Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Perubahan Fisha


__ADS_3

Di tengah kebimbangan Fisha saat itu, dia teringat kalau Ridho biasanya akan mendapatkan bonus di bulan ini.


Mantan suaminya itu bahkan berjanji akan memberikan semuanya untuk bonus saat ini.


"Ah, untung masih ada bonus mas Ridho. Meski ngga sesuai, mending ngasih dari pada enggak kan?" monolognya.


Dia segera menghubungi Ridho untuk menanyakan janji mantan suaminya itu.


Awalnya dia merasa senang, tapi saat dia mendengar mantan suaminya enggan memberikan bonus itu, dia merasa geram.


Terlebih lagi alasannya adalah untuk membiayai mantan madunya yang katanya kecelakaan.


"Ngga bisa! Pokoknya aku ngga peduli! Kamu harus tepati janji kamu!" setelah meluapkan amarahnya, Fisha mematikan sepihak panggilannya.


"Kurang ajar! Lagi-lagi Mily!" ujarnya frustrasi.


"Ngga bisa di biarin, aku harus buat sesuatu atau mas Ridho bakalan ngeles lagi."


"Kecelakaan katanya? Kalau bener kenapa ngga mati aja sekalian sih tuh gundik! Itu pasti karma buat dia," ketusnya.


Ada perasaan senang saat dia mendengar Mily terlibat kecelakaan, meski belum jelas bagaimana kejadiannya.


Dalam hati kecil Fisha, bahkan ia berharap mantan adik madunya itu mati bersama bayi yang di kandungnya.


.


.


Pagi hari Fisha bersiap untuk pergi keluar kota bersama sang kekasih memenuhi janjinya untuk melihat hotel milik Dika.


"Bunda mau ke mana?" tanya Alvian sendu.


Fisha mendesah, dia tahu banyak mengabaikan anak-anaknya pasca bercerai dengan sang suami, tapi mau bagaimana lagi, Dika masih enggan menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.


Dia berharap Dika mau segera meminangnya agar dia bisa kembali fokus pada anak-anaknya.


Waktunya sangat terbagi, di satu sisi dia ingin menghabiskan waktu dengan Dika, tapi di sisi lain ingin juga dengan putra putrinya.


"Maafin Bunda ya sayang, Bunda harus pergi kerja. Kan Kakak tau sekarang Bunda harus cari uang yang banyak biar bisa sekolahin kakak dan adik nanti," jelasnya.


"Kan ayah kasih uang Bunda, kenapa Bunda pergi terus?" tanya Alvian tak mengerti.


"Ngga cukup sayang. Vian sabar ya, Vian inget kan harus nurut apa kata Bunda? Bunda janji deh, kalau nanti om Dika udah jadi papah Vian sama Alma, kita bakalan habisin waktu bareng lagi, gimana?" tawarnya.

__ADS_1


Alvian membanting sendoknya kasar. Fisha bahkan terkejut dengan kelakuan putranya yang berubah menjadi arogan.


"VIAN! APA-APAAN SIH KAMU!" sentaknya saat melihat bajunya terkena cipratan kuah susu sereal Vian.


Alma yang mendengar pekikan Fisha ikut menangis karena takut.


Karena merasa kesal dengan kelakuan sang putra tanpa sadar Fisha menjewer putranya, membuat Alvian mengaduh kesakitan.


"Sakit Bunda ... Hu ... Hu ..."


"Ya ampun Bu, sabar, jangan begini Bu," lerai Firda segera membopong tubuh Alvian.


Fisha mengibaskan gaunnya kesal, "kamu jaga Vian gimana sih Fir! Kenapa sekarang Alvian jadi nakal begini!" murkanya pada sang pengasuh.


Padahal anaknya itu hanya mencari perhatian dirinya, tapi Fisha seakan lupa akan hal itu.


Dengan kesal, Fisha meninggalkan meja makan untuk mengganti pakaiannya.


"Bunda jahat Mbak, Vian mau ke ayah," ujar Alvian pada Firda.


Firda sendiri heran mengapa sang majikan kini berubah, dulu majikannya itu tak pernah berkata kasar pada anak-anaknya, dia berpikir mungkin karena perceraian membuat tabiatnya ikut berubah juga.


