
Sesuai janji, Mily mendatangi restoran milik keluarga Ferdi. Malam tadi untungnya orang suruhan Ferdi mengembalikan mobil miliknya.
Hati Saidah semakin risau kala mendengarkan cerita Mily. Sepulang bertemu kemarin, sebenarnya Mily ingin mengelak mengapa ia di antar oleh Ferdi.
Namun sang ibu terus mendesak karena Mily pulang bersama seorang pria, meski telah mengenalkan diri, tetap saja Saidah merasa ada yang di sembunyikan oleh putri sulungnya.
"Kamu yakin ngga perlu di temani Bian? Ibu takut terjadi sesuatu lagi denganmu Mil," Saidah tak bisa menutupi kecemasannya.
"Mily baik-baik aja Bu, ngga perlu cemas," Mily mengusap punggung sang ibu saat mereka berjalan beriringan.
"Kamu mau ke mana Yan?" Mily menoleh ke arah sang adik yang sejak tadi berada di teras.
"Eh ini Ka, Bian lagi nunggu hasil penerimaan mahasiswa penerima beasiswa, doakan Bian ke terima ya Ka," binar harapan tercetak jelas pada wajah pemuda tampan itu.
"Aamiin, semoga di lancarkan segalanya. Menurut kalian bagaimana rumah di kampung?" ujar Saidah cemas.
"Bian ingin kuliah di sini, apa boleh ibu ikut di sini juga? Ibu ngga mau ninggalin kamu lagi Mil," Saidah menghela napas, wanita paruh baya itu bimbang ingin menemani sang putri tapi juga enggan meninggalkan rumah peninggalan suaminya di kampung.
"Ibu di sini aja, gimana kalau rumah di kampung kita kontrakan?" saran Mily.
Ia tak ingin meninggalkan sang ibu seorang diri di kampung halamannya, terlebih lagi Bian sang adik sedang menunggu beasiswa dari universitas yang berada di kota.
"Nantilah ibu pikirkan, kamu pergi saja, takut sudah di tunggu temanmu. Hati-hati di jalan."
Saidah melepaskan Mily dengan perasaan waswas, masih teringat akan cerita anaknya semalam, dan bagaimana berubahnya Fisha saat pertemuan terakhir mereka.
"Bu, Bian juga pamit ya, mau ke kampus dulu liat-liat," Bian pun ikut pamit undur diri.
Pemuda itu lebih memilih menggunakan ojek Online dari pada harus memberatkan sang kakak untuk membelikannya kendaraan baru.
Jika nanti dia pindah, toh motornya akan ia bawa serta untuk kendaraannya di sini.
***
Mily sampai di restoran yang cukup besar di pinggiran kotanya. Dia tak menyangka jika Restoran tempatnya nanti bekerja bukan restoran biasa, mungkin bisa di katakan restoran bintang lima.
Itu hanya pandangan Mily saja, nyatanya restoran itu adalah restoran yang masih bisa dijangkau oleh kamu menengah.
Hanya penampilannya saja yang terkesan mewah di pandangan Mily.
Mily mendekati pelayan yang berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" sapa pelayan lelaki itu ramah.
"Saya mau ketemu pak Ferdi apa bisa?" Mily bimbang, apa ia harus duduk di meja restoran dan menghubungi Ferdi atau langsung saja bertemu dengan laki-laki itu di ruangan kantor restoran.
__ADS_1
"Kakak ini Kak Mily?" Sang pelayan menanyakan identitas tamu yang memang sudah di tunggu atasannya.
"Iya Mas, saya Mily."
"Baik Ka, mari ikuti saya, Pak Ferdi sudah menunggu di dalam," ajak sang pelayan lantas berjalan mendahului Mily.
Kantor mereka berada di lantai atas, Mily tak melepaskan pandangannya saat melihat suasana restoran yang sangat bagus menurutnya.
Mereka berhenti di depan pintu kayu yang cukup besar, si pelayan mengetuk pintu, setelah terdengar sahutan dari dalam barulah si pelayan berani membuka pintu dari luar.
"Maaf Pak, ini Ka Mily sudah datang," ujar si pelayan di depan pintu.
"Makasih Di. Mily ayo masuk!" pinta Ferdi pada Mily yang masih terpaku di depan ruangannya.
Dalam benaknya, Mily merasa jika aura Ferdi memang cocok sebagai seorang pemimpin. Laki-laki itu dari pertama bekerja di kantor mereka memang agak lain penampilannya.
Meski saat ini Ferdi hanya menggunakan kaus kemeja putih dan bercelana jins, tak mengurangi aura kepemimpinannya.
"Maaf Fer, kamu udah lama nunggu?" Mily merasa tak enak hati melihat Ferdi yang justru tengah menunggunya.
"Engga, aku kan emang kerja di sini juga," elak Ferdi yang tidak berbohong.
"Tapi maaf Mil, mamahku belum datang, dia sedang arisan, biasalah emak-emak," jelas Ferdi yang tidak ingin membuat Mily kecewa.
