Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Luka Masa Lalu


__ADS_3

Fisha merasa takjub melihat bangunan hotel mewah milik kekasihnya.


Dika menoleh melihat binar bahagia sang kekasih, "gimana, sama kan?" ujarnya pongah.


Fisha menelan kasar salivanya dan mengangguk setuju mengagumi desain hotel itu.


"Ayo kita masuk! Jadi nginap di sini kan? Aku jamin kamu akan puas merasakan semua fasilitas yang ada di sini," terang Dika sambil menggandeng Fisha masuk ke lobi hotel.


Para penjaga serta karyawan menunduk memberi hormat padanya, membuat Fisha sedikit membusungkan dada.


Melepas Mas Ridho, aku bisa menjadi seorang istri pengusaha? Bukankah ini terdengar adil? Aku istri yang terdzolimi akhirnya mendapatkan kebahagiaan.


"Kok diem aja?" tanya Dika setelah mereka menuju ke sebuah restoran yang berada di dalam hotel.


"Aku ngga nyangka hotel kamu ternyata sukses seperti ini Dik! Aku yakin hasilnya pasti besar kan?"


Dika menghela napas, "iya memang tapi kamu lihat hotel ini kan termasuk baru Sha, masih banyak pembaruan di sana sini," jelas Dika.


"Aku rasa ngga usah terlalu memaksakan Dik, bukankah segini aja udah cukup?"


"Maksud kamu apa! Kamu ngga mau hotel aku jadi yang terbaik di antara yang lainnya!" sentaknya marah.


Fisha yang melihat Dika di landa kemarahan hanya bisa tersentak kaget.


"Ma-maf Dik, bukan maksud aku begitu, kalau emang dana kamu minim kan ngga papa seadanya dulu, toh ini udah bagus banget, apa lagi yang harus di perbaiki?"


Fisha yang awalnya mengira hotel milik kekasihnya itu belum seratus persen jadi, nyatanya malah menilai jika hotel itu seperti sudah lama beroperasi.


Lalu dia juga tidak melihat ada konstruksi yang kata sang kekasih sedang membangun sesuatu di sana.


Batinnya sedikit merancu merasa ada sesuatu yang di tutupi oleh sang kekasih.


"Apa kamu keberatan menambahkan modal untuk hotel ini? Bukan kah aku udah bilang, kelak hotel ini akan jadi milik kita berdua," rayunya sambil memegang tangan Fisha.


Fisha menunduk, "saat ini aku benar-benar ngga ada uang Dik," lirihnya.


Dika berusaha menahan kesal mendengar pengakuan sang kekasih. Namun otak liciknya tak kehabisan akal, ia akan mendapatkan apa pun yang ia inginkan, meski harus bersabar.


Fisha memberanikan diri menatap sang kekasih. Dika tersenyum tapi senyuman itu justru membuat jantung Fisha berdebar tak karuan, bukan karena senang, tapi karena dia tau akan ada sesuatu yang di katakan Dika dan itu pasti sangat tidak menyenangkannya.

__ADS_1


Dika mendekat dan menyelipkan anak rambut Fisha ke telinga. "Kamu bisa gadaikan rumah atau aset kamu yang lain dulu sayang, aku mohon, kita sudah sejauh ini, masa mau berhenti sampai di sini aja?" rayunya.


Fisha menelan kasar salivanya, dia sudah menduga Dika pasti akan berbicara sesuatu yang pasti akan memojokkannya.


"Maksud kamu apa Dik? Aku ngga bisa lakuin itu! Aku ngga pernah berurusan dengan Bank, aku takut!" ucapnya tajam.


Sungguh Fisha tak menyangka kalau sang kekasih akan meminta hal di luar kemampuannya. Bagaimana mungkin Dika memintanya menggadaikan salah satu asetnya.


Uang yang selama ini dia gelontorkan bahkan tak pernah sekalipun dia memetik hasilnya.


Dika menghela napas dan menjauhkan diri dari Fisha, kesal. Otaknya sedang menyusun lagi berbagai strategi agar bisa menguras harta Fisha.


Karena diakuinya misi mendekati Fisha adalah misi balas dendam untuk segala kesakitan yang dulu di torehkan Fisha dan keluarganya.


Meski bukan kesalahan Fisha seutuhnya, tapi karena Marlina, Dika merasa bahwa Fisha harus merasakan sakitnya dihina dan di tinggalkan.


Bukankah sang ibu akan merasakan kesakitan dua kali lipat dari kesakitan anaknya? Begitulah pikiran Dika.


"Ya udah kalau begitu, aku harus kerja keras lagi mencari modal untuk memperbesar hotel ini. Maaf kalau mungkin butuh waktu lama untuk menikahimu," lirih Dika.


Skak, Fisha terbelalak, dia yang sudah membayangkan akan merajut rumah tangga yang baru dengan Dika sesegera mungkin harus pupus mendengar ucapan kekasihnya.


