
Selomita yang sudah kembali ke kantor dan saat ini tengah berada di restoran bersama dengan Husain dan Ferdi.
"Kamu anter sampai ke rumahnya Mit?" tanya Ferdi penasaran.
Bagaimana tanggapan Selomita jika tau bahwa mantan rekan satu divisi mereka kini tinggal di sebuah hunian yang cukup mewah bagi karyawan biasa seperti mereka.
"Iya, Mily banyak berubah, aku bahkan ngga di tawarinya masuk tau! Jangan-jangan dia ngga enak sama temannya."
Apa yang Ferdi pikirkan tentang Mily ternyata di tanggapi biasa saja oleh Selomita, jadi Ferdi berpikir mungkin benar itu adalah rumah temannya Mily.
Meski tinggal di kawasan yang sama, Ferdi tidak pernah melihat orang lain keluar dari rumah itu selain Mily atau seorang wanita paruh baya yang Ferdi pikir adalah seorang asisten rumah tangga Mily.
Ponsel Ferdi bergetar, tak lama pemuda itu bangkit berdiri membuat Husain dan Selomita menatap penuh tanya.
"Ke mana?" tanya Husain, sejak tadi lelaki bertubuh gempal itu juga sibuk dengan ponselnya. Baru melepaskan pandangannya saat melihat Ferdi bangkit berdiri.
"Balik kantor dulu, ada perlu," jelasnya singkat. Setelah itu dia segera meninggalkan restoran.
"Cih! Ferdi cukup misterius ya Sain, untungnya dia cukup royal sama kita. Paling enggak saat-saat kritis seperti ini masih bisa makan enak karena di traktir sama dia.”
Husain hanya mengangguk tanda setuju, lalu dia tersenyum menyeringai saat menatap ponselnya.
"Kamu kenapa sih! Dari tadi aku liatin sibuk mulu sama tuh hape!" ketus Selomita kesal.
"Adalah, pokoknya aku lagi senang sekarang. Mau aku traktir clubing ngga?" tawarnya.
"Dih ogah! Sory to say, aku ngga ke tempat kaya gitu!" ketus Selomita lalu meninggalkan Husain yang tertawa melihatnya.
***
Ridho mendatangi tempat yang di ucapkan Mily di telepon. Dia menyisir area taman rumah sakit, hingga menemukan Mily yang sedang duduk di kursi taman seorang diri.
Bahu istri keduanya itu tampak bergetar, Ridho yakin jika saat ini Mily tengah menangis.
"Mily? Ada apa?" tanya Ridho setelah mendudukkan dirinya di samping istri mudanya.
"Bang ... Aku, Aku hamil," lirihnya membuat bola mata Ridho membulat sempurna.
"A ... Apa? Hamil? Bagaimana bisa?"
Pertanyaan bodoh itu keluar tanpa pikiran yang jernih, tentu saja bisa, mereka pernah melakukannya meski hanya satu kali.
__ADS_1
Ridho menelan kasar salivanya, dia tau pertanyaannya terkesan bodoh, tapi dia tak habis pikir mengapa Mily bisa hamil hanya dengan satu kali sentuhan.
Sedangkan dulu, Fisha harus menunggu dua bulan baru bisa hamil anak pertama mereka.
"Ini Bang," Mily memberikan sebuah alat berbentuk pipih panjang ke pada Ridho.
Ridho paham betul alat itu, di sana dua garis merah terlihat sangat jelas.
"Tadi aku udah mendaftar ke poli kandungan, perawat meminta aku untuk tes kehamilan dulu," jelas Mily lirih.
Ridho belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun karena masih shock menerima kenyataan ini.
Ada anak yang saat ini tengah tumbuh di rahim istri keduanya. Meski dia hadir dari sebuah kekhilafan, tapi Ridho tak mungkin tidak memikirkannya.
"Bang, sebaiknya kita ke dalam dulu, takutnya nama aku sudah di panggil," ajak Mily yang tau jika saat ini Ridho tengah memikirkan kehamilannya.
Setelah mengetahui dirinya hamil, Mily justru terlihat semakin tegar, meski dia bingung dengan situasinya saat ini, tapi dia sudah berjanji tak akan merepotkan Ridho lagi.