"Sambil nunggu mamahku, gimana kalau kita lihat-lihat restoran dulu, sambil mencicipi hidangan di sini?" tawar Ferdi di balas anggukan oleh Mily.
"Moto di sini, tempat bintang lima, harga kaki lima," ujarnya sambil tertawa.
Pemandangan yang cukup aneh bagi Mily, sebab dia taunya Ferdi adalah pribadi yang cukup serius, tapi kini ia bisa melihat sisi lain Ferdi yang cukup Friendly.
"Seumur aku kenal kamu, baru kali ini aku lihat kamu tertawa lepas, biasanya kamu cuma tersenyum kaku saja!" sindir Mily yang membuat Ferdi kembali tersenyum.
"Apa memang harus begitu Fer?"
"Ah bisa aja kamu Mil, aku cuma ngga mau kamu berpikir kalau aku ini atasan yang kaku nantinya. Oya ayo ke dapur nanti aku kenalin kamu sama pegawai di sana!" ajaknya lagi.
Kini Ferdi dan Mily sudah berada di dapur, beberapa pegawai menatap bingung bos tampannya mengajak seorang wanita ke tempat kerja mereka.
"Kenalkan ini manajer baru kalian, Ayo Mily perkenalkan diri kamu," pinta Ferdi yang membuat Mily canggung.
Bukan tanpa sebab, dia sendiri merasa belum melakukan tes apa pun, tapi dengan mudahnya Ferdi sudah mengenalkan dirinya sebagai seorang manajer kepada para pegawai, tentu saja dia bingung harus bicara apa.
Melihat Mily yang tampak segan, Ferdi lantas mengangguk memberikan semangat.
"Ayo Mil, silakan?" pinta Ferdi lagi.
__ADS_1
Beberapa pegawai di dapur saling berpandangan dan menyikut, mereka juga penasaran mengapa manajer baru mereka tampak diam saja dari tadi.
"Sa-saya Mily, senang bekerja bersama kalian," hanya itu kata yang mampu Mily ucapkan.
Salah satu koki di dapur lantas tersenyum dan berbicara, "selamat bergabung Bu Mily, kenalkan saya Fandi, koki utama di sini," sapa lelaki bertubuh sedikit gempal sambil sedikit membungkukkan badan ke arah Mily.
Mily pun melakukan hal yang sama sebagai balasan. Setelah berbincang sejenak di dapur, Fandi berjanji akan membawakan menu spesial untuk atasan barunya.
Ferdi lantas mengajak Mily keluar untuk duduk di ruang terbuka restoran miliknya.
"Kenapa kamu sudah bilang kalau aku sudah sah menjadi manajer di sini! Aku kan belum menjalani tes Fer!" protes Mily.
Ferdi terkekeh melihat wajah Mily yang terlihat memerah, entah marah atau malu pikir laki-laki itu.
"Kamu sah di terima di sini. Apa karena kita belum membicarakan gaji makanya kamu protes?" tebak Ferdi asal.
Mily gelagapan di tuduh seperti itu, padahal bukan seperti itu maksudnya.
"Apa ngga ada pelamar lain Fer?" tanya Mily serius.
Ferdi lantas menggeleng, "Ngga ada, aku emang ngga membuka lowongan, belum sih sebenarnya, eh pas banget kamu butuh kerjaan, dan aku juga udah tau cara kerja kamu jadi pa kan? Kita sama-sama di untungkan," sergah Ferdi.
Bukannya senang, Mily malah mengeluh, "aku seperti masuk jalur cepat," lirihnya.
Ferdi yang paham bagaimana sifat Mily segera menjawabnya agar tak terjadi kesalahpahaman.
"Begini Mil, kamu butuh kerja, aku butuh pegawai yang sesuai dengan kriteriaku, dengan kamu aku ngga perlu kebanyakan tes, secara aku sudah sedikit tau bagaimana kinerja kamu, jadi jangan anggap aku mengasihanmu ya?"
Mily tersenyum," tapi pengalaman sebagai manajer kan ngga ada aku Fer, percaya sekali kamu aku mampu menjalankan amanah mu ini!" kekeh Mily.
"Alah ngga jauh-jauh beda sama di kantor kok, kamu tenang aja kalau takut aku pasti akan bantu kamu. Untuk gaji aku akan membayar kamu lima belas juta, mau?"
Bagaimana pun Ferdi harus membicarakan masalah upah yang sanggup ia bayarkan pada Mily. Mendengar besarnya gaji yang di berikan oleh Ferdi membuat Mily terbelalak.
"Li-lima belas juta? Kamu serius Fer?"
Mily tak percaya kalau ternyata Ferdi bahkan sanggup membayarkan upahnya di atas penghasilannya saat bekerja di kantor yang sama dengan laki-laki itu.
"Kenapa sih harus bertemu kamu lagi!" ucap seseorang yang tiba-tiba hadir di tengah pembicaraan mereka.
.
.
.
__ADS_1
Tbc