Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Kado bernilai mahal


__ADS_3

Ridho memikirkan ucapan Mily beberapa hari lalu yang meminta cerai.


"Mas kenapa? Kok ngelamun?" tanya Fisha sambil meletakan kopi di meja kerja sang suami.


"Engga papa sayang, anak-anak mana?" Ridho menarik pinggang sang istri agar duduk di pangkuannya.


"Ish!" keluh Fisha yang terkejut dan memukul pelan dada sang suami.


"Anak-anak main di depan."


"Kamu kenapa akhir-akhir ini banyak ngelamun?"


Fisha memang memperhatikan perubahan sikap sang suami yang akhir-akhir ini lebih banyak diam.


Awalnya Fisha membiarkan semuanya, sebab dia pikir mungkin pekerjaan sang suami sedang banyak menguras pikirannya, tapi yang aneh, Fisha sering mendapati Ridho tengah melamun bukan di ruangan kerjanya saja.


"Masa sih?" elak Ridho yang segera mengangkat tubuh istrinya, agar tak banyak bertanya.


Ia juga merasa bersalah pada keluarga kecilnya, karena terlalu memikirkan Mily istri keduanya, dia bahkan sedikit mengabaikan mereka.


Fisha yang tau apa keinginan sang suami tak menolak sedikit pun. Mereka menghabiskan malam panas di ruangan kerja sang suami.


"Anak-anak merindukan Mily mas, sekarang Mily bahkan ngga pernah mau datang ke sini!"


"Apa kamu tau kalau Mily tinggal di rumah temannya? Aku pernah kirim pesan sama dia, apa dia udah kembali ke kosan, tapi belum di jawab sama dia, apa Mily pindah sama temannya ya Mas?"


"Kamu tau dari mana Mily tinggal sama temannya?"


Fisha tersenyum malu, "waktu itu aku ngajak dia ketemu, pas aku bilang mau ke kosannya, dia bilang lagi di rumah temannya, jadi kita ke temuan di kafe," jelas Fisha.


Ridho terkejut dengan penjelasan istrinya yang pernah bertemu dengan Mily. Dulu hal itu di anggap biasa saja oleh Ridho, tapi sekarang setelah status keduanya berubah, Ridho memang berharap jika Fisha tak terlalu akrab lagi dengan Mily, sebab takut Mily kelepasan bicara.


"Ayah ngga tau Bun, mungkin aja," elaknya.


Fisha membetulkan pakaiannya, akibat dari serangan mendadak sang suami tadi.


"Aku merasa harus tetap bertanggung jawab pada Mily mas, bagaimana pun dulu ibunya menitipkan dia sama aku, gimana kalau ternyata teman Mily itu ngga bener? Atau jangan-jangan Mily tinggal sama laki-laki?"


Seketika Fisha menutup mulutnya dengan tangan karena ucapannya justru membuatnya semakin ke pikiran.


"Kamu aneh-aneh aja Bun, kamu kenal Mily kan, mana mungkin dia begitu!"


"Bisa jadi kan mas, apalagi aku ngerasa bersalah sama dia," lirih Fisha sambil memainkan kerah baju suaminya.


"Maksud kamu apa?"


"Selama ini, Mily itu pendengar yang baik mas, dia selalu mendengarkan apa pun curhatanku. Sedangkan aku? Aku ngga pernah tanya kehidupannya, jujur aja aku bahkan sama sekali ngga tau apa pun kesukaannya."

__ADS_1


Di benak Ridho justru merasakan hal lain. Apa Mily iri akan kehidupan Fisha karena selalu mendengar cerita istrinya itu.


Meski berusaha menampik pikiran kalau Mily bukanlah orang yang menjebaknya, tapi terkadang pikiran-pikiran itu masih ada.


Suara ketukan membuat keduanya segera bangkit. Ternyata orang tua Ridho yang datang berkunjung.


Batin Ridho bersorak gembira, dia memang ingin bercerita kepada sang ayah tentang masalahnya. Sang ayah memang sedang berada di luar kota beberapa hari lalu. Sepertinya ia baru saja kembali.


"Papah kapan pulang?" sapa Fisha kepada ayah mertuanya.


"Kemarin, ini oleh-oleh buat kamu, buat anak-anak tadi sudah di ambil duluan," jelas Gunawan sambil tertawa mengingat kelakuan cucu-cucunya.


Fisha segera di ajak olah sang mertua menuju dapur untuk menyiapkan makan malam, meninggalkan suami mereka di ruang kerja.


"Sepertinya papah datang di waktu yang tepat?" ujar Gunawan tepat sasaran.


"Papah tau aja."


"Ada apa lagi? Papah sudah memberikan Mily oleh-oleh yang langsung papah kirimkan ke rumahnya," jelas Gunawan.


