
Fisha tengah kalut di ruangan butiknya. Setelah melepas butik barunya yang tidak berkembang, kini dia sedang mengalami kondisi yang bisa di bilang hampir saja bangkrut.
Suara pintu di ketuk membuatnya menoleh, Dika datang membawakan sebukat bunga mawar untuknya, sayangnya hatinya malah tak senang dengan hal yang di lakukan kekasihnya.
"Kok cemberut gitu? Ngga suka kalau aku dateng?" sapanya sambil meletakan bunga di meja Fisha.
"Ada apa? Maaf aku lagi banyak kerjaan," dustanya yang tak ingin berbasa-basi.
Tanpa mau tau, Dika duduk di hadapan Fisha masih dengan senyum yang sangat menyebalkan.
"Kamu udah dapat kekurangan dari uang kemarin?" tanyanya santai.
Fisha yang sedari tadi masih memegangi kepalanya lantas menatap jengkel kekasihnya.
Batinya merutuki sikap sang kekasih yang seolah sedang menagih hutang padanya.
"Memang aku menjanjikan apa sama kamu Dik? Aku kan udah bilang, hanya mampu kasih kamu segitu. Itu aja uang milik anak-anakku!" ketusnya.
Dika mengernyit heran, karena melihat perubahan sikap kekasihnya.
"Kamu ada masalah?"
Bukannya menanyakan perasaannya, Dika malah menanyakan hal lain untuk mengelak.
"Masalahku banyak Dik! Butik baru yang susah payah kudirikan bangkrut dan kini butik utama ini juga terancam bangkrut karena kekurangan modal!" sergahnya kesal.
"Ya ampun sayang, aku kan udah bilang jual atau gadaikan salah satu asetmu, selain buat menopang usaha kita nanti, uang itu juga bisa untuk menambah modal usahamu kan?" bujuk Dika.
Fisha mendengus frustrasi, selama ini dia tidak pernah seterpuruk ini dalam masalah keuangan, Ridho selalu mencukupi kebutuhannya bahkan membantu memodali usahanya.
Tabungan yang dia miliki pun kini telah habis tak tersisa untuk memodali usaha Hotel milik Dika. Namun tak pernah sekalipun sang kekasih memberinya keuntungan dari usaha itu.
"Engga bisa kah, aku meminta keuntungan dari modalku Dik? Aku sungguh membutuhkannya," pintanya.
Dika menatap sengit sang kekasih, "kamu tau aku tak pernah memegang hasil dari hotel itu, semua aku putar kembali. Apa kamu masih tidak percaya?" ketusnya.
"Bukan aku ngga percaya, tapi aku bener-bener lagi kesulitan keuangan Dika!" sergahnya jengkel.
"Sudahlah, kamu tenang aja, bukannya kamu bisa meminta jatah anak-anak pada bapaknya? Aku kesini mau ngajak kamu ke hotel loh, ada menu baru di sana katanya enak," tawarnya.
Fisha benar-benar jengah dengan semua saran dari kekasihnya itu. Namun ia buta karena rasa cinta pada lelaki itu.
Dengan memaksa Dika tetap menyeret Fisha untuk mengikuti keinginannya.
Mau tak mau Fisha kembali menyerahkan pekerjaannya pada bawahannya.
__ADS_1
"Tapi Bu, bukannya hari ini ada janji temu dengan pihak konveksi? Aku harus bilang apa?" ujar Vio keberatan.
Selain dia yang nanti jadi bahan kekesalan para pemilik konveksi, Fisha juga terlalu abai pada karyawannya.
"Kamu ini di bayar kan? Kerjalah yang benar! Kalau ngga becus, banyak yang bisa gantiin posisi kamu!" sela Dika kesal.
Vio hanya bisa menghela napas mendengar ucapan kekasih bosnya itu.
Sungguh sangat disayangkan bosnya bisa memiliki kekasih yang jauh lebih buruk dari pada mantan suaminya, pikir Vio.
"Astaga Bu Fisha apes banget sih, lepas dari Pak Ridho dapetnya laki jadi-jadian! Belum jadi suaminya aja kalau ngomong dah pedes banget, gimana kalau udah nikah mereka? Aku kayaknya harus mulai cari kerjaan baru lagi," monolog Vio.
.
.
Di hotel, Ferdi kembali bertanya pada manajer hotel tentang siapa nama Dika Mahendra itu dan mengapa dia memesan kamar itu.
