
Fisha
Aku tidak pernah menyangka, kesetiaan dan kebaikanku akan di balas oleh suami dan Mily dengan perselingkuhan mereka.
Meski aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi saat ini hatiku teramat sakit.
Ingin percaya, tapi foto itu menunjukkan kedekatan keduanya. Dulu aku anggap biasa, tapi mengapa saat ada yang mengirimnya seperti itu aku jadi curiga.
Terlebih lagi perubahan mas Ridho dan Mily terlalu kentara. Mas Ridho sering melamun, dan Mily yang menjauh.
Aku jadi teringat nasihat ibu mertuaku, jangan terlalu dekat dengan orang lain nanti kamu di tikam dari belakang, begitu ucap beliau kala itu yang kuanggap angin lalu.
Bukan apa, ibu mertuaku memang seperti itu orangnya, kalau ada seseorang yang perekonomiannya di bawahnya dia akan berkata kalau mereka pemalas dan hanya ingin menggerogoti harta kita seperti parasit.
Mily tidak seperti itu, dia adalah saudara jauhku, ibunya dan ayahku adalah saudara sepupu. Dia tinggal di kecamatan lain di kampung kami.
Saat itu Mily baru lulus sekolah, dan aku baru memiliki Alvian. Aku memang memilih melahirkan di kampung, sebab ingin di bantu oleh ibuku.
Aku tak ingin merepotkan mertuaku yang cerewet. Dia selalu berkata jika dulu dia bisa merawat suamiku sendiri tanpa bantuan keluarga.
Dia lupa jika aku harus melahirkan secara Secar. Saat Dokter mendiagnosis aku terkena Preeklamsia, aku memang sudah di anjurkan untuk melahirkan secara Secar.
Saat itu tiada hari ibu mertuaku selalu mengomel, karena dia merasa kalau melahirkan Secar itu bukan perjuangan sebagai seorang ibu, kelak anakku akan sering membantahku, begitu katanya.
Aku yang tengah hamil besar selalu menangis mendengar ucapan-ucapan pedas mertuaku itu. Tak tahan dengan tekanan batin ini, aku meminta mas Ridho mengantarku pulang ke kampung.
Saat akan memeriksakan Alvian itulah pertama kali aku bertemu dengan Mily dan keluarganya. Ternyata dia seorang yatim.
Tubuhnya kurus dan kumal, aku sangat prihatin melihatnya. Kuputuskan untuk mampir ke rumahnya yang sederhana.
Tak ada barang mewah, hanya kasur tipis dan radio butut yang di miliki keluarga Mily. Ibu Mily yang aku panggil Bulik, bercerita jika harta bendanya habis untuk biaya berobat suaminya.
Mily sendiri saat itu bekerja di sebuah toko yang berada di pasar dengan bayaran yang sangat kecil.
Akhirnya aku mengajak Mily untuk ikut denganku di kota. Dia bisa bekerja denganku sementara waktu di butik milikku. Sebenarnya, butikku juga tak terlalu besar, aku memiliki satu orang karyawan dan ku rasa itu cukup.
Namun karena sekarang aku memiliki bayi, sepertinya aku membutuhkan orang lain untuk membantu karyawanku, Vio.
__ADS_1
Mily sangat senang bisa merantau ke kota besar, dia bahkan sampai menitikkan air mata kala keinginannya untuk melihat kota yang hanya bisa ia lihat melalui layar televisi, bisa di datanginya.
Saat pertama kali aku membawa Mily, ibu mertuaku menatap sinis padanya. Bahkan kulihat Mily seperti menciut ketakutan.
Aku memang masih tinggal bersama mertua, sebab rumah kami belum selesai di bangun.
Rasanya aku sangat bersyukur memiliki Mas Ridho yang selalu bisa memberikan apa pun untuk keluarga kecil kami.
Usaha butikku pun dia modali, sebab mertuaku selalu berkata jika sebagai seorang istri harus membantu perekonomian keluarga seperti dia dulu.
Meski sekarang beliau sudah tidak lagi memiliki usaha, tapi ucapannya yang selalu menuntutku sepertinya lama-lama membuatku sedih.
Mas Ridho yang tau kalau ucapan ibunya menyakiti perasaanku lantas memberikanku sedikit modal untuk membuka usaha butik.
