Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Pasrah


__ADS_3

Fisha benar-benar menjalankan rencananya, beberapa hari ini dia sudah siap menggugat sang suami di pengadilan, pengkhianatan adalah masalah yang ia cantumkan sebagai gugatan.


Bukti berupa foto dan video yang dia miliki sudah ia serahkan kepada Mely. Beberapa hari ini sikapnya juga berubah pada Ridho, ia tak lagi mau mengurusi semua kebutuhan suaminya itu.


Semua upaya sudah Ridho lancarkan demi mengurungkan niat sang istri, tapi semua tak ada hasilnya.


Bahkan Elya menangis tersedu-sedu memintanya untuk bertahan sekali saja, dan memberi kesempatan bagi putranya tapi tak juga di gubris oleh Fisha.


Saat akan kembali ke rumah, dia mendapati mobil sang suami di depannya. Dengan rasa penasaran Fisha akhirnya mengikuti mobil sang suami dengan jarak yang cukup jauh.


Dia tidak ingin sang suami mengetahui keberadaannya. Ternyata mereka berbelok ke sebuah perumahan yang cukup elit bagi Fisha.


Dia menghentikan kendaraannya saat di pos keamanan. Pihak keamanan menanyakan kartu identitas dan keperluannya, Fisha dengan tenang menjawab jika dia adalah saudara jauh dari Ridho.


Ucapannya sangat meyakinkan karena dia berada tak jauh dari mobil milik suaminya. Penjaga keamanan memberikan jalan bagi Fisha untuk masuk, beruntung sang suami mengendarai mobilnya cukup santai hingga ia bisa mengikutinya lagi.


Mereka memasuki sebuah rumah belantai dua dengan desain Minimalis. Ridho keluar dan membukakan pintu belakang untuk seseorang.


Fisha mencengkeram setir kemudinya dengan kencang saat tau ternyata di dalam sana sang suami bersama Mily dan asisten rumah tangga mereka.


Wanita paruh baya yang dulu pernah ia bentak karena berani menjawabnya terlihat tertatih memapah tubuh lemah Mily.


Mereka tidak menyadari kehadirannya saat Ridho mengambil alih tubuh Mily dari Imah untuk memapahnya.


"Bagus ya mas, katanya cuma tanggung jawab buat memberikan status, nyatanya kamu memberikan wanita murahan ini sebuah rumah juga?" ujar Fisha sambil bertepuk tangan.


Mily yang masih dalam keadaan lemah tak mampu menjawab apa pun bahkan terlihat sekali jika gadis itu terlihat semakin kepayahan.


"Ngga nyangka aku, ternyata kamu benar-benar ngga tau diri ya Mil, apa sih salah aku sama kamu, sampai kamu balas aku kaya gini hah!" bentaknya, membuat mereka menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang.


"Fisha mas mohon, masuklah terlebih dahulu, kita bicarakan ini di dalam. Biarkan Mily istirahat dulu, dia baru keluar dari rumah sakit," jelas Ridho yang membuat Fisha membuang muka kesal.


Sungguh hatinya semakin sakit saat melihat semua perhatian sang suami pada istri keduanya itu.


"Ngga perlu, aku akan pergi. Ingat mas, semua harta yang kamu hasilkan selama menikah denganku, akan kutuntut! Termasuk rumah ini!" tunjuknya kepada Ridho.


"Kamu ngga akan bisa menuntut rumah ini, karena rumah ini milik Mily," jelas Ridho.


Sebelum Fisha menuntut segalanya, setidaknya dia harus memberitahu mengenai rumah ini yang tidak bisa di ganggu gugat oleh istrinya.

__ADS_1


"Semua harta dalam pernikahan kita tentu saja aku bisa menggugatnya!" ancam Fisha lalu menatap Mily sengit.


"Aku penasaran bagaimana pendapat ibu dan adikmu? Apa mereka tau kelakuan anak yang mereka banggakan? Jangan-jangan mereka senang karena putri mereka bisa menghancurkan rumah tangga orang lain!" sinisnya.


Tiba-tiba Mily meluruh memeluk kaki Fisha, "Aku mohon mbak, jangan bilang apa-apa sama ibu, kalau mbak mau rumah ini, aku akan memberikannya, aku mohon mbak," pinta Mily sambil berderai air mata.


Hal yang paling di takutinya adalah sang ibu mengetahui kondisinya, ia tak ingin sang ibu kecewa.


