Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Pesan misterius


__ADS_3

Fisha merasa terganggu kala ponselnya selalu berdering, ada beberapa pesan yang masuk ke ponselnya.


Dia yang saat ini tengah sibuk melayani pelanggan, jadi merasa tak enak hati.


Setelah pelanggannya itu pulang, Fisha membuka ponselnya dan melihat ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak di kenalnya.


Matanya seketika membulat, mulutnya ia tutup dengan sebelah tangan saat melihat gambar kiriman seseorang.


Tangisnya pecah, dia tak menyangka kalau kebaikan dan kesetiaannya akan di uji saat ini.


"Ada apa ini mas? Apa kalian memiliki hubungan terlarang?"


Fisha mendudukkan dirinya dan menekan dadanya yang terasa sesak. Ingatannya kembali pada kenangan akan keluarga kecilnya dan juga Mily.


Fisha merasa tak ada yang aneh dari sikap keduanya selama ini, apa mereka memang pandai bersandiwara. Pikir Fisha.


Lalu siapa orang yang telah mengirim gambar ini? Fisha tak ingin gegabah meski hatinya sangat sakit saat ini.


Dia tak ingin keharmonisannya terkoyak oleh oknum yang sengaja ingin menghancurkan rumah tangganya.


Fisha berusaha menghubungi ponsel sang suami tapi sayang tak ada jawaban.


Berulang kali pikiran buruk muncul, jika saat ini Mily dan suaminya tengah memadu kasih membuat batin Fisha risau tak menentu.


"Apa kalian saat ini tengah bersama?" monolognya.


Fisha akhirnya memilih menghubungi Mily, siapa tau itu hanya sekedar orang iseng saja. Sama seperti nomor sang suami, nomor Mily juga tak bisa di hubungi, membuat perasaannya semakin kacau.


Dia tak habis akal, Fisha akhirnya menghubungi sekretaris suaminya.


"Halo Tari, apa bapak ada di ruangannya?"


"Halo Bu, selamat siang, pak Ridho sedang ada rapat dengan atasan kami Bu? Apa ibu ada pesan?"


Pemberitahuan dari sekretaris suaminya membuat Fisha sedikit lega. "Terima kasih ya Tari, tolong nanti bilang bapak supaya menghubungi saya setelah selesai ya," pinta Fisha.


Setelah percakapan itu, entah mengapa batin Fisha kembali curiga.


Bagaimana kalau Tari bersekongkol dengan mereka? Menutupi hubungan keduanya? Bukannya seorang sekretaris biasanya akan tunduk pada atasannya?


Ahh ... Fisha tenangkan dirimu!


Fisha mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan, dia memekik karena merasa frustrasi.


"Ada apa Bu Fisha?" sapa Vio kepada atasannya.


"Vi, ada apa? Duduklah," pinta Fisha. Ibu dua anak itu lantas merapikan rambutnya yang tadi di acak-acaknya karena kesal.


"Ibu kenapa?" Vio juga sangat akrab dengan Fisha jadi dia merasa tak segan bertanya keadaan atasannya yang tampak berantakan.

__ADS_1


"Vi, kamu kenal baik dengan Mily kan?" tanya Fisha.


Vio bahkan melupakan tujuannya mendatangi ruangan sang atasan demi mendengarkan curhatan Fisha.


"Dekat bu, bahkan semalam kami baru saja bertemu," jelas Vio.


"Benarkah? Kenapa kamu ngga cerita kalau kalian mau ke temuan?" tukas Fisha kesal.


"Kamu tau, sekarang Mily bahkan sangat sulit di ajak bertemu. Dia banyak berubah! perasaanku mendadak ngga enak," keluhnya.


Vio juga tau betapa hubungan Mily dan atasannya itu sangat dekat. Vio hanya berpikir mungkin setelah bekerja di kantor yang sama dengan suami atasannya Mily semakin sibuk.


"Mily menurutku biasa aja sih Bu, cuma jadi tambah pendiam. Mungkin dia sedang menemukan dunia baru."


Vio memang tidak merasa ada hal aneh dari Mily mantan rekan kerjanya di butik milik Fisha.


Fisha hanya bisa mendesah pasrah, hatinya berperang di sana, mempercayai sebuah foto yang dikirim oleh orang misterius, atau lebih mempercayai hatinya yang masih percaya pada suami dan temannya.


****


Ridho menepikan mobilnya saat mendengar Mily mengatakan sesuatu yang sangat kejam baginya.


"Kamu? Kamu bilang apa? Menggugurkan? Kenapa?"


Mily tertawa sinis menanggapi ucapan sang suami. "Abang bilang ini anakku, seolah hanya aku yang membuatnya ada di perutku? Bukankah kamu sendiri menolak kehadiran anak ini!"


Astaga, Ridho baru ingat akan ucapannya, mungkin Mily berharap dia mengatakan anak kita, bukan hanya anaknya.