"Kamu berniat membatalkan pernikahan kita Dik?" tanya Fisha cemas.


"Siapa yang bilang membatalkan sayang, aku cuma bilang mengulur, masalah waktunya aku ngga tau kapan."


"Kamu tau aku melakukan itu untuk membuktikan pada orang tuamu, terutama ibumu kalau sekarang aku telah sukses!" ujarnya getir.


Fisha merasakan nada terluka di ucapan Dika, dia tak tau apa yang dulu sebenarnya terjadi. Mengapa laki-laki itu dulu meninggalkannya begitu saja.


Sejak awal pertemuan mereka hingga kini, Fisha tak pernah sekalipun mengungkit permasalahan mereka.


Jadi dia merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya, meluruskan permasalahan yang dulu pernah terjadi di antara mereka.


"Dik, maaf, bolehkah aku tanya? Mengapa dulu kamu pergi tanpa pamit padaku?"


Dika menoleh lalu kedua alisnya mengerut bingung. "Kamu ngga tau apa pura-pura ngga tau Sha?"


Fisha menggeleng dengan tuduhan Dika, memangnya dia tau apa? selain Dika yang pergi tanpa kata, batinnya.

__ADS_1


"Kamu tau saat usahaku bangkrut dan ayahku sakit-sakitan, aku terpaksa pergi. Saat itu aku ke rumahmu dan ibumu justru mengusirku begitu saja, dan berkata membatalkan pertunangan kita!"


Fisha tersentak, ibunya bahkan mengatakan jika Dika pergi dan memutuskan pertunangan mereka, jadi siapa di antara keduanya yang berkata benar? Pikirnya.


"Maksudnya? Justru ibu yang bilang, kalau kamu mutusin pertunangan kita, kamu tau saat itu aku ke rumah dan rumah kamu udah kosong, kamu pergi tanpa bicara apa pun sama aku Dik!" jelas Fisha tak terima.


"Aku memang pergi, tapi sebelum pergi aku berpamitan dulu sama ibumu! Aku juga sering mengirim surat sama kamu, karena ponselku terpaksa di jual untuk biaya hidup kami."


"Nomor ponsel kamu bahkan ilang, kehidupan aku benar-benar kacau dan ..."


"Saat aku bisa bangkit sedikit demi sedikit, aku kembali ke kota kita, berusaha menemuimu, tapi apa yang aku terima? Kamu sedang melangsungkan pernikahan. Menurutmu bagaimana perasaanku?" ucap Dika menerawang.


Mengingat kehidupan pahitnya dulu membuat dendam di hati lelaki itu pada Fisha dan keluarganya sangat besar.


Saat ia masih berjaya, ia tak segan-segan menggelontorkan uang untuk Fisha dan keluarganya. Namun saat ia susah, dia di buang begitu saja oleh kekasih dan keluarganya.


"Apa benar yang kamu ceritakan Dik? Sungguh aku ngga tau, ibu cuma bilang kalau kamu yang pergi meninggalkan aku, siapa tang harus aku percaya?" isak Fisha merasa bersalah.


Melihat sorot mata terluka sang kekasih, ia yakin jika Dika tidak berbohong padanya.


Menilik perangai sang ibu saat Dika dan keluarganya tengah terpuruk, ia sendiri menyadari perubahan sikap sang ibu pada tunangannya.


Ia merasa mungkin saat itu sang ibu berbohong juga demi dirinya, agar tak ikut sengsara dengan kehidupan Dika.


Tak bisa menyalahkan sang ibu seratus persen, nyatanya hatinya juga mudah berpaling pada pesona Ridho.


"Maafkan aku dan ibu Dik, aku yakin saat itu Ibu mungkin memikirkan nasibku," belanya.


"Aku tau!" ketus Dika.


"Jadi ... Kamu masih mau bersabar apa mau meninggalkanku seperti dulu? Tadinya aku berpikir kamu akan membantuku menghadapi orang tuamu dengan kemajuan hotel ini, tapi ... Ya sudahlah," keluhnya.


Fisha yang merasa di sudutkan dan tidak enak dengan sikapnya dan ibunya dulu kembali merasa iba.


"Aku ada sedikit uang dari bonus mas Ridho, tapi dia belum memberikan, katanya Mily kecelakaan, entah gimana nasibnya dia," menyebut nama Mily membuat dia mendengus kesal.


"Ngga papa, maafkan aku yang selalu menyusahkanmu ya sayang. Aku hanya ingin membuktikan sama ibumu kalau sekarang aku bisa membahagiakan putrinya," janjinya.


Fisha merasa berbunga mendengar ucapan sang kekasih. Dia akan membantu Dika menghadapi ibunya, dirinya juga yakin jika nanti sang ibu pasti akan merestuinya jika melihat keberhasilan Dika.

__ADS_1



__ADS_2