Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Tamu tak di undang.


__ADS_3

Tak terasa hari yang paling mendebarkan bagi pasangan suami istri Ridho dan Fisha datang juga.


Jika Fisha menyambut hari itu dengan antusias, berbeda dengan Ridho yang tampak pasrah saja.


Kali ini keluarga kedua belah pihak hadir semua, bahkan Tirta sengaja datang selain karena ingin meminta penjelasan pada sang istri tentang masalah yang dia timbulkan ke keluarga Saidah.


Dia juga ingin melihat bagaimana akhir kehidupan rumah tangga anaknya.


Sejujurnya Tirta merasa malu dan kesal karena sang istri membuat ulah di kampung sepupunya.


Dia akhirnya tau masalah yang di timbulkan sang istri karena Ika mengadu padanya karena gagal melakukan misi yang di minta oleh Marlina.


Marlina yang kesal mengancam akan memecat sang suami, hingga akhirnya terpaksa Ika meminta bantuan pada Tirta.


Beruntung Tirta tak melakukan apa yang di pinta Marlina. Justru dia malah memarahi sang istri yang sudah gegabah ikut campur dalam masalah anak mereka.


Gunawan dan Tirta saling menyapa seperti biasa, hanya istri mereka saja yang tampak sangat segan saling menyapa.


Hakim memutuskan keduanya resmi berpisah, masalah pembagian harta dan hak asuh anak jelas jatuh ke tangan Fisha sesuai kesepakatan keduanya.


Kini mereka berhadapan dan saling bersalaman, ada rasa teriris di sudut hati Fisha meski ini adalah keinginannya.


Melepas suami yang sudah memberikannya dua orang anak tentu saja ada sedikit rasa duka.


Namun ia segera menepisnya, dia ingin kembali pada kekasihnya, yang sudah siap meminangnya kelak.


"Meski kita gagal sebagai suami istri aku harap kita tetap bisa kompak menjadi orang tua untuk Alvian dan Alma ya mas," pintanya tulus.


"Semoga kamu bisa bahagia, maaf aku yang telah membuatmu terluka Sha," lirih Ridho.


Tirta mendekati keduanya lantas memeluk sang menantu. Perpisahan ini sungguh melukainya juga, sebagai seorang suami, Tirta paham jika menantunya ini adalah pria baik dan bertanggung jawab.


Dalam hati mereka semua tentu berharap suatu saat keduanya dapat kembali bersatu. Biarlah perpisahan ini menjadi penyemangat mereka untuk lebih bisa membenahi diri agar lebih baik lagi.


Begitulah harapan Gunawan dan Tirta. Begitulah akhir kisah rumah tangga Ridho dan Fisha.


.


.


Setelah urusan sekolahnya selesai, Bian dan Saidah kembali ke kota.


Saidah belum bisa menemukan pembeli yang cocok dengan harga yang ia tawarkan. Namun ia sudah menyerahkan masalah jual beli itu pada ketua Rt untuk membantunya.


Kehamilan Mily yang hampir memasuki bulan ke empat, sudah sedikit memperlihatkan perutnya yang sedikit membuncit.


Malam ini, keluarga Ridho akan mendatanginya untuk membahas masalah pernikahan mereka.


Mily sempat ragu karena dia tengah menimang ajakan Ferdi yang sudah siap menikahinya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Mil?" tanya Saidah yang melihat kegelisahan sang putri.


"Bu, apa ini ngga terlalu cepat? Bang Ridho baru saja bercerai, entah kenapa aku semakin merasa bersalah," lirihnya.


"Lalu apa mau kamu? Kehamilanmu makin besar, tak mungkin lagi di tutupi."


Suara mobil terdengar berhenti di depan rumah mereka, membuat batin Mily semakin tak karuan.


"Ayo, itu pasti keluarga Ridho!" ajak Saidah, di angguki oleh Mily.


Mily mengenakan longdres berwarna putih, senada dengan Saidah, hanya Bian yang memakai kemeja batik.


Pertemuan ini bersifat semi formal, meski Mily dan Ridho telah menikah, tapi ini seperti acara lamaran.


"Pak Gunawan, Bu Elya silakan masuk," pinta Saidah menyambut tamunya.


Bi Imah sudah sibuk membawakan suguhan untuk para tamu majikannya.


"Wah repot-repot sekali Bu Idah, terima kasih sudah menyambut kami," ujar Gunawan.


Hanya Elya yang tampak tak peduli. Karena dalam benak wanita paruh baya itu, mempunyai menantu seperti Mily yang menggantikan Fisha menurunkan harga dirinya.


Dia lebih ingin sang putra mencari pengganti yang harusnya lebih dari mantan istrinya, secara sang putra yang masih tampan di usianya yang sudah matang, penghasilannya pun masih sangat besar.


Bagaimana nanti dia bertemu teman-temannya yang tau jika memantunya sekarang tak sebagus Fisha dulu, bisa malu dia.


Lagi pula ini hanya sementara, setelah itu ia tak akan membiarkan siapa pun menyakiti bahkan menghina putrinya lagi.


