Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Provokator


__ADS_3

Suasana yang semakin menegangkan tak elak membuat warga yang berkumpul di depan kediaman Saidah hendak membubarkan diri.


Namun, Ferdi mendekati kerumunan itu yang sejak tadi dia perhatikan banyak yang merekam.


"Dengarkan baik-baik, siapa pun yang merekam masalah ini dan menguploadnya ke media sosial, saya pastikan akan saya pidana kan, karena kalian melanggar privasi kami di sini!" ancamnya.


Beberapa warga yang sadar melakukan hal itu buru-buru menghapus video mereka dan berlalu meninggalkan kediaman Saidah.


Ferdi kembali menghadapi tiga orang warga yang menjadi targetnya.


"Ayo Bu Ika, betulkan itu nama Anda? Sebaiknya kita ke sana dengan damai," ajak Ferdi dengan senyum tersungging.


Seorang laki-laki berlari tergopoh-gopoh mendatangi kediaman Saidah, dia adalah suami Ika dan suami dua orang warga yang bersamanya.


"Maaf, ini ada apa ya, kenapa istri-istri kami hendak di bawa ke kantor polisi?" tanya suami Ika dengan napas terengah-engah.


Dua orang ibu-ibu lainnya bahkan sudah terisak di pelukan suami mereka.


"Maaf Pak Rt saya ngga tau apa-apa, saya cuma di bayar sama Bu Ika untuk ikut mengusir Bu Saidah," dua orang ibu-ibu lantas mengiba pada Saidah dan Mily untuk melepaskan mereka dan balik menyudutkan Ika.


Ika yang geram dengan kelakuan kedua temannya lantas bangkit berdiri.


"Kurang ajar kalian! Kenapa jadi menyalahkan aku!" sengitnya.


"Emang kamu yang ajak, kita mah iya-iya aja!" mereka beradu mulut sendiri hingga salah satunya mengeluarkan dompet bertuliskan logo toko mas di kota Mily dan mengambil sejumlah uang dari sana.


"Nih Bu Ika! Gara-gara uang yang ngga seberapa ini saya ngga mau masuk penjara!"


"Bu Saidah, Miky maafkan saya, sungguh saya ngga tau apa-apa, Pak Rt dan pak pamong, saya minta maaf kalau sudah membuat keributan, apa saya boleh pulang?" pintanya takut-takut.


Melihat temannya memulangkan uang yang di berikan oleh Ika, dia pun ingin mengikutinya, sayangnya sebagian uangnya sudah dia pakai untuk keperluannya kemarin.


"Ika, maaf ya ini sisa uangnya, aku mau mulangin semuanya tapi udah kepakai, aku janji akan balikin sisanya, tolong jangan bawa-bawa aku lagi ya, aku mohon," ucapnya sambil menyerahkan uang recehan pada Ika.


Sama seperti rekannya dia juga meminta maaf pada Saidah dan Mily juga pada aparat yang menjadi mediator.


Dia juga mengatakan hanya sekedar ikut-ikutan karena di bayar oleh Ika.


Melihat semua rekannya memojokkannya, membuat napas Ika memburu, dia bangkit dan hendak mendekati keduanya.


"Kurang ajar kalian! Harusnya kalian membela aku! Ini malah meninggalkan aku!"

__ADS_1


Ika hendak memukul kedua temannya, tapi di cegah oleh sang suami.


Rekannya itu pun di lindungi oleh suami-suami mereka yang meminta agar istri mereka di lepaskan.


Melihat suasana yang riuh oleh keributan mereka sendiri, terpaksa Ferdi kembali bersuara.


"Diam! Kalian bisa tenang?" bentak ketua RT.


"Pak Rt. Saya mohon maaf, sebaiknya kedua orang warga itu kita pulangkan saja dulu, yang penting mereka bisa di mintai keterangan saat di butuh kan, karena kondisinya semakin tidak kondusif," tawar Ferdi.


"Bagaimana Bu Saidah, mbak Mily?" tanya Ketua Rt. Yang menyerahkan keputusan itu pada pihak yang tergugat.


"Silakan Pak Rt, kami hanya perlu keterangan Bu Ika saja," ucap Mily tenang, meski dia sendiri bingung dengan situasi ini.


Melihat kedua rekannya di bebaskan secara mudah, membuat Ika dan suaminya kelimpungan.


"Sekarang jelaskan Bu Ika, dari mana ibu mendapatkan foto-foto itu kalau mau lepas dari jerat hukum," tawar Ferdi sesaat setelah kedua orang warga di bebaskannya.


Dengan gemetar, dia menatap sang suami, di benak wanita bertubuh gempal itu dia sedang menghadapi pilihan sulit.


Jika ia mengatakan dari mana ia mendapatkan foto-foto itu, jelas dia takut sang suami akan terancam kehilangan pekerjaannya.


