Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Sidang perceraian


__ADS_3

Kini Mily berada di rumah seorang diri setelah ibu dan adiknya pamit untuk pulang kampung.


Hari-hari berlalu, Mily menikmati pekerjaan barunya, menjadi seorang manajer ternyata tak sesulit yang ia bayangkan.


Suasana kerjanya juga sangat nyaman, para pekerja tak terlalu kaku padanya meski dia adalah atasan mereka.


Mily memang selalu berusaha mengakrabkan diri dengan para pekerja restoran.


Perutnya kini terlihat sedikit buncit sebab kehamilannya sudah memasuki akhir semester pertama.


Mual muntah tak lagi dia rasakan. Dia juga senang karena Ridho mau menemaninya ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


Hubungan mereka masih berjalan di tempat, karena keduanya memang tak berusaha mengakrabkan diri.


"Hari ini, Abang akan menghadiri sidang perceraian," ucap Ridho saat sarapan bersama Mily.


Dia memang sengaja mendatangi kediaman Mily pagi ini untuk membawakan istri keduanya itu sarapan. Semua itu atas permintaan Gunawan, sebab sang ayah mengkhawatirkan keadaan menantunya yang tinggal seorang diri.


Bi Imah yang biasa membantu Mily baru saja izin pulang kemarin sebab harus mendatangi acara hajatan salah satu keluarganya di kampung, hanya tiga hari janji wanita paruh baya itu.


Saat mendengar ucapan sang suami Mily tau ada perasaan terluka di sana, dia hanya diam tak mampu berkata-kata.


Ridho mengantar Mily untuk bekerja, sebelum akhirnya dia akan ke pengadilan agama.


Di dalam mobil mereka masih saja diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya Mily sudah menolak keinginan sang suami yang akan mengantarnya, tapi Ridho memaksa.


Maafkan Mily bang, Mily ngga tau harus berkata apa.


Ingin berkata semoga lancar, terkesan jika ia menginginkan perceraian keduanya, oleh sebab itu Mily memilih diam, bukan tak peduli, hanya memilih kalimat yang pas membuatnya bingung.


Ridho sudah sampai di depan ruang sidang. Duduk seorang diri, sebab Fisha belum menunjukkan batang hidungnya.


Tak lama suara sepatu hak tinggi terdengar mendekat ke arahnya membuat Ridho menoleh.


Fisha datang bersama seorang laki-laki muda yang berpenampilan rapi, Ridho menebak dia adalah pengacara yang di sewa sang istri.


"Pak Ridho? Kenalkan saya Dimas, pengacara yang di tunjuk Bu Fisha untuk mendampinginya," sapa Dimas memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Ridho tersenyum dan menyambut uluran tangan pengacara istrinya.

__ADS_1


Mereka duduk saling berseberangan, menunggu pihak pengadilan memanggil keduanya.


Keduanya lantas di minta untuk mediasi, di ruangan mediasi ada seorang petugas yang menjadi mediator keduanya.


"Bu Fisha apa tidak bisa di pikirkan kembali keputusannya?"


Tanya seorang mediator pada Fisha yang saat ini berwajah angkuh. Bohong jika Fisha tidak merindukan suaminya.


Bahkan suaminya itu tak berubah sedikit pun, masih tampan dan memesona.


Fisha berpikir jika sang suami tak akan mampu mengurus dirinya sendiri. Fisha lupa jika Ridho adalah pribadi yang mandiri sejak dulu, tanpa Fisha pun ia masih sanggup mengurus dirinya.


Namun di pikiran Fisha yang penuh dengan prasangka buruk, ia yakin kini Mily yang sudah menggantikan tugasnya itu.


"Saya tidak akan merubah keputusan saya pak," balas Fisha dingin.


Sang mediator menatap Ridho dan bertanya hal yang sama seperti pada pasangan yang hendak berpisah.


"Apa bapak menerima keputusan istri bapak?"


"Ya saya akan mengabulkan keinginannya," jawab Ridho lemah.


"Baiklah sepertinya kedua belah pihak sudah sepakat untuk berpisah, jadi sidang selanjutnya akan di adakan kembali untuk membacakan putusan," sang mediator lalu membereskan berkas mereka dan meninggalkan kedua pasangan itu.


