
Setelah kejadian nahas itu, aku harus beristirahat selama hampir dua minggu lamanya.
Saat di kantor, statusku tetaplah bawahan Bang Ridho tidak lebih, meski aku adalah istrinya.
Hari ini aku tinggal di rumah baru, rumah yang sengaja Bang Ridho sewa untuk tempat tinggalku sementara.
Aku tak menanyakan seperti apa rumah pemberian Bang Ridho itu.
Rumah di kawasan perumahan itu juga tak terlalu banyak penghuninya.
Aku membawa turut serta Bi Imah tinggal di sana. Jika dulu Bi Imah bekerja di kosanku hanya pada saat aku membutuhkan tenaganya saja, kali ini aku memintanya menemaniku.
Bang Ridho mengiyakan saja keinginanku, dia bahkan tak keberatan jika aku mengajak serta suami Bi Imah, untuk membantu menjaga rumah nanti.
"Pak Ridho makin lama makin ganteng ya Mil, beruntung banget Bu Fisha, uuuuhhh ... aku ngga bisa bayangin bangun pagi di suguhi pemandangan wajah Pak Ridho, pasti jadi moodboster banget," ucap Selomita dengan mata berbinar.
Aku tidak merasa kaget, sebab sejak awal kenal dengan gadis ini, gadis itu sangat mengagumi Bang Ridho.
"Beruntung banget kamu bisa akrab sama Pak Ridho tau Mil," gadis itu mendesah lesu.
Andai dia tau lelaki yang sangat di kaguminya itu ternyata suamiku juga, tak terbayang bagaimana reaksinya, kemungkinan dia akan membenciku.
Saat baru saja selesai berbincang dengan Selomita, pandanganku bertemu dengan Bang Ridho yang kembali lewat di hadapan kami. Dia tersenyum kepadaku, tak ada maknanya, karena memang Bang Ridho adalah pria yang ramah.
Kembali kutekuni semua pekerjaan yang terbengkalai kala aku izin cuti kemarin. Meski pekerjaan utamaku sudah di selesaikan oleh Selomita dan rekan lainnya. Bersyukur aku memiliki teman baik seperti mereka.
"Makan siang yuk?" ajak Bang Ridho. Lelaki itu berdiri tepat di tengah-tengah kubikel kami. Jadi aku pikir itu ajakan pada semuanya, bukan hanya padaku.
Selomita jelas antusias menerima ajakan lelaki itu. Terkadang rekan kami yang lain sangat risih melihat bagaimana Selomita mengagumi sosok Bang Ridho secara berlebihan.
"Kita pakai berapa mobil?" pertanyaan itu muncul dari Husain, lelaki bertubuh tambun.
Kami makan berlima, aku, Bang Ridho, Selomita, Ferdi dan Husain.
__ADS_1
"Pakai mobilmu saja Fer, soalnya dekat dengan mobilku," pinta Bang Ridho.
Aku memilih melangkah mendekati mobil Ferdi, Selomita sendiri aku yakin ingin satu mobil dengan Bang Ridho.
"Mily, kamu ikut abang," pinta Bang Ridho yang membuatku tengah berjalan, kembali menoleh.
"Ng-ngga papa Bang, saya sama Bang Ferdi aja," jawabku kikuk.
Semua memandangku dengan aneh, mungkin ini kali pertama aku menolak ajakan Bang Ridho.
Dulu sebelum ada bencana itu, memang aku selalu tak mempermasalahkan bila satu mobil dengannya, tapi rasanya agak canggung mengingat status kami yang sudah berbeda.
"Kamu aneh banget Mil, biasanya juga udah masuk duluan ke mobil," Selomita menarik tanganku dan membukakan pintu mobil bagian depan.
Itu memang sudah biasa aku lakukan, tapi itu dulu, saat statusku dan Bang Ridho hanya sebatas kakak dan adik.
Meski dulu Selomita yang selalu ingin merasakan duduk di sebelah Bang Ridho, aku selalu menolaknya.
Aku berkata padanya jika nanti dirinya tambah kepincut dengan suami dari wanita yang sudah kuanggap sebagai kakak.
Mungkin rasa minder dan perasaan munafik karena dulu pernah mengatai Selomita.
Ketakutan akan perempuan penggoda malah jatuh padaku, karena saat ini posisiku adalah istri kedua lelaki yang di kaguminya itu.
"Sel, kamu di depan ya, kepalaku puyeng pengen di belakang," dustaku.
Lagi-lagi Selomita menaikkan satu alisnya, bahkan gadis itu memegang keningku dengan punggung tangannya, seperti memeriksa keadaanku.
"Sakit kamu Mina?"
"Kamu sakit Mina?" pertanyaan itu datang dari Bang Ridho.
Buru-buru aku mengelak dengan menggoyangkan kedua telapak tanganku.
__ADS_1
"Engga Bang, cuma lagi pengen di belakang aja," aku kembali berbohong.
Bang Ridho menghembuskan napasnya kasar, mengerti akan tolakanku.
"Ayo jadi ngga, kenapa malah kalian berdua masih berdiri aja!" Ferdi yang sudah berada di balik kemudi bersama Husain menginterupsi kegiatan kami.
Akhirnya aku memilih segera menaiki mobil dan duduk di kursi penumpang, memaksa Selomita duduk di depan bersama Bang Ridho.
"Kamu yakin ngga papa Mil?" kulihat dari kaca spion Bang Ridho terlihat mengkhawatirkan aku.
"Ngga papa Bang," jawabku lirih.
Perhatian itu ternyata membuat Selomita tampak mengernyitkan keningnya.
Aku makan tanpa selera, sedangkan mereka semua masih tertawa dengan obrolan yang aku sendiri tak mengerti.
"Kamu kenapa Mil, sekarang kamu berubah, lebih banyak melamun," sela Selomita padaku.
"Ah ngga papa Sel, aku memikirkan ibu dan adikku saja. Aku ....merindukan mereka," lirihku.
Aku tak berbohong tentang kerinduan yang membuncah ini. Aku ingin bercerita pada Selomita tapi aku takut dia akan menghakimiku.
"Pulanglah, bukannya kampung halamanmu ngga jauh dari sini? Apa mau aku temani?" tawar Selomita.
"Benar Mil, siapa tau setelah bertemu dengan keluarga, kamu jadi semangat lagi bekerja," sambung Husain.
Bang Ridho hanya bisa menunduk sambil mengaduk minumannya.
"Pak Ridho setuju kan dengan usulan kami?" tanya Selomita dengan senyum ceria.
.
.
__ADS_1
.
Tbc