Biarlah putrinya menjadi janda di usia muda, dari pada harus berada dalam pernikahan yang tak di harapkan seperti ini.


Saat Gunawan akan membuka suara, terdengar suara mobil yang kembali berhenti di kediaman menantunya


"Apa ada yang akan bergabung dengan kalian?" tanya Gunawan, Mily dan keluarganya kompak menggeleng.


Betapa terkejutnya Mily saat melihat Ferdi berdiri di depan pintu yang memang sengaja Saidah buka.


"Ferdi?" lirihnya.


Gunawan dan Elya hanya terpaku menatap pemuda tampan yang tiba-tiba datang ke acara mereka.


Hanya Ridho yang mengernyit heran, mengapa Ferdi bisa datang ke sana dan apa tujuannya, pikirnya.


Ia pun menatap Mily, sang istri yang juga terlihat terkejut. Dia jadi berpikir kehadiran Ferdi pasti atas kemauannya sendiri.


"Maaf saya menyela, apa saya boleh masuk Bu?" pintanya kepada Saidah.


Bian lantas berdiri menyapa tamunya, meski pemuda itu juga bingung tapi tak sopan rasanya menolak tamu yang datang.


"Mari mas silakan duduk," ujarnya dan memberikan tempat duduknya agar di gunakan oleh Ferdi.

__ADS_1


Bian memilih mengambil kursi cadangan dan duduk di sebelah sang ibu.


"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Gunawan.


Ferdi mengulurkan tangan hendak memperkenalkan diri kepada keluarga atasannya.


"Saya Ferdi pak, calon suami Mily," ucapnya membuat semua terbelalak tak percaya.


Gunawan menarik tangannya.


"Maaf, Anda jangan main-main, kami sedang ada acara dan kamu menyelanya dengan tidak sopan!" sentak Gunawan.


Ferdi menarik napas dan berbicara dengan tenang. "Saya memang berniat menggantikan anak bapak untuk menikahi Mily. Dari pada mereka harus pura-pura menikah, lebih baik menikah sekali seumur hidup dengan di landasi rasa ingin bersama."


"Saya tau mungkin bapak terkejut dengan kehadiran saya, tapi saya sudah melamar Mily untuk menjadi istri saya, dari pada menikah dengan anak bapak lalu kemudian bercerai, bukankah lebih baik tak meneruskan rencana itu?"


"Dia sedang hamil cucu saya, apa kamu tau?" Gunawan masih berkata datar pada lelaki yang dia tau auranya sangat kuat, dia yakin lelaki ini tak main-main dengan niatnya.


"Fer, bukankah aku sudah bilang, sabar, biarkan ini berjalan dulu sebagaimana mestinya, setelah itu lanjutkanlah keinginan kalian, aku tak akan menghalangi," sela Ridho.


"Apa kamu tau dia siapa Do?" tanya Gunawan menatap sang putra tak percaya.


Sungguh keinginan pria paruh baya itu menikahkan putranya dengan Mily, bukan hanya sebatas rasa tanggung jawab.


Dia ingin ini menjadi pernikahan terakhir putranya. Meski di awali dengan kesalahan, tapi dia berpikir pasti ada kesempatan kedua agar keduanya bisa merajut kebahagiaan di kemudian hari.


"Dia bawahan saya pah, dia memang sudah meminta izin pada saya untuk menikahi Mily, tapi ... Ngga mungkin Ridho kabulkan untuk saat ini," jelasnya.


"Jangan jadi pahlawan kesiangan seperti ini nak Ferdi, bahkan Ridho memang harus mempertanggung jawab kan perbuatannya," cibir Gunawan.


"Rencana kalian hanya akan menyakiti Mily dan keluarganya lebih jauh, lebih baik dia memulai awal yang baru dengan seseorang yang tulus menyayanginya."


"Tolong pikirkan, betapa banyak lagi Mily akan menerima pembalasan dari Fisha dan keluarganya kelak, jadi saya mohon lepaskan saja dia," pintanya yakin.


Gunawan tak paham dengan ucapan lelaki di hadapannya ini, mengapa seolah dirinya tak tau ada masalah yang tengah di hadapi menantunya.


Ferdi tersenyum sinis membuat Mily tertunduk, dia takut bosnya itu akan menceritakan masalahnya kepada sang mertua.


"Jelas sekali di sini kalian tak peduli dengan keadaan Mily dan keluarganya. Apa kalian tau jika kemarin keluarga Mily hampir terusir karena ulah besan kalian? Orang tuanya Fisha? lebih tepatnya ibunya Fisha yang menghasut warga di sana untuk mengusir keluarga Mily?"


Gunawan terkejut bukan main mendengar kenyataan yang sama sekali tak di ketahuinya, sungguh ia malu karena tak pernah sekalipun tau keadaan menantu dan keluarganya.


"Do, apa benar begitu?"


Halo, jangan bosan ya liat postinganku yang mempromosikan novel sesama author, beginilah cara kami saling mendukung.


Kali ini aku bawain novel karya author TYATUL yang judulnya LOVE ME PLEASE, DADY. Jangan lupa mampir ya🥰🙏


__ADS_1


__ADS_2