Lelaki paruh baya itu sudah menganggap Mily juga menantunya, meski hubungan keduanya di awali dari sebuah kesalahan, bagi Gunawan, dia tak punya hak untuk menghakimi gadis baik itu.


"Perhatian sekali sama menantu baru," cibir Ridho.


"Papah merasa kasihan sama dia. Ini sudah sebulan lebih, apa kamu udah mikirin caranya supaya Fisha mau menerima Mily?"


Gunawan menghela napas, "kamu ... Sama sekali tidak pernah menyentuhnya selama menjalin pernikahan?"


Ridho menggeleng, bahkan berciuman saja tidak pernah. Namun jika memeluk, Ridho mengakuinya, bahkan dia merasa bersalah saat merasakan tubuh ringkih Mily, di balik baju longgarnya.


"Setelah pindah divisi, Mily jauh lebih baik menurutku pah, apa sebaiknya aku menuruti permintaannya?"


"Jangan Do, kasihan, belum tentu ada laki-laki yang mau menerima gadis bukan perawan sepertinya, lebih baik janda, statusnya jelas," pinta gunawan.


Lagi-lagi pembicaraan dengan ayahnya terasa buntu.


Besok, rumah yang di janjikan oleh Ridho sudah bisa di huni oleh Mily, Gunawan datang ke sana karena ingin membicarakan hal itu dengan putranya.


"Sertifikat rumah bagaimana? Kapan papah dan Mily bisa menemui notaris untuk mengurus kepemilikan nama baru?"


"Papah yakin mau memberikan Mily rumah itu? Nanti kalau mamah tau bagaimana?"


"Kamu tenang aja, itu adalah hak papah dari kakek kamu, harusnya itu milik kamu, ngga papa kan Papah kasih Mily?"


Memang rumah itu ia beli dari uang warisan sang ayah. Elya sendiri tak begitu tau masalah pembagian harta warisan suaminya.


Gunawan di besarkan oleh kakek dan neneknya di kampung saat orang tua dan saudara kembarnya merantau di kota.

__ADS_1


Yang Elya tau, hanya kakek dan nenek sang suami, jika membicarakan orang tuanya, Gunawan selalu menghindar, Gunawan memang enggan membicarakan keluarganya.


Beruntung saat menikah dulu, orang tua Gunawan yang notabenenya kakek dan nenek Ridho mau datang memberi restu.


"Ngga papa sih, asal bukan dari uang tabunganku Pah, bisa perang dunia ke tujuh kalau Fisha tau tabungan kami berkurang."


Ridho dan Gunawan tertawa bersamaan. Sebenarnya jika Elya tau, Gunawan juga yakin istrinya itu akan marah.


Namun bagaimana pun Gunawan ikut merasa bertanggung jawab pada Mily karena kelakuan putranya.


***


Mily sengaja menunggu Ridho di parkiran kantor, meski memiliki nomor Ridho, Mily tidak pernah berani mengirim pesan atau menelepon suaminya, selain jika harus membahas masalah pekerjaan.


"Mil, ada apa?"


Mily menyisir seluruh parkiran, karena ia takut ada orang yang ia kenal mencurigainya tengah bersama Ridho.


Sebisa mungkin Mily dan Ridho memang meminimalisir pertemuan mereka, meski dulu serasa biasa, entah kenapa sekarang terasa aneh jika mereka terlihat bersama.


"Bang, bilang ke Om Gunawan maka sih buat bingkisannya. Tapi ini terlalu mewah.”


Mily lantas mengambil sesuatu di tas yang berlogo toko perhiasan mewah yang cukup terkenal.


Sebuah kotak beludru besar berwarna biru Mily buka perlahan. Terpampanglah satu set perhiasan mewah di sana.


Ridho menelan kasar salivanya, tak menyangka jika hadiah yang dikirimkan sang ayah kepada istri keduanya ternyata barang berharga mahal.


"I ... Itu dari papah?" Mily mengangguk lalu memasukkan kembali kotak perhiasan itu ke dalam tasnya.


"Aku ngga bisa terima ini Bang, aku ... Ngga enak," lirihnya sambil menyerahkan tas berisi perhiasan itu kepada Ridho.


"Terimalah, itu mungkin ucapan maaf papah ke kamu." Tolak Ridho.


Ucapan Ridho membuat Mily bertanya-tanya, mengapa ayah dari suaminya itu harus meminta maaf padanya?


Melihat Mily yang kebingungan Ridho pun melanjutkan kembali ucapannya.


"Papah tau kalau kita sudah menikah. Maaf karena dia tidak bisa hadir waktu itu," jelasnya.


Mata Mily membola, benarkah apa yang suaminya ucapkan, jika orang yang selalu bersikap baik padanya sudah tau akan pernikahan mereka?


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2