Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Kejutan untuk Mily


__ADS_3

Keadaan Saidah sudah mulai membaik, perempuan paruh baya itu sudah sadarkan diri sejak kemarin.


Kini setelah semua sudah stabil, para Dokter memindahkan Saidah ke ruang perawatan.


"Terima kasih ibu udah sadar, maafkan Mily ya Bu?" lirih Mily.


Dari kejadian ini dialah yang paling merasa bersalah, sebab kalau saja dia tidak ngeyel dengan perkataan sang ibu, mungkin ibunya tak akan mengalami hal tragis seperti ini.


"Minum," pinta Saidah lemah.


Mily bergegas bangkit dan memberikan air minum untuk ibunya.


Mily memang setiap hari ke rumah sakit untuk menjenguk anaknya, yang lusa juga sudah bisa di bawa pulang.


"Kamu sehat nak? Bagaimana anakmu?"


"Dia perempuan Bu, namanya Bintang, Bang Ridho yang kasih nama Bu," jelas Mily senang.


“Nama yang cantik,” puji Saidah bahagia.


Suara pintu di buka membuat keduanya menoleh, ternyata Ferdi dan Bian yang datang bersamaan.


Mereka tidak janjian, karena saat ini memang jamnya istirahat.


Bian selalu menjenguk sang ibu kala jam istirahat kampusnya, yang kebetulan tak jauh dari rumah sakit, sedangkan Ferdi sengaja datang hari itu karena tau calon ibu mertuanya telah sadar dan ada sesuatu yang akan di bicarakannya.


"Syukurlah ibu sudah sadar," ucap Ferdi sambil meletakan buah tangan di brankar rumah sakit.


"Bu, ada yang mau Ferdi sampaikan," lanjutnya dengan nada tegas.


Mily dan Bian mengernyitkan dahi, dalam benak mereka berpikir jika Ferdi akan memberitahukan tentang masalah mereka tempo hari.


"Ferdi ingin meminta restu untuk segera menikahi Mily bu," ucapnya yakin membuat Mily menegang, pasalnya dulu sang ibu ingin sekali pergi dari kota ini meninggalkan Ferdi dan Ridho.


Saidah menoleh ke arah sang putri yang sekarang menunduk, "apa kamu siap untuk menikah nak?" tanya Saidah lembut.


Mily menengadah menatap mata sayu sang ibu, "enggak kalau tanpa restu ibu," jawabnya lemah.


Tak di ungkiri ada rasa yang dia rasakan pada Ferdi, lelaki tampan yang mau menerima dirinya apa adanya dan juga Ferdi adalah sosok yang sangat perhatian.


Bagaimana mungkin dia tak jatuh hati padanya, hanya status sosial yang membuatnya minder. Terlebih lagi hubungannya dengan Marlina tak terjalin cukup baik.


Marlina tak berlaku kasar atau menolaknya, hanya saja Mily sadar jika ibunda Ferdi itu seperti menjaga jarak dengannya.


"Apa orang tuamu merestui keinginanmu Nak Ferdi?"

__ADS_1


Ferdi mengangguk yakin, kedua orang tuanya sudah pasrah dengan keinginannya, meski ia tahu semuanya karena terpaksa, baginya tak masalah, dia yakin lambat laun kedua orang tuanya akan menerima Mily.


"Baiklah, ibu merestui kalian," ucap Saidah kemudian yang membuat Ferdi merekahkan senyumannya.


"Terima kasih Bu."


"Kering nanti mulutnya bang! Nyengir mulu!" sindir Bian di belakang mereka.


"Syirik aja kamu!" ketusnya menjawab calon adik iparnya.


.


.


Ferdi mengajak Mily ke suatu tempat, setelah masa nifasnya, Ferdi berniat ingin segera menyelenggarakan pernikahan mereka.


"Kita mau ke mana Fer?"


"Ke KUA!" kelakarnya membuat Mily memukul lengannya.


"Ishh, belum juga nikah udah KDRT aja kamu," dengusnya pura-pura kesal.


"Lagian dari tadi kamu ngga mau jawab, kita mau ke mana Fer?"


Mily benar-benar penasaran ke mana dia akan di ajak pergi oleh calon suaminya itu. Jika untuk fiting gaun dan membeli perhiasan, keduanya sudah melakukan itu beberapa waktu lalu.


Gadis itu terkesiap, jantungnya berpacu dengan kencang, meski sudah berdamai dengan keadaan, kenangan buruk itu tetap saja masih menetap di sudut hatinya.