"Baiklah, kita bicara di kafe depan saja," ajak Ridho lalu ketiganya bangkit.


Hari ini Ridho memang izin cuti pada kantornya, dia akan mengunjungi anak-anaknya setelah sekian lama di halang-halangi oleh sang istri.


Di dalam kafe, suasana tampak sangat tegang. Dimas tau keduanya seperti tengah memendam rasa masing-masing, jika Dimas tau apa yang di inginkan kliennya, berbanding terbalik dengan apa yang akan di tuntut oleh lawan kliennya ini.


"Begini pak Ridho menurut permintaan Bu Fisha, bapak katanya sudah menyerahkan semua harta gono-gini kepada klien saya?"


Ridho mengangguk membenarkan, lalu Dimas membuka kembali lembaran kertasnya.


"Saya akan membacakan apa saja harta yang kalian hasilkan selama berumah tangga ya pak," jelas Dimas.


"Silakan."


"Harta yang kalian miliki adalah sebuah rumah di jalan Senopati, dua buah mobil, satu Fortuner dan Honda CRV, lima batang logam mulia sebesar seratus gram, beberapa set perhiasan dengan total lima ratus juta, dua buah ruko di jalan Gayuhan dan jalan darma wangsa, serta tabungan senilai dua koma tiga miliar. Benar pak?"

__ADS_1


"Sepertinya, saya tidak terlalu tau berapa aset yang kami miliki, sebab saya menyerahkan semuanya pada istri saya," jelas Ridho pasrah.


Tak ada niat di hati laki-laki itu untuk meminta pembagian harta bersama, satu yang ia inginkan adalah di izinkannya waktu bertemu dengan kedua buah hatinya.


"Bapak akan menyerahkan semua itu pada Bu Fisha dengan suka rela?" tanya Dimas meyakinkan.


"Ya saya serahkan semuanya untuk anak-anak saya," jelas Ridho.


Fisha lantas menyikut lengan Dimas untuk membacakan permintaannya selanjutnya.


"Dan satu lagi pak, rumah yang di jalan Dirgantara di hasilkan selama pernikahan kalian kan?" tanya Dimas hati-hati.


Benar saja, mendengar alamat rumah milik Mily di usik, Ridho pun menatap sang istri tajam. Fisha hanya membuang muka untuk menghindari tatapan sang suami.


"Bukankah aku sudah peringatkan untuk tidak mengganggu gugat rumah itu? Atau kamu mau aku balik menuntut semuanya?" ancam Ridho.


"Tunggu pak! Bapak tadi sudah saya tanyakan setuju dengan semua harta gono gini yang akan di serahkan pada klien saya, tolong jangan mengancam seperti ini!" sela Dimas.


"Anda tentu paham, harta yang di hasilkan bersama dengan harta warisan itu berbeda, rumah itu adalah pemberian ayah saya, jadi tak ada hubungannya dengan harta gino gini! Dan saya sudah mengatakan itu jauh-jauh hari," jelas Ridho tajam.


Dimas menghela napas lalu menatap kliennya, "benarkah itu Bu Fisha?" meski sudah tau tapi Dimas harus menanyakan hal itu di depan lawan kliennya juga.


"Aku tetap menuntutnya karena merasa itu hak anak-anak saya," jawab Fisha tenang.


"Maaf Bu Fisha kalau harta warisan tak akan bisa masuk dalam harta gono gini," jelas Dimas yang membuat Fisha menoleh padanya.


"Lakukan saja tugasmu, usut rumah itu juga!" kekeh Fisha, membuat Dimas mau tak mau menatap Ridho.


"Kita lanjutkan dulu masalah tunjangan, nanti baru kita bahas masalah rumah itu," Dimas memilih mengalihkan topiknya.


"Bu Fisha menuntut nafkah untuk kedua anak kalian sebesar dua puluh juta rupiah," meski enggan, mau tak mau Dimas harus mengungkapkannya.


Benar saja, Ridho langsung membelakan mata mendengar tuntutan nafkah sang istri.


"Apa kamu gila Fisha!" bentaknya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2