Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Izin bekerja kembali


__ADS_3

Di rumah, Mily tengah menimang untuk menghubungi suaminya.


"Kamu kenapa Mil? Gelisah gitu?" tanya Saidah sambil meletakan susu hamil anaknya.


"Aku mau telepon Bang Ridho tapi takut ia sibuk bu," jelas Mily.


"Ibu kira ada apa," kekeh Saidah.


"Mil, sebaiknya kembalikan saja rumah ini, ibu tetap merasa ngga tenang. Hati ibu sakit mendengar mereka menghinamu seperti itu," lirih Saidah dengan mata berkaca-kaca.


Mily menghela napas, "Mily juga niatnya begitu Bu, tapi gimana? Papah Gunawan bersih keras menolak, Mily jadi bingung."


"Apa kita berikan saja langsung pada Fisha? Tak perlu memberitahu bapak mertuamu?" usul Saidah.


"Jangan begitu Bu, sama saja kak Mily ngga menghargai Om Gunawan. Biarkan saja mbak Fisha dan keluarganya kelabakan, itu bukan urusan kita Bu! Sudah cukup kita di injak-injak dari kemarin," sela Bian.


"Kamu ini! Pakde Tirta itu masih saudara kita, rasanya sangat aneh kita bertengkar seperti ini," ujar Saidah lemah.


"Bukan kita yang ngajak mereka ribut Bu!" elak Bian.


"Sudah jangan di ributkan, semoga ke depannya semua bisa kembali seperti semula. Kakak yakin kalau kakak dan Bang Ridho sudah bercerai, Mbak Fisha bisa kembali lagi sama Bang Ridho," lerai Mily.


Hanya itu harapan Mily ke depannya, semoga saja sikap Fisha bisa kembali seperti dulu saat dia sudah bercerai nanti.


"Kakak yakin sekali kalau mereka bakal bersatu lagi. Ngga ingat semalam Mbak Fisha kaya orang ngga waras saat ketahuan bertemu sama mantan pacarnya!" dengus Bian.


Mily juga tidak menyangka kalau Fisha bisa melakukan hal seperti itu. Namun ia masih berpikir positif, mungkin mereka hanya sekedar berjumpa, tapi rekaman saat Fisha bersedia kembali pada mantan kekasihnya tak bisa di abaikan juga.


"Kalau memang mereka nanti bercerai. Apa tak bisa kalau kamu mempertahankan rumah tanggamu saja Mil?" pinta Saidah.


Mily mengernyit bingung." Maksud Ibu, tak usah bercerai dulu, coba kalian jalani rumah tangga secara umum saja, siapa tau akan timbul rasa saling cinta di antara kalian," Lanjut Saidah.


Bukan Saidah bermaksud serakah dengan mencoba memberi masukan pada putrinya agar bisa mempertahankan pernikahannya kelak.


Dia hanya berpikir jika memang Ridho dan Fisha memilih menyerah, maka dia berharap tak ada lagi perceraian di antara Ridho dan Mily kelak.


"Bu, Mily paham maksud ibu, tapi Mily memang berharap Bang Ridho kembali pada mbak Fisha. Masalah anak ini, kalau pun nanti mbak Fisha keberatan memberi nafkah anak ini, Mily ikhlas Bu, yang penting anak ini lahir dalam status pernikahan yang sah," jelas Mily.


Saidah hanya bisa pasrah, dia sendiri bingung mengapa masalah mereka sangat pelik seperti ini.


"Apa ngga ada perkembangan dari kasus kamu itu Mil?" tanya Saidah mengalihkan pembicaraan.


Mily memang menceritakan jika Ridho sendiri menyelidiki kasus mereka, tapi sampai sekarang masih nihil dan teramat sulit untuk di ungkapkan.


***


Mily mengajak Ridho bertemu saat makan siang dan Ridho menyanggupinya. Ridho sempat bertanya ada masalah apa, tapi istri mudanya itu memilih untuk bertemu langsung.

__ADS_1


Kini mereka tengah berada di restoran tak jauh dari kantor Ridho.


"Makanlah yang banyak, badanmu terlalu kurus, aku takut anak kita kurang asupan gizi," pinta Ridho yang membuat Mily tersenyum.


"Makasih Bang, Mily berharap dia sehat dan kuat. Syukur sekarang sudah enggak mual muntah lagi," jelas Mily.


"Syukurlah. Ada apa kamu mengajak bertemu?" tanya Ridho di sela kunyahannya.


Mily menelan kasar salivanya, mendadak dia ragu untuk meminta izin pada suaminya ini.


"Kenapa? Ada masalah? Apa Fisha dan ibunya mendatangi rumah lagi?" ucap Ridho cemas.


Mily menggeleng menjawab pertanyaan suaminya.


"Abang sudah meminta pihak keamanan untuk menolak Fisha dan orang-orang yang ingin mengunjungi rumahmu harus menghubungi kamu lebih dulu."