"Aku tau Abang bingung dengan kehadirannya Bang, aku pun sama, semuanya semakin kacau," lirih Mily.


"Ya sudah nanti kita pikirkan lagi, sekarang kamu harus makan dan meminum obatmu."


Ridho kembali melajukan kembali mobilnya menuju restoran.


"Kamu mau makan di mana?"


"Di mana aja bang, aku ngga yakin bisa makan juga."


Mereka sampai di sebuah restoran, Ridho sengaja memilih kursi di ujung restoran. Waktu baru masuk tak banyak pengunjung datang, tapi tak lama restoran hampir penuh.


Mily terdiam dengan pandangan kosong, tiba-tiba dia terisak. Pengunjung yang dekat dengan mereka menatap ke arahnya membuat Ridho malu.


Ridho akhirnya bangkit dan duduk di sebelah istri keduanya, berusaha menenangkannya. Bukannya memelan, tapi tangisan Mily malah semakin kencang.


Sedangkan di butiknya, Fisha yang masih khawatir dengan pikiran buruknya, kembali menerima pesan dari orang asing.


Dia sudah berusaha menghubungi nomor itu untuk tau siapa sebenarnya orang asing itu, sayangnya nomornya selalu tidak aktif setelah ia mengirim pesan gambar yang membuatnya marah.


Di gambar pertama hanya ada foto Mily dan suaminya yang tengah tertawa di sebuah rumah makan, meski cemburu, tapi Fisha anggap itu masih normal.

__ADS_1


Namun, sekarang orang asing itu mengirim gambar yang membuat darah di tubuhnya mendidih.


Di foto-foto itu, terlihat jika Ridho tengah di papah oleh Mily masuk ke sebuah kamar hotel, setelah itu foto Ridho tengah memeluk Mily di kantor, dari sudut gambar itu bisa di artikan jika keduanya tengah berciuman.


Lalu ada sebuah gambar di mana tubuh Mily yang terlihat kurus dan lemah di tuntun oleh sang suami masuk ke sebuah rumah.


Dan satu yang membuat Fisha memejamkan matanya adalah ada beberapa gambar di mana Mily tengah bersama sang suami dan ayah mertuanya.


Dadanya sesak, dia sudah tak tahan, ia yakin ada yang tidak beres dengan hubungan suami dan mantan karyawannya itu.


Baru saja meletakan tali tas ke pundaknya, ponsel Fisha kembali berdering, mau tak mau dia kembali melihatnya.


Sekarang foto sang suami yang tengah duduk di sebuah rumah makan dan menggenggam tangan Mily.


Si pengirim foto juga mengirimkan lokasi sang suami saat ini.


Dengan amarah membuncah, Fisha akan mendatangi ke duanya.


Fisha menjalakan mobilnya dengan kecepatan yang sangat membahayakan. Ibu muda itu sudah tak tahan dengan kebohongan suami dan orang yang sudah di anggapnya adik.


Setelah sampai, Fisha menarik napas demi menetralkan debaran jantungnya. Saat ini seluruh tubuhnya bergetar, takut, marah dan sedih semuanya bercampur menjadi satu.


Saat memasuki restoran, pandangannya menyisir seluruh ruangan dan ketika dia menemukan seseorang yang ia cari, tubuhnya sedikit lemas, dia bahkan harus berpegangan pada bangku yang dekat dengannya.


Dengan kaki yang bergetar Fisha mendekati keduanya yang saat ini tengah berpelukan.


"Apa begini kelakuan kalian berdua? Tega kamu Mas dan kamu Mily ... kamu keterlaluan!" pekik Fisha membuat mereka menjadi bahan tontonan para pengunjung restoran.


Mily dan Ridho tentu saja terkejut bukan main saat mengetahui jika Fisha memergoki keduanya.


Tubuh Mily menegang, dia sudah siap menerima segala amukan istri sah suaminya.


Sedangkan Ridho segera bangkit untuk mengejar Fisha yang setelah memergokinya memilih bergegas pergi begitu saja.


"Bun ... Bunda! Tolong dengarkan Ayah dulu, ayah mohon bun," pinta Ridho sambil berlari mengejar istrinya.


Ridho mencekal tangan Fisha yang sudah menangis. Ia tau istrinya pasti terluka, Ridho bahkan melupakan istri keduanya yang saat ini juga tengah terguncang batinnya.


"Ayah akan menjelaskannya di rumah, ayo kita pulang!" ajak Ridho yang tak mungkin berbicara di pelataran parkir restoran.


Sedari tadi dirinya saja sudah jadi bahan tontonan, tak mungkin harus menjelaskan semuanya di sana.


Fisha hanya bisa mengikuti sang suami tanpa ada perlawanan, ia sudah tak memiliki tenaga untuk mampu berdebat dengan sang suami saat ini.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2