"Dika Mahendra adalah atasan kami pak," jelasnya lemas.
Semua yang di katakan oleh manajer itu sudah sesuai arahan dari pemilik utama hotel yaitu Louisa.
"Kenapa bisa saya di minta oleh orang itu untuk ke kamar itu pak?" tanya Mily tak mengerti.
"Maaf untuk pertanyaan lainnya, tanya langsung saja dengan beliau, sebaiknya tunggu saja beliau datang. Saya hanya bertugas untuk memberitahukan nama itu saja," jelas sang manajer tenang.
Dia sungguh ingin bertemu dengan lelaki yang telah tega menjebaknya, dia tak mengenal lelaki itu, hanya sebuah nama yang kebetulan mirip dengan nama kekasih mantan istrinya.
Namun ia bingung, apa mereka orang yang sama atau bukan? Ridho benar-benar ingin menghajar orang itu yang telah memorak-porandakan kehidupannya.
"Kalian tunggu saja di restoran, saya yakin beliau akan ke sana, tapi harap bersabar, jangan sampai membuat keributan di sini," pintanya penuh harap.
"Jangan harap saya akan melepaskan kalian! Saya pasti akan menuntut hotel ini, camkan itu!" ancam Ridho.
"Sabar mas, sebaiknya kita tunggu orang yang bernama Dika itu, siapa tau dia orang yang mas kenal," Selomita berusaha menenangkan kekasihnya.
Hanya Mily yang masih bingung dengan kejadian ini, apa benar jika Dika kekasih Fisha yang telah menjebaknya? Lalu kenapa harus dia? Memangnya apa salahnya?
"Mil, ayo!" ajak Ferdi.
Keempatnya menunggu di restoran, hanya Ridho yang sejak tadi menatap pintu masuk dengan tatapan penuh amarah.
"Bapak tenangkan diri dulu, kita harus tau apa motif laki-laki itu," pinta Ferdi.
Mata Mily dan Ridho membelalak sempurna kala melihat Fisha datang bersama dengan Dika.
__ADS_1
Meski tak tau apa Dika yang mereka pikirkan adalah orang yang sama, Ridho tetap menghampiri keduanya dengan tergesa.
Mily dan yang lainnya juga ikut menyusul Ridho karena takut lelaki itu akan berbuat kekerasan yang berakibat buruk baginya.
"Jadi kamu dalang di balik semua ini Sha?" tuduhnya pada sang mantan istri.
"Mas Ridho?" Fisha terkesiap mendengar suara Ridho yang berada di belakangnya.
Dia dan Dika memang tidak menyadari kehadiran Ridho dan yang lainnya.
"Apa maksud mas?" balas Fisha geram.
"Sory Dik gue telat," sapa seseorang yang membuat mereka semua kembali terkejut.
"Husain?" lirih Mily tak percaya.
Tubuh Husain menegang kala tau seseorang yang bersama sepupunya.
Ingin sekali dia melarikan diri dari sana karena merasa posisinya terancam.
"Siang pak Dika," sapa sang manajer.
Jelas sudah semuanya, hanya saja di pikiran Ridho ia menganggap jika Fisha mantan istrinya juga adalah dalang di balik kejadian nahasnya.
Di benak Ridho, karena ingin bersama kekasih dan menguasai semua harta gono gininya, Fisha rela menipunya dan berkomplot dengan Dika untuk menjebaknya.
"Aku ngga sangka kamu selicik ini Sha!" dengusnya.
"Kamu apa-apaan sih mas! Datang-datang main nuduh sembarangan! Jelaskan dulu baru boleh ngambil kesimpulan!" pekiknya kesal.
Dika dan Husain yang seperti sudah tau ke mana arah pembicaraan ini berusaha untuk melarikan diri.
Sayangnya Ferdi yang sudah menyiapkan segalanya kembali meminta tolong pada Herman dan anak buahnya untuk mengawal.
Saat Dika dan Husain akan kabur, mereka berhasil di lumpuhkan oleh anak buah Herman.
Suara tepukan tangan keras membuat mereka semua menoleh, beruntung saat itu sengaja hotel menutup restoran karena mengantisipasi kejadian ini.
"Bagus sekali, kuangkat kamu dari derita, tapi begini balasan kamu, hemmm?" ucap seseorang membuat Dika mati kutu, wajahnya pias.
.
.
.
__ADS_1
Tbc