"Ngga perlu segitunya Bang, lagi pula wajar kalau Mbak Fisha mau ke rumahku, ngga papa kok," elak Mily.


"Ngga papa kalau dia ngga merusuh, Abang takut dia melakukan sesuatu yang membahayakan kamu dan anak kita. Fisha berubah, abang melihat emosinya sedang tak stabil," jelas Ridho.


Mily semakin ragu ingin mengutarakan sesuatu pada suaminya. Saat ini saja sang suami tengah sibuk memikirkan perubahan emosi istri tuanya.


Dia yakin banyak hal yang sedang di cemaskan oleh suaminya itu.


"Kamu diam aja? Katanya mau ngomong sesuatu," tegur Ridho saat melihat Mily melamun.


"Katakan Mil, jangan pendam sendiri, ayo bilang sama Abang," paksa Ridho.


Mily menggigit bibir dalamnya sebelum akhirnya berucap.


"Mily minta izin untuk bekerja Bang," lirihnya sambil menunduk.


"Kamu mau bekerja? Apa uang yang Abang berikan masih kurang?"


Ridho tau nafkah untuk Mily memang tak seberapa, tapi saat ini ia hanya mampu memberikan sisa gajinya saja.


"Maafkan Abang yang belum bisa menafkahimu dengan layak."


Mily merasa tak enak karena Ridho tiba-tiba merasa bersalah. Padahal bukan itu maksudnya ingin bekerja.


"Bang, berapa pun nafkah yang Abang beri, aku menerimanya dengan suka cita. Hanya saja, aku tak ingin membebankan semua kebutuhanku dan keluargaku pada Abang. Mily mohon abang mengizinkan Mily bekerja."


"Pekerjaanku ngga terlalu berat Bang, lagi pula abang kenal dengan ownernya," jelas Mily berharap sang suami mengizinkannya.


"Kamu mau bekerja di mana emang?"


"Di restoran milik ibunya Ferdi Bang, mamahnya memerlukan manajer, aku di tawarin beberapa waktu lalu. Bolehkan Bang?" ucap Mily memohon.

__ADS_1


"Boleh abang bicara dulu dengan Ferdi?" Senyum Mily memudar tapi tetap mengangguk.


Ridho yang tau istri keduanya itu sedikit kecewa menggenggam tangannya, membuat Mily terkejut.


"Abang cuma mau bertanya bagaimana pekerjaannya. Bukan berarti melarang, kalau memang sesuai dengan keadaan kamu yang sedang hamil, tentu saja akan abang izinkan," jelasnya membuat senyum Mily seketika mereka.


"Makasih ya Bang," ucap Mily bahagia.


"Tapi pesan Abang, kamu jangan sampai cape-cape ya," ucap Ridho tajam dan di balas Anggukan semangat Mily.


Setelah pertemuan itu, Ridho bergegas mengajak Ferdi untuk bertemu di rooftop kantor.


Ferdi pun mengikutinya tanpa banyak bertanya. Setelah keduanya duduk berhadapan barulah Ridho mengutarakan maksudnya.


"Begini Fer, aku tau dari Mily kalau kamu menawarinya pekerjaan di restoran mamahmu?" tanya Ridho.


"Iya Pak, itu juga kalau Pak Ridho mengizinkan."


Ferdi tau kalau Mily adalah seorang istri, jadi dia menunggu dengan sabar kabar dari Mily tentang tawarannya.


"Kamu tau kan Fer kalau Mily sedang hamil, apa mamahmu mau menerima?"


"Kalau kondisi Mily saya udah bilang pada mamah saya Pak, dan beliau tidak mempermasalahkan, tapi tetap ada tesnya juga apa Mily bisa memenuhi syaratnya atau tidak pak," jelas Ferdi.


Ridho mengangguk paham, "jadi belum tentu Mily di terima ya Fer?"


"Mungkin aku bisa memaksa mamahku pak," ujar Ferdi sambil tertawa.


"Jangan begitu Fer, kalau caranya seperti itu aku yakin Mily ngga akan nyaman nantinya," tolak Ridho.


"Kalau memang Mily memenuhi syarat yang mamahmu cari, silakan, tapi aku mohon tolong berikan pekerjaan yang sesuai dengan kondisinya ya."


Padahal tanpa harus melalui seleksi Ferdi bisa langsung menerima Mily bekerja di restorannya. Dia sengaja tidak mengatakan hal itu sebab tak ingin di anggap sebagai pahlawan.


Ferdi tau betul seperti apa Mily dan Ridho, jadi dia berkata jika restoran itu adalah milik ibunya.


"Pak Ridho tenang saja, restoran saya tak terlalu besar jadi tak memerlukan banyak pengawasan," jelas Ferdi.


Keduanya kembali ke ruangan masing-masing. Sebelumnya Ferdi sudah mengetik pesan kepada Mily mengajak perempuan itu bertemu lagi.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2