Benar saja, tak lama menunggu di depan ruang poli, nama Mily di panggil, Ridho masih berjalan dengan gontai mengikuti Mily.
Mily memberikan alat tes kehamilan itu kepada perawat, dan perawat memberikannya kepada Dokter.
"Baik Bu Mily, di alat tes kehamilan memang ibu positif hamil, selanjutnya kita periksa apa kah kandungan dan janin ibu baik-baik saja."
"Nah, itu ya pak bu, titik hitam itu janin kalian, usianya masih sangat kecil, sekitar tujuh minggu, kalau di lihat dari ukurannya. Ibu ingat kapan terakhir haid?"
Pertanyaan umum yang akan di ajukan oleh Dokter kandungan.
"Saya lupa Dok," ucap Mily jujur.
Tentu saja dia lupa kapan terakhir dirinya menstruasi, dia hanya ingat bulannya, di benak gadis itu justru berpikir saat Ridho merudal paksa dirinya apakah saat itu adalah masa suburnya.
Memang hanya sekali itu Ridho melakukannya, tapi berulang kali, hingga Mily merasa akan pingsan saat itu.
Mengingat kejadian nahas itu lagi, membuat Mily mencengkeram selimut yang menutupi area bawahnya.
"Bu Mily ngga papa?"
Ridho seakan di tarik ke alam sadar saat mendengar perawat dan Dokter terlihat panik mendapati Mily yang meraung-raung.
Ridho segera memeluk tubuh istrinya, ia yakin Mily mengingat kejadian nahas mereka.
__ADS_1
"Tenang, tarik napas, semua akan baik-baik saja," pinta Ridho yang ternyata mampu membuat Mily berangsur tenang.
Dokter kandungan dan perawat di sana menatap heran pasangan suami istri di hadapannya ini.
"Apa ada sesuatu yang tengah Bu Mily idap pak? Penyakit tertentu misalnya?"
Melihat pasien yang meraung seperti tak senang dengan kabar yang harusnya membuat pasang suami istri gembira justru malah di tanggapi terbalik oleh keduanya.
"Ngga ada Dok, istri saya hanya belum siap saja mengandung," dusta Ridho.
"Bu Mily, anak adalah anugerah dari Tuhan, sekuat apa pun kita menolak, jika Tuhan berkehendak menitipkan rezeki itu ke ibu, kita tak bisa membantah apa lagi menolak.
Pesan saya, tolong jaga anak ibu ya, jangan berpikiran buruk. Saya yakin dia akan sangat sedih kalau tau ibunya menolak kehadirannya," ucap Dokter lembut.
Bukan baru pertama kali sang dokter menerima pasien seperti Mily yang menolak kehamilannya. Namun ia tetap berusaha memenuhi sumpahnya sebagai seorang Dokter agar sang ibu hamil akan bisa mempertahankan kehamilannya.
Setelah cukup tenang, keduanya meninggalkan rumah sakit dengan perasaan gamang.
"Kamu tunggu di sini, Abang akan menebus obatmu dulu," ucapan Ridho pun terdengar tak ada semangat sama sekali.
Dirinya seakan linglung dengan kejadian mendadak ini. Urusannya dengan Mily dan Fisha belum juga usai harus di tambah dengan kehadiran seorang anak yang tak ia harapkan.
Keduanya bahkan masih bungkam saat berada di dalam mobil, mereka bingung harus berkata apa.
"Kita makan dulu ya? Kamu mau makan di mana?" tanya Ridho lembut, dia tak ingin batin Mily kembali terguncang yang membuat pengobatannya menjadi sia-sia.
"Aku ngga lapar Bang, aku ingin pulang aja," tolak Mily datar.
pikiran gadis itu benar-benar kosong. Masa depannya dengan sang janin akan membuat langkahnya semakin sulit.
"Kamu harus tetap makan, kasihan anak kamu."
Ucapan Ridho yang menyebut jika anak yang tengah ia kandung hanya anaknya membuat Mily seketika menoleh.
"Aku akan gugurkan kandungan ini Bang!"
.
.
.
__ADS_1
Tbc