Namun jika ia tetap kekeh memaksa mengelak, maka ia akan berurusan dengan pihak yang berwajib.


"Itu hanya sekedar Foto untuk bukti, mengapa kalian bisa menyeret saya ke polisi? Kalian ini aneh sekali," lirihnya yang masih berusaha mengelak.


"Saya sudah buat pilihan sama ibu tadi, jawab siapa yang memberikan foto itu, atau ayo ke kantor polisi untuk tau masalahnya!" ujar Ferdi yang mulai kehabisan kesabaran.


Ika menunduk dan menatap sang suami, "maafkan ibu pak," lirihnya.


Suami Ika pun dalam kondisi yang sulit, sungguh ia tau semua itu, tapi tak ada yang bisa dia lakukan sebab semuanya permintaan istri bosnya.


Namun ia juga tak tega membiarkan istrinya masuk ke dalam jeruji besi dengan tuntutan yang akan di layangkan oleh keluarga Saidah nantinya.


"I-itu dari Bu Marlina," lirihnya.


Semua menarik napas, tau siapa biang kerok dari permasalahan ini.


"Kenapa Ibu Marlina melakukan hal itu?" tanya ketua Rt.


Ika menengadah menatap ketua Rt nya, wajah yang tadi arogan kini berubah pucat karena takut.

__ADS_1


"Bu Marlina menceritakan nasib anaknya, karena ulah Mily pernikahan anaknya terancam kandas, lalu meminta tolong saya agar membalas sakit hatinya," jelasnya.


"Harusnya ibu tidak gegabah menerima begitu saja, ibu tidak tau masalah yang sebenarnya terjadi, jadi jangan mau di kambing hitamkan seperti ini, kalau begini, ibu mau jadi tersangka dalam kasus Mily?"


"Saya ngga tau Pak, sungguh, Bu Marlina hanya minta Saidah dan keluarganya di beri pelajaran," elak Ika.


"Ibu tau undang-undang ITE kan? Apa ibu sudah menyebar gambar-gambar itu?" tanya Ferdi tajam.


Ika gemetar, ada beberapa warga yang memang sudah dia tunjukkan foto-foto itu, untungnya dia tak menyebarkan melalui ponselnya, hanya menunjukkan saja.


"Saya ngga menyebarnya Mas, saya hanya menunjukkan saja," ucapnya membela diri.


"Kita lihat saja, kalau sampai ada yang memiliki Foto-foto itu selain Ibu, maka bersiap saya akan melaporkan kasus ini!" ancam Ferdi.


Ika menangis tergugu, "ampuni saya mas, saya ngga tau apa-apa sungguh, saya cuma orang biasa," ibanya.


Ketua Rt yang melihat itu sebenarnya merasa kasihan tapi juga kesal karena warganya mudah sekali di hasut.


"Lagian Bu Marlina kan bukan warga sini, harusnya Bu Ika tau itu dan tak perlu ikut campur masalah mereka," ketus ketua Rt.


"Melihat dari situasi ini apa yang di minta sama keluarga Bu Saidah sama Mbak Mily?" sela utusan desa yang sejak tadi hanya menyimak.


Mily lantas membuka suara, "Saya mohon jangan ulangi hal ini lagi Bu, saya dan keluarga tidak pernah menyakiti warga di sini, jadi berhentilah menjadi provokator atas masalah yang Ibu sendiri bahkan tak tau," ujarnya tegas.


Ika hanya bisa mengangguk, dalam hati tak ada penyesalan sebenarnya, ia hanya takut terseret ke jeruji besi.


"Saya minta maaf Bu Saidah mbak Mily."


"Dan satu lagi," sela Ferdi yang tak ingin membiarkan Ika lepas begitu saja. Dia ingin membalik keadaan sekarang.


Mily menatap Ferdi bingung, harusnya masalahnya sudah selesai saat ini, lalu apa yang lelaki itu rencanakan lagi, batinnya.


"Tolong pak Rt dan pak pejabat desa, Bu Ika tetap harus mempertanggung jawab kan perbuatannya yang telah mencoreng nama baik keluarga Mily."


"Tolong Ibu Ika bersihkan nama Mily yang sudah di hancurkan oleh ibu," putusnya.


Ika semakin bergetar mendengar permintaan Ferdi, dia tidak sanggup jika harus mengakui kesalahannya, toh dia sendiri tidak merasa bahwa yang di lakukannya adalah sebuah kesalahan.


Tak ada yang menjelaskan padanya apa hubungan sebenarnya antara Ridho dan Mily, mereka hanya memojokkannya saja.


Nunggu aku update? Tenang aku bawain lagi nih bacaan seru lainnya dari sesama rekan Author, kali ini ada Author

__ADS_1


DESY PUSPITA yang novelnya berjudul ISTRI RAHASIA SANG PRESDIR, di jamin seru🄰



__ADS_2