
Fisha semakin murka kala mengetahui sang suami bahkan lebih membela Mily dengan membentaknya.
Ridho yang merasa telah melakukan kesalahan fatal, lantas mendekat berusaha memberi pengertian pada istri pertamanya.
Fisha menangis karena ulahnya, Ridho benar-benar di posisi sulit saat ini.
Tiba-tiba Mily menangis dan kembali mengamuk, membuat Fisha terdiam tak percaya. Di saat obat penenang mulai bekerja, Mily mengucapkan kata maaf dengan terbata dan menutup matanya.
Fisha keluar dengan langkah lunglai. Ia tau Mily tidak baik-baik saja, ia terluka, Mily pun terluka, tapi ia tak bisa menerima takdir yang menurutnya sangat kejam.
"Bunda tunggu!" sergah Ridho menghadang langkah sang istri.
"Maafkan aku Bun, maaf. Ayah bakal mindahin Mily ke rumah sakit lain. Bukan ngga memperhatikan Alma, tapi bunda lihatkan kondisi Mily sedang sakit Bun."
Ridho benar-benar tengah di liputi kekalutan, Fisha menepis kasar tangannya.
"Aku mau bercerai!" Fisha mengatakan itu dengan dingin membuat Ridho membeku seketika.
Fisha kembali ke kamar inap sang putri. Ternyata Alma sudah bangun dan saat ini tengah di suapi oleh mertuanya.
Karena sudah menahan sesak di dada sedari tadi, akhirnya air mata itu luruh juga tanpa bisa di cegah.
"Fisha kamu kenapa?"
"Bunda kenapa?"
Pertanyaan ibu mertua dan putrinya tak mampu menghentikan tangisnya. Sekuat tenaga ia ingin berhenti, tapi tak bisa, seolah air mata itu tak bisa di kendalikan oleh otaknya.
Elya datang dan memeluk tubuh menantunya. Setengah jam Fisha menangis di pelukan mertuanya. Kini ia sudah mulai bisa menenangkan diri.
Alma di tenangkan oleh Gunawan yang mengajaknya bermain di dekat jendela kaca.
"Mah, mas Ridho keterlaluan, dia lebih memilih merawat istri mudanya ketimbang Alma putri kami," lirihnya.
"Ridho di sini?" tanya Elya terkejut. Fisha hanya mampu mengangguk.
"Dasar kurang ajar! Anak kampung! Kamu tau di mana dia? Biar mamah samperin dia!" ujar Elya berapi-api.
"Mah sudah, ini rumah sakit, kita tunggu penjelasan Ridho. Papah yakin bukan maksud Ridho menelantarkan Alma Fisha, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Mily. Gadis itu pasti kembali kambuh depresinya."
Gunawan berusaha menjadi penengah antara menantu dan putranya, sayangnya itu di tanggapi lain oleh Fisha dan juga istrinya.
"Papah selalu membela wanita murahan itu! Apa sih hebatnya dia!" ketus Elya.
Gunawan menarik napasnya perlahan, mencoba sabar menghadapi istrinya.
"Murahan? Apa Mily menggoda Ridho? Justru Ridho yang sudah memperkosanya, dari mananya yang murahan? Karena menikahinya? Itu bentuk tanggung jawab Ridho, papah bingung dengan pemikiran kalian!" sentaknya.
"Loh kok papah jadi memarahi kami? Fisha sudah memperlihatkan gambar dan video di mana malah Mily yang memapah Ridho masuk ke kamar itu! Bukannya itu murahan?"
__ADS_1
"Ah sudahlah, pokoknya mamah ngga akan biarkan dia, dia harus menyingkir jauh-jauh dari kehidupan kita!" Ancam Elya.
Fisha masih bergeming, dia masih mengingat jelas bagaimana sang suami yang selama ini tak pernah berkata kasar bahkan mampu membentaknya.
Hatinya sangat sakit, dia ingin menyerah, Ridho sudah berubah, dan dia benci itu.
Tak ada lagi pasangan harmonis yang dulu selalu membuat orang lain iri. Fisha tak menyangka jika cerita tentang pengkhianatan yang dulu sering ia baca di sebuah novel Online kini ia rasakan.
"Fisha, sebaiknya kamu pulang dan istirahat saja, biar papah dan mamah yang menjaga Alma. Kamu tenangkan diri dulu," pinta Gunawan saat ia sudah kehabisan akal mencoba membungkam istrinya yang terus saja mengomel sejak tadi.
Fisha menuruti keinginan ayah mertuanya. Ia memang akan menenangkan diri sejenak.
Dia tidak pulang, melainkan menemui sahabatnya Mely. Keduanya bertemu di sebuah kafe yang biasa mereka kunjungi.
"Udah lama nunggu? Maaf ya, banyak klien hari ini," ujar Mely setelah mendudukkan diri di hadapan sahabatnya itu.
"Kamu kenapa? Kelihatan kusut ngga kaya biasanya?" lanjutnya.
"Mel, Ridho selingkuh," lirih Fisha memberitahu sahabatnya.