Di dalam kamar, Fisha kembali menggerutu, itu adalah salah satu pakaian mahal yang ia ambil dari butiknya, tapi kini sudah terkena noda oleh putranya membuat mood Fisha anjlok seketika.


Akhirnya Fisha memakai pakaian yang ada di lemarinya. Sebab dia tak ada waktu untuk ke butik dan mengambil baju baru.


Saat menuruni tangga dia melihat Alvian dan Alma yang sedang bermain di ruang keluarga.


"Firda jaga anak-anak, kalau ngga sempet mungkin besok baru saya pulang. Urus mereka dengan baik, heran, kenapa mereka jadi nakal kaya gini sih! Kalau kamu ngga becus, saya pecat kamu!" ancamnya.


"I-iya Bu, maafkan saya," lirih Firda.


Setelah mengatakan hal itu dia memilih ke ruang tamu untuk menunggu Dika menjemputnya.


Baru saja mendudukkan diri, ponselnya berdering, tertera nama Vio di layar.


"Iya Vi?" Fisha benar-benar lupa dengan janjinya dengan sang bawahan.


"Kira-kira ibu akan datang jam berapa?" tanya Vio.


"Kamu handle kaya biasa aja dulu Vi, saya lagi ada urusan," tolaknya.


"Loh ibu kemarin sudah janji mau datang ke butik bu, ini penting," desak Vio.

__ADS_1


Fisha merasa benar-benar kesal sekarang, tadi anaknya yang membuatnya marah, kini giliran bawahannya.


"Kamu saya bayar mahal untuk bisa menjaga butik Vio! Jadi udah sewajarnya kamu atasi! Pokoknya saya ada acara, tolong jangan ganggu saya!" ketusnya.


"Tapi Bu ..."


Tanpa banyak kata, Fisha mematikan sepihak teleponnya. Mendengar suara mobil masuk membuatnya senang, dia yakin itu adalah Dika.


"Aku matikan aja teleponnya, kalau enggak, Vio bisa-bisa neror aku terus. Ada masalah apa sih! Di bayar mahal tapi ngga becus kerja, percuma banget. Nanti kalau di pecat baru nangis-nangis ngga jelas," omelnya.


"Kenapa sih? Pagi-pagi dah di tekuk aja ini muka?" rayu Dika di depan pintu saat melihat sang kekasih yang sedang bicara sendiri.


"Hari ini banyak banget yang bikin aku kesel tau ngga!" adunya.


Dika tertawa geli mendengar gerutuan sang kekasih, lalu mengecup kening Fisha untuk menenangkan kekasihnya.


"Udah ah, ngga lucu kan kalau aku jadi sasaran kemarahan kamu? Kita kan mau jalan-jalan hari ini," ujar Dika mengingatkan.


Fisha mengangguk lantas tersenyum, hatinya berbunga karena sang kekasih mampu menangkannya.


Untung ada kamu Dik. Ah ngga tau aku kalau enggak ketemu kamu, hidupku pasti ancur banget.


Dika bahkan tak mengajak Fisha berpamitan pada anak-anaknya, dia melenggang menggandeng Fisha untuk segera berangkat menuju tempat tujuan mereka.


Di butik miliknya, Vio tengah kalut sendirian memikirkan nasib butik milik bosnya itu.


Janji temu pada para pengrajin pakaian membuatnya bingung karena Fisha menolak datang ke butik.


"Gimana mbak? Ibu datang kan?" tanya Winda.


Vio menggeleng, dia duduk di meja kerjanya dan memegang kepalanya frustrasi.


"Aduh gimana ini mbak, kalau mereka ngga ketemu Bu Fisha bisa-bisa mereka benaran akan membatalkan kerja samanya," ucap Winda waswas.


"Kira-kira mereka mau menambah waktu lagi ngga ya Win, aku bingung," lirih Vio.


"Bu Fisha itu gimana sih Mbak! Ini kan butik miliknya kok kaya ngga peduli banget, ke sini kalau enggak ambil duit ya ambil barang-barang aja," gerutu Winda.


Vio juga merasakan perubahan pada bosnya itu. Fisha yang dulu sangat memikirkan butik yang susah payah di bangunnya, kini bahkan tampak tak peduli sama sekali.


"Mbak, aduh! Mereka udah datang!" seru Winda membuat Vio panik seketika.


__ADS_1


__ADS_2