"Ke-kenapa kita ke sini Fer?" ucapnya gagap.


"Tenanglah, ada aku, ada sesuatu yang harus kamu tau tentang semua ini. Percayalah padaku," ujar Ferdi menenangkan calon istrinya.


Mily berjalan ragu di sisi Ferdi, rasa penasaran memuncak di hati wanita itu.


"Nanti Pak Ridho dan Selomita juga akan menyusul ke sini, kamu tenang aja."


Tak ada acara resepsi karena Ferdi harus menyetujui keinginan ayahnya yang harus menunda dulu pesta resepsi mereka sampai nanti dia menjadi pengganti Suseno di perusahaan.


Mily dan keluarga setuju saja, yang penting mereka tak mau jika pernikahan itu di lakukan secara siri.


"Apa kamu berniat menyelenggarakan resepsi di sini Fer?" tuduhnya.


"Enggak, kamu tenang aja, nanti kamu juga tau, nah itu Pak Ridho dan Mita," Ferdi menatap kedatangan dua insan yang datang sambil bergandengan tangan.


"Sudahlah Pak, jangan lama-lama nyusulnya! Atau bareng aja gimana?" tawar Ferdi dan langsung di balas tinjuan pelan di bahunya.

__ADS_1


"Sembarangan! Kamu enak karena semua udah setuju, aku masih harus menaklukkan hati calon mertuaku!" kelakarnya.


"Gimana udah siap Fer?"


"Kamu baik-baik aja Mil? Wajahmu pucat?" tanya Ridho khawatir.


Ridho yakin jika kedatangan mereka ke sini membuat ingatan buruk bagi gadis itu kembali.


"Maafkan Abang ya Mil," lirihnya menatap iba pada mantan istrinya itu.


Mily terkesiap lalu menatap mantan suaminya, "enggak papa bang, aku udah coba lupa in kok," dustanya.


Mily berusaha tersenyum demi menutupi ke gugupan hatinya, bagi seseorang yang pernah mengalami trauma seperti dirinya, tentu tak mudah melupakan hal-hal yang menyakitkan seperti yang ia rasakan.


"Ayo kita ke kantor!" ajak Ferdi, karena dia ingin agar masalah mereka cepat selesai dan lekas pergi dari sana.


"Kamu jangan khawatir, kecurigaan kita selama ini akan terbukti nanti, kamu pasti akan merasa lega," bisiknya.


"Selamat ya Mil, akhirnya kamu bisa melangkah maju. Semoga setelah ini hidupmu akan hanya ada kebahagiaan," ucap Selomita.


"Makasih ya Mit, aku juga berharap, kamu juga bisa segera menyusul," balas Mily yang di balas helaan napas lirih Selomita.


Hubungannya dengan Ridho terhalang oleh status Ridho yang seorang duda beranak. Apa lagi mereka berpisah karena bercerai, membuat kedua orang tua Selomita merasa berat merestui hubungannya.


Sudah berbagai cara dia dan Ridho lakukan demi mendekatkan diri pada orang tua Selomita, tapi sampai saat ini belum membuahkan hasil.


Mereka semua tiba di sebuah kantor yang berada di hotel itu. Manajer yang dulu pernah membantu Ridho menyambut keempatnya.


"Dengan pak Ferdi?" sapanya sambil mengulurkan tangan kepada para tamunya.


"Silakan duduk pak, Bu Louisa sudah memberitahukan kedatangan kalian, jadi mohon tunggu sebentar," ucapnya.


Dia lalu membuka buku tamu yang memang di pesan oleh Louisa untuk di beritahukan kepada Ferdi.


Inilah kejutan yang Ferdi janjikan pada Mily, dia akan mengungkap siapa dalang dari kejadian nahas Mily dan Ridho di masa lalu.


Setelah pertemuan negosiasi waktu itu, Ferdi kembali mendatangi Louisa untuk membuat kesepakatan, awalnya terasa alot, tapi saat Ferdi melakukan ancaman padanya, mau tak mau gadis itu menyerah dan mengabulkan keinginan Ferdi.


"Silakan pak ini adalah orang yang memesan kamar di 2300," ucap sang manajer lalu memberikan keterangan pada mereka.


Ferdi dan yang lainnya saling memandang, mencari tau siapa yang mengenal orang itu.


"Dika Mahendra? Siapa dia ?" tanya Ferdi menatap mereka semua.


Hati Mily dan Ridho berdebar kencang, apakah nama orang itu sama dengan nama yang ada di pikiran mereka?

__ADS_1



__ADS_2