"What! Ngga salah? Suami idamanmu itu selingkuh, sama siapa?"
"Mily."
Mely semakin terperangah tak percaya, orang yang sudah di tolong oleh sahabatnya itu kini menikamnya.
"Bahkan anjing aja tau mengibaskan ekor sama orang yang udah kasih dia tulang. Temanmu itu harus di kasih perumpamaan apa yang cocok," ucapnya kesal.
Mely memang seorang pengacara, jadi dia tau saat ini pasti Fisha menemuinya untuk berkonsultasi.
"Kamu menemuiku pasti ada sesuatu kan?”
"Iya Mel, aku bingung, apa yang sebaiknya aku lakukan Mel."
"Ceritalah, siapa tau aku bisa memberikan solusi bagimu," pintanya.
Fisha lantas menceritakan permasalahannya dengan sang suami dan Mily, Mely mendengarkan dengan saksama tanpa menyela sama sekali.
Setelah usai mengatakan itu Fisha terdiam dan saatnya Mely memberi tanggapan.
"Jadi pernikahan Ridho hanya sebatas tanggung jawab? Dan dia berjanji akan menceraikan Mily setelahnya?"
Fisha mengangguk. "Kenapa kamu ngga beri kesempatan sama suamimu? Dia ngga pernah melakukan hubungan suami istri dan hanya sebatas nafkah materi. Kamu masih bisa mempertahankan dia, aku tau sakit, tapi semua terserah padamu," ujar Mely.
Sebenarnya Mely sangat menyayangkan jika Fisha memilih bercerai dari Ridho. Namun ia juga tak bisa memaksakan keinginannya, semua terserah pada Fisha.
"Pikirkan anak-anakmu Sha, jangan biarkan Mily merampas semua milikmu," Mely berharap gertakannya itu mampu mengurungkan niat Fisha.
Sebab dia yakin rumah tangga sahabatnya itu masih bisa di selamatkan, dia tak ingin perebut suami orang yang menang, meski dalam kasus ini Mely tak tau apa yang di katakan Ridho pada Fisha itu benar atau tidak.
__ADS_1
"Engga bisa Mel, aku akan selalu di bayangi oleh pengkhianatan mereka, terlebih lagi, saat ini wanita itu tengah mengandung, aku ngga sanggup."
"Ya sudah, sebaiknya kamu bicarakan dulu dengan suamimu, apa yang kamu tuntut nantinya?"
"Harta bersama harus menjadi milikku, tak sudi aku kalau Mily menikmati semua hasil jerih paya kami, itu adalah hak anak-anakku!"
"Aku tak bisa membantu banyak, kalau Ridho menuntut harta gono-gini itu wajar, jadi kamu harus memiliki strategi agar Ridho mau melepaskan hartanya untuk anak kalian."
Setelah berbincang, Mely mengatakan apa saja yang harus di persiapkan Fisha dalam mengajukan gugatan perceraian. Setelahnya Fisha kembali ke rumah untuk mempersiapkan semuanya.
Fisha tak mau berlama-lama hidup dalam kesakitan seperti ini, dia bukan mengalah, tapi pergi meninggalkan luka yang setiap saat bisa menganga.
Dirinya harus kembali berdecak kesal saat mendapati mobil Ridho sudah berada di rumah.
Ridho menyambut sang istri saat mendengar suara mobil sang istri memasuki rumah.
"Bun, dari mana?"
"Ketemu Mely," jawab Fisha jujur.
Ridho yang tahu profesi Mely sebagai pengacara membuatnya terenyak. Dulu pertemuan mereka ia anggap biasa, berbeda dengan situasi saat ini.
"Ada apa Bunda bertemu dengan Mely?" tanya Ridho berusaha tenang.
"Mengurus gugatan perceraian kita!"
Ridho tersentak, ia tak menyangka jika sang istri akan benar-benar melakukan ancamannya.
"Apa sudah tidak ada lagi cinta di hati bunda untuk ayah? Hingga membuat bunda ingin meninggalkan ayah begitu saja?" lirih Ridho.
"Aku masih sangat mencintai kamu, tapi kamu yang membuatku luka seperti ini, jadi kamu harus terima konsekuensinya. Bukankah ini memperlancar rencanamu?" tanya Fisha sinis.
"Apa maksud Bunda?"
"Bukankah kamu ingin memberikan status untuk Mily, jadi harusnya kamu senang karena bisa mewujudkan keinginan wanita murahan itu."
Sakit rasanya mendengar Fisha menghina Mily yang sebenarnya adalah korban, tapi tak bisa membelanya karena ia takut akan membuat Fisha semakin terluka.
"Tapi bukan seperti ini bun, bukan dengan perceraian. Ayah mohon."
"Keputusanku sudah bulat, aku menyerah, anak-anak akan bersamaku. Dan ... Untuk harta, aku harap kamu mengalah, itu semua adalah hak anak-anak kita."
Setelah mengatakan hal itu Fisha memilih berlalu meninggalkan Ridho yang masih mematung.
.
.
.
__ADS_1
Tbc