Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Kecurigaan


__ADS_3

Om Gunawan tersenyum menatapku. Dia adalah cetakan sempurna dari wajah Bang Ridho. Meski sudah berumur, tapi jejak ketampanan masa muda masih terlihat jelas di sana.


Dia seperti Bang Ridho, orang yang santun dan di segani, herannya mengapa bisa menikah dengan tante Elya yang menurutku sangat menyebalkan, meski wanita tua itu cantik.


"Ngga usah kegenitan Pah!" dengus Tante Elya menatap geram suaminya.


"Kamu apa-apaan Mah, dari tadi papah dengerin ucapan kamu selalu memojokkan Mily, biarkan dia memilih makanannya," Om Gunawan menarik tangan sang istri dan pergi dari sana.


Kudengar tante Elya masih menggerutu dan mengancam sang suami agar tidak terpesona dengan gadis muda.


Wanita yang melahirkan bang Ridho itu bahkan berkata jika banyak wanita sekarang mengincar para lelaki yang sudah sukses seperti suami dan anaknya.


Perempuan penggoda yang hanya ingin menikmati kekayaan secara instan menurutnya. Ucapannya sangat ketus seolah menuduhku, mungkin itu hanya perasaanku, karena kenyataannya aku adalah seorang istri simpanan.


Setelah mengambil sepotong kue dan mengambil minuman, aku memilih meninggalkan keramaian, aku datang hanya sekedar untuk menghormati Mbak Fisha, aku tak ingin berbaur dengan teman-teman mbak Fisha yang kebanyakan tak kukenal.


Duduk di bangku taman memikirkan semua yang terjadi dalam hidup. Dari sini aku bisa melihat ke arah dalam, di mana Bang Ridho tengah memeluk istrinya dengan senyuman yang terkembang.


Dia pasti sangat bangga dengan keberhasilan sang istri. Memiliki istri yang cantik, pandai merawat diri, merawat keluarga, bahkan mampu menghasilkan uang sendiri, semua pasti akan membanggakan mbak Fisha.


Sedangkan aku, aku hanya seorang duri yang tiba-tiba saja masuk ke kehidupan sempurna mereka. Kuhela napas berat, mengapa hidup terasa tak adil bagiku.


"Kamu iri dengan kebahagiaan mereka?" tanya seseorang yang membuatku menengadah.


Aku tidak melihat keberadaan Ferdi sejak pertama mendatangi rumah ini. Tak heran jika Ferdi di undang ke acara Bang Ridho dan Mbak Fisha, lelaki itu cukup akrab dengan keluarga mereka.


"Irilah, siapa pun pasti iri Fer," jawabku sambil terkekeh, berusaha mengajak Ferdi bercanda.


"Tentu saja, tapi jangan sampai kamu merusak kebahagiaan mereka," ketusnya yang membuatku seketika menegang.

__ADS_1


Tentu saja aku menoleh dengan gugup. Apa mungkin Ferdi tau akan rahasia kami? Dia memang berada satu kerjaan denganku di hari itu.


Karena kejadian itu aku bahkan tak pernah menanyakan keberadaannya. Di mana dia kala itu?


"A-apa maksudmu?" tanyaku gagap.


Dia hanya mengedikkan bahu dan tersenyum samar. Aku menganggap ada sorot mata yang berbeda dari cara dia menatapku.


"Cuma ngomong aja, ngga usah di ambil hati."


"Fer, aku mau tanya sesuatu boleh?" tanyaku memberanikan diri.


"Silakan, ada apa? Kelihatannya serius?" dia mengerutkan kedua alisnya bingung.


"Kamu di mana setelah pertemuan dengan klien waktu itu?"


"Malam itu kami ke club malam, aku ngga lama sebab ada urusan. Aku udah pamit kok ke Ridho, maaf ya membuat kalian susah. Lagi pula ada Husain dan Selomita yang membantu kalian bukan?" jelasnya.


Husain dan Selomita? Aku terkejut jika dua orang itu juga berada di sana saat kejadian nahasku. Apa keduanya tidak tau tentang kejadian buruk yang terjadi padaku?


Lalu mengapa Selomita dan Husain tampak biasa saja tadi? Apa mereka berdua menyembunyikan sesuatu? Kepalaku berdenyut nyeri mencari seseorang yang menurut Bang Ridho telah menjebak kami.


Siapa mereka? Ferdi? Husain? Apa Selomita?


"Kamu kenapa Mil?" Ferdi panik saat melihatku mencengkeram kepala dengan kedua tanganku.


"Fer, biar aku saja," sela Bang Ridho yang sudah berdiri di hadapanku.


Kurasakan Ferdi meninggalkanku seperti permintaan Bang Ridho.

__ADS_1


"Tarik napas, hembuskan, tenangkan dirimu," pinta Bang Ridho dengan lembut.


"Mily kenapa Mas?" tanya Mbak Fisha yang juga ada di sana. Suaranya terdengar panik.


Aku merasa malu karena merusak kebahagiaan Mbak Fisha dengan kambuhnya penyakitku ini.


"Ngga papa, bunda tenang aja," balas Bang Ridho lembut.


"Kamu istirahat dulu aja ya Mil, wajah kamu pucat sekali. Maaf ya mbak ngga tau kalau kamu baru sembuh dari sakit. Mbak malah maksa kamu datang ke sini."


Lihatlah wanita baik ini malah merasa bersalah padaku. Sungguh sikap mbak Fisha inilah yang membuatku merasa seperti manusia yang sangat hina.


Aku di ajaknya ke kamar tamu, di sana aku merebahkan diri, mungkin aku memang tak tau diri, tapi jika kekalutanku datang, aku akan merasa cemas dan lemas. Aku benar-benar harus menenangkan tubuh dan pikiranku.


Suara pintu terbuka membuatku seketika membuka mata. Aku yang hampir terlelap mendadak awas dan menoleh ke sumber suara.


Mamah Bang Ridho datang mendekat, tatapannya tajam menghunus. "Kamu," tunjuknya padaku.


"Jangan pernah coba sekali-kali merayu anakku!" ucapnya bengis.


Tubuhku bergetar hebat, mengapa mamah Bang Ridho berkata seperti itu, apa beliau tau rahasia kami?


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2