Saat sang istri bertanya jika temannya pernah melihat dirinya, Ridho berusaha terlihat biasa saja, meski rasa cemas tak bisa enyah.
"Di rumah sakit mana? Apa mungkin waktu mas antar Mily ke rumah sakit ya?" dustanya berusaha terlihat bingung.
Fisha malah lebih fokus pada keterangan sang suami yang mengatakan jika Mily memang sakit.
"Mas kok ngga pernah cerita kalau Mily sakit!" rajuknya.
Ridho terkekeh, meski batinnya masih di liputi rasa waswas. Namun saat melihat sang istri merajuk karena mengkhawatirkan istri keduanya dirinya bisa bernapas lega.
"Kamu tau sendiri Mily punya penyakit lambung akut. Kalau ngga salah waktu itu kambuh, mas yang maksa dia buat berobat," dustanya lancar.
Beruntung Fisha tidak curiga akan kebohongannya. Fisha sangat tau penyakit Mily, oleh karena itu dia percaya ucapan sang suami.
"Kasihan Mily, kamu juga jadi atasan jangan kejem-kejem banget lah Mas, penyakit lambung itu bukan karena telat makan aja, lebih sering karena stres tau. Mana sekarang Mily keliatan kurusan," lirihnya di akhir kalimat.
"Nanti aku main lah ke kosannya, udah lama juga ngga main ke sana," ucap Fisha yang seketika membuat Ridho ketakutan.
Bisa kacau jika Fisha tau kalau Mily memiliki sebuah rumah. Meski Minimalis, tapi harga rumah itu tak akan sepadan dengan gaji Mily.
Fisha bukan orang bodoh, lagi pula istrinya itu tau jika ibu dan adik Mily bergantung pada penghasilan gadis itu.
"Nanti aku minta Mily ke sini aja ya, bukannya kamu sibuk sekarang? Ingat loh ada dua usaha yang perlu perhatian kamu. Jangan kamu limpahkan sama bawahan kamu aja."
Mati-matian Ridho membujuk istrinya agar tak menemui Mily. Hidupnya makin terasa sulit, setiap saat dirinya di paksa harus waspada dan belajar berkelit.
__ADS_1
Benar memang, jika sekali berbohong maka akan ada kebohongan-kebohongan lain untuk menutupinya.
Fisha mencerna ucapan sang suami, dirinya tak lagi bisa menyanggah. Memang usahanya sedang berkembang pesat. Terlebih lagi cabang butik barunya terletak jauh dari kediamannya.
Sebenarnya Fisha sangat mengkhawatirkan keadaan Mily, bagaimana pun dulu dia yang membawanya ke kota ini. Ibu Mily sudah menitipkan gadis itu padanya.
"Mily juga sekarang susah di hubungi Mas, dia juga sudah jarang ke sini. Aku merindukan dia tau," keluh Fisha.
"Iya nanti mas coba ngomong sama Mily, supaya meluangkan waktu buat kamu ya."
"Apa jangan-jangan Mily punya kekasih ya Mas?" Fisha sangat antusias dengan pemikirannya sendiri.
Sedangkan Ridho hanya terkekeh menanggapi pemikiran sang istri.
Bodohnya ia bukannya menyetujui ucapan sang istri Ridho malah berkata yang sebenarnya.
Yang ada dia udah menikah denganku bun, tambahnya dalam hati.
***
Pagi hari di kantor, penampilan Mily semakin bertambah buruk. Kantung matanya sangat hitam, gadis itu seperti tak bisa tidur berhari-hari.
Ridho hanya melihatnya sekilas tanpa berniat menyapanya, lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangannya sendiri.
Saat sedang melakukan rapat intern di departemennya, Mily banyak melamun dengan tatapan kosong. Mily benar-benar tak memperhatikan materi yang tengah di sampaikan oleh Ridho
Bahkan gadis itu terlonjak kaget saat mendapatkan tepukan di bahunya oleh Selomita.
"Kamu kenapa Mil, akhir-akhir ini kamu berubah drastis, apa ada yang mengganggu pikiranmu? Bahkan pekerjaanmu sedikit berantakan. Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Selomita khawatir.
__ADS_1
Bahkan di ruang rapat kelaluan Mily membuat Ridho sangat kesal. Sudah tidak fokus bekerja, pekerjaannya pun berantakan.
Saat ini Mily hanya bisa menangis sesenggukan di pelukan Selomita.
"Ceritalah Mil, siapa tau itu bisa meringankan bebanmu," pinta Selomita.
Bahkan penampilan Mily semakin berubah, dulu gadis itu selalu berpakaian modis, tapi sekarang selalu mengenakan kemeja tangan panjang. Meski cuaca di kota sedang panas-panasnya.
Hal itu sengaja dilakukan oleh Mily, karena bekas luka akibat niatnya mengakhiri hidup masih terlihat jelas. Dia tidak ingin membuat teman-temannya curiga.
"Pak Ridho juga semakin aneh saja, dulu dia selalu sabar menghadapi karyawan, tapi sekarang sama kamu selalu marah-marah. Padahal kalau ngomong baik-baik juga aku yakin kamu pasti mengerti," ujar Selomita.
Mily mendesah pasrah, ia tahu mengapa Ridho seperti membencinya. Laki-laki itu masih menaruh curiga padanya.
Batin Mily menjerit, apa keadaannya sekarang tak di sadari oleh suaminya? Apa lelaki itu berpikir bahwa ia tengah berpura-pura.
"Hei kenapa kamu semakin murung? Gimana kalau kita menemui keluargamu di kampung? Sekalian liburan?" ajak Selomita.
Mily buru-buru menengadah dan menggeleng. "Aku kemarin sudah banyak menghabiskan waktu di sana Mit. Aku tengah berpikir, apa sebaiknya aku keluar saja dari sini ya," lirih Mily.
Selomita terkejut bukan main dengan rencana Mily, mengapa gadis di hadapannya ini seolah begitu mudah meninggalkan perusahaan mereka, di mana dulu dia begitu susah payah agar bisa masuk ke sana.
.
.
.
Tbc
__ADS_1