Kami menikah atas dasar perjodohan. Dulu aku memiliki seorang kekasih, tapi karena ibuku ingin aku berjodoh dengan anak sahabatnya, jadilah aku menuruti keinginannya.
Ternyata pilihan orang tuaku tidak salah, Mas Ridho sungguh sosok yang sempurna. Tampan dan berhati baik.
Usaha butikku berkembang semakin pesat berkat bantuan Mily yang memang tekun bekerja.
Mily kala itu mengontrak dengan Vio, dari hasil kerjanya denganku, ia mampu membiayai adiknya, bahkan mampu melanjutkan kuliahnya meski di universitas terbuka.
Beruntung saat itu perusahaan mas Ridho sedang membutuhkan karyawan. Mily kuminta untuk melamar di sana, siapa tau ada rezekinya di sana.
Saat itu dia merasa rendah diri sebab hanya lulusan dari sebuah universitas terbuka, ia yakin jika saingannya adalah orang-orang dari universitas ternama.
Aku dan bang Ridho memberinya semangat, meski Bang Ridho menjabat sebagai seorang manajer, tapi ia tak membantu Mily agar di terima di perusahaannya lewat jalur dalam.
Mily di terima karena hasil usahanya sendiri. Setelah itu ia memilih pindah ke kosan yang lebih dekat dengan kantor.
Perekonomiannya semakin membaik, bahkan dia sanggup membeli mobil meski bekas. Mertuaku pun tak sejutek dulu jika bertemu dengannya.
Namun saat ini, hatiku serasa di iris sembilu. Suami dan orang yang sudah kuanggap adik bermain api di belakangku.
Bahkan ada foto ayah mertuaku yang tengah menggenggam tangan Mily, aku sungguh tak tau apa yang tengah mereka sembunyikan.
Apa mertuaku terlibat dengan perselingkuhan mereka?
__ADS_1
Ya Tuhan dadaku terasa sakit, bagaimana nasib pernikahan kami? Aku masih sangat mencintai Mas Ridho, tapi jika benar ia menghianatiku, sungguh aku tak akan berpikir panjang untuk meninggalkannya.
Kami masih terdiam selama dalam perjalanan pulang, ingatanku masih terekam jelas bagaimana suamiku memeluk tubuh wanita lain.
Mily hanya mampu menunduk, kalau tidak tau malu, ingin sekali aku menghajar gadis tak tau di untung itu.
Sayangnya, aku masih bisa menggunakan akal sehatku. Jaman ini semakin canggih, bisa-bisa ada yang merekam aksi brutalku dan membuatku malah di penjara.
Ternyata kami sudah sampai di rumah, di teras, aku melihat Alma dengan pengasuhnya. Bayi kecilku berlari mendekati kami.
Hatiku semakin sedih kala membayangkan jika keluarga kecil kami jadi berantakan seperti ini.
"Bun, ayo kita ke kamar!" ajak Mas Ridho saat aku masih melamun di depan rumah.
Mas Ridho yang menyambut Alma saat berlari ke arah kami, sekarang dia kembali menyerahkannya pada pengasuhnya.
Tanpa banyak kata, aku melangkahkan kaki menuju kamarku yang berada di lantai atas.
Aku duduk di atas kasur, menunggu dia menjelaskan semuanya. Meski ada rasa enggan, tapi aku butuh penjelasan. Baru setelah itu aku akan mengambil keputusan.
"Bun maafkan ayah," lirih mas Ridho.
"Kalian berselingkuh mas?" ucapku tajam.
Mas Ridho duduk bersimpuh di kakiku, tatapan matanya penuh dengan pengharapan.
"Kalau bunda berpikir jika selingkuh adalah memiliki hubungan dengan saling mencintai, tidak Bun. Kami tidak saling mencintai. Tapi ... Mily adalah istriku bun," lirihnya di akhir kalimat.
Jantungku berdebar semakin kencang, air mataku luruh seketika. Hubungan yang aku pikir masih sebatas saling mencintai nyatanya malah lebih dari itu.
Mereka adalah pasangan suami istri. Sejak kapan? Mengapa? Apakah hanya aku yang tidak tau?
Semua pertanyaan itu berputar di benakku. Namun lidahku kelu, aku hanya bisa menangis meratapi nasib pernikahanku. Aku tak mau di madu, APA PUN ALASANNYA!
.
.
__ADS_1
.
Tbc