"Tanpa kamu memberinya, rumah ini memang milikku dan anak-anakku. Aku tetap akan memberitahu ibumu! Itu semua pelajaran bagimu!" jawab Fisha tegas.


"Mbak, sudah mbak, bangun, ayo istirahat!" ajak Imah.


"Bun, sudah, mengapa kamu sekarang tega seperti ini, aku tau kamu marah, tapi kamu ngga perlu menghukum Mily seperti ini. Semua ini salahku Bun, kamu mau minta apa saat ini maka aku akan kabulkan, tapi kumohon lepaskan Mily dan keluarganya," pinta Ridho lemah.


Bersama Imah, dia mengangkat tubuh Mily dan memapahnya masuk ke dalam rumah. Ridho memikirkan nasib anak yang sedang di kandung Mily, bagaimana pun itu darah dagingnya.


Ia memang salah dan sudah mengakui semuanya pada sang istri, Ridho sudah tidak mampu lagi berpikir.


Kemarin saat berbincang dengan sang ayah, gunawan memberikan saran yang di rasa sangat memberatkan dirinya.


Saat itu Gunawan mengatakan supaya dirinya menerima ajakan berpisah dari istri pertamanya dan menikahi Mily secara resmi.


Demi membuktikan ucapannya maka Gunawan menyarankan sang putra menerima tawaran Fisha untuk bercerai.


Di sudut hati Gunawan sebenarnya ingin sang putra tetap mempertahankan kedua menantunya tapi itu terlalu sulit.


Saat menjenguk Mily di rumah sakit, bahkan Gunawan menanyakan perasan sang menantu kepada putranya.


Jawaban Mily sama dengan Ridho, ia tak pernah sekalipun mencintai Ridho layaknya seorang laki-laki.


Tidak ingin memaksa, jadi gunawan berpikir bahwa kemungkinan sang putra masih bisa merajut kembali rumah tangganya dengan Fisha setelah Ridho menceraikan Mily secara resmi.


Ia yakin jika Fisha melihat kesungguhan Ridho, pasti menantunya itu akan kembali luluh. Gunawan juga berpesan kepada Ridho meski nanti keduanya berpisah, Ridho tak boleh melupakan darah dagingnya dari Mily.


Setelah mengantar Mily ke kamarnya, Ridho kembali ke teras demi menemui istri tuanya.


"Masuklah Bun, kita bicara. Mungkin untuk yang terakhir kalinya," lirih Ridho.


Hati Fisha merasa sesak saat melihat sang suami yang tadi sibuk mengurus Mily, tak di ungkirinya ia masih merasakan cemburu, sekuat mungkin ia menahan agar air matanya tak luruh saat ini.

__ADS_1


Mau tak mau Fisha masuk ke dalam rumah Mily, ia menyisir ruangan itu yang tak banyak memiliki perabot seperti rumahnya.


"Sekarang apa yang bunda ingin sampaikan?" tanya Ridho tenang.


Fisha menatap tajam sang suami yang seolah sudah pasrah dengan apa yang akan dia terima.


"Cerai, kamu tau kan?" Ridho mengangguk.


"Anak-anak akan ikut bersamaku," lanjutnya dan Ridho hanya bisa membalas dengan tersenyum getir.


"Aku harap kamu tidak menuntut harta gono gini! Aku cuma mau bilang itu, setelahnya terserah kamu mau bagaimana," jelas Fisha sinis.


"Ayah masih bisa menemui anak-anak kan bun?" hanya itu permintaan Ridho.


Dia akan mendekati sang istri lewat anak-anaknya kelak, itu juga kalau Fisha masih mau menerima dirinya.


"Silakan, mereka kan anak-anakmu juga. Jangan lupa tunjangan mereka, aku tetap meminta sepuluh juta per bulan."


"Akan aku usahakan Bun," pasrahnya.


Melihat sang suami yang sepertinya sudah menerima keputusannya, membuat dada Fisha terasa sakit.


Apa hanya seperti ini perjuanganmu mas? Mengapa kamu tak mencoba seperti kemarin.


Fisha-Fisha, begini lebih baik, aku tidak perlu merasa sakit hati lagi nanti.


Namun ia tak bisa memungkiri jika hatinya masih sangat mencintai sang suami.


Setelah mengatakan hal itu Fisha keluar tanpa kata menuju mobilnya. Sakit hati yang ia rasakan menjadikan sebuah dendam di hatinya.


Aku akan membalasmu Mily! Kamu sudah sangat kejam menghancurkan rumah tanggaku, tak mungkin aku biarkan kamu tenang!


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2