
Saidah menangis di dalam kamarnya. Menangisi nasib buruk keluarganya. Dia di hadapkan dalam pilihan sulit, antara dia menerima atau membalas, tapi harus siap membuka aib putrinya sendiri.
Di tengah kesedihannya, ponselnya berdering ada nama sang putra di layarnya.
Saidah mengusap air matanya, berusaha menenangkan diri, dia tak ingin sang putra khawatir. Meski Saidah sendiri bingung mengapa putranya yang masih dalam jam belajar itu meneleponnya.
"Halo Yan?"
"Bu ... Ini Bu Salwa ingin bicara?" lirihnya.
"Oh iya Yan, mana berikan ponselmu," pinta Saidah bingung.
Dalam hati wanita paruh baya itu berpikir mengapa tiba-tiba wali kelas putranya menghubunginya.
"Halo selamat siang Bu Saidah, saya Salwa wali kelas Bian, bisa ibu datang ke sekolah sekarang?" pinta Salwa.
"A-ada apa ya Bu?" tanya Saidah waswas, tak pernah sekalipun ia di minta ke sekolah, terkecuali pengambilan rapor putranya.
Terdengar helaan napas Salwa, "putra Ibu, Bian, berkelahi dengan temannya, jadi kami mengundang kedua wali murid untuk datang menemui kami di sekolah," jelas Salwa yang membuat Saidah kembali menangis.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini, Bian kenapa denganmu Nak.
"Ba-baik Bu saya ke sana sekarang."
Saidah lantas bergegas merapikan diri dan berganti pakaian. Dia ingin tahu mengapa sang putra yang tak pernah membuat ulah, tiba-tiba berkelahi dengan temannya.
Dia meyakini pasti ada hal pemicunya, dan Saidah penasaran apa itu.
Sesampainya di sekolahan, dia menuju ruang kepala sekolah, sudah ada sang putra yang duduk berseberangan dengan temannya yang juga sudah di apit oleh orang tuanya.
Karena datang menggunakan angkutan umum, Saidah datang terlambat.
"Maaf Pak, Bu saya terlambat," ujarnya lalu mendekati sang putra yang dari tadi menunduk.
Di depannya ada seorang wanita yang berdandan menor menatap sengit ke arahnya.
Luka di wajah Bian tak terlalu parah, hanya memar di ujung bibirnya.
"Kamu baik-baik aja Yan?" tanya Saidah sambil memeluk bahu sang putra.
Bian menengadah menatap ibunya sendu. "Maafkan Bian Bu," lirihnya.
Saidah tersenyum lantas mengangguk lalu kembali menatap kepala sekolah yang duduk di ujung.
"Saya ngga terima anak saya di perlakukan seperti ini ya Pak! Ini harus di tindak tegas!" omel ibunda Riki dengan raut wajah masam.
"Benar pak, ini bisa di pidana kan dengan kasus kekerasan!" tambah ayah Riki. Diam-diam Riki tersenyum menyeringai menatap Bian.
__ADS_1
"Sabar bapak ibu, kita dengarkan dulu penjelasan mereka," sela kepala sekolah.
"Bian coba ceritakan kenapa kamu memukul Riki?" tanya Kepala sekolah.
"Dia menghina kakak saya pak!" jelas Bian tenang.
"Enggak Pak, saya cuma nanya dia aja yang kesal!" sergah Riki yang takut di pojokkan oleh Bian.
"Bapak belum tanya sama kamu Riki, jadi diam dulu!" titah kepala sekolah.
"Bu Salwa tolong panggilkan murid-murid yang tau masalah mereka," pinta Kepala sekolah kepada Salwa.
Salwa pun kembali ke kelas, sedangkan di ruang kepala sekolah suasana masih panas.
"Meskipun kamu marah, seharusnya kamu ngga melakukan kekerasan Bian, tinggal kamu laporkan saja ke kami, nanti biar Bapak atau Guru yang menegur Riki," jelas Kepala sekolah.
Bian hanya menunduk, ada sedikit rasa sesal dalam dirinya, bukan karena menghajar Riki hingga babak belur, melainkan karena membuat sang ibu ke pikiran.
"Tau tuh, kelakuan kamu kaya preman aja!" ketus Ibunda Riki sengit.
Tak lama Salwa datang bersama beberapa murid kelasnya, mereka semua yang tau awal mulai perselisihan Riki dan Bian.
"Ini anak-anak yang dengar pertikaian mereka pak," jelas Salwa.
"Coba kalian jelaskan masalah ke duanya," pinta kepala sekolah pada teman-teman Riki dan Bian.
"Jangan percaya ucapan mereka pak, mereka kan teman Bian sudah pasti membela dia!" elaknya.
"Kenapa kamu takut? Aku punya buktinya, untung aku hobi main tok-tok!" jawab salah satu murid perempuan.
Tanpa banyak kata, murid perempuan yang duduk di depan Bian segera memberikan ponselnya kepada kepala sekolah.
Kepala sekolah memutar video itu dan mengeraskan suaranya. Jelas sudah masalah keduanya dan memang benar jika Riki yang mulai memprovaksi Bian.
Kini Riki hanya bisa menunduk malu, meski hatinya ikutan kesal atas perbuatan teman-teman Bian yang memojokkannya.
"Kamu itu Riki-Riki kenapa mengatakan hal yang bukan urusan kamu? Kamu menghina kakak Bian, apa untungnya?" ujar kepala sekolah setelah mematikan ponsel milik saksi.
"Ya emang kakaknya dia begitu pak!" sela ibunda Riki.
"Bu!" sela ayah Riki yang berusaha menghentikan istrinya itu.
Bagaimana pun keduanya tetap salah di mata kepala sekolah, sebagai hukuman Riki di minta untuk membersihkan toilet sekolah pulang sekolah ini.
"Ngga bisa gitu dong pak, bapak ngga lihat wajah anak saya babak belur begini, paling enggak Bu Saidah harus membayar biaya berobat anak saya!" tuntut ibunda Riki.
Kepala sekolah menghela napas, mungkin yang di perlukan oleh Riki hanya obat merah dan alkohol saja, tapi biar bagaimana pun muridnya itu cukup terluka.
__ADS_1
"Ngga papa pak saya akan tanggung jawab," sela Saidah yang ingin agar masalah anak mereka lekas usai.
"Terus cuma saya yang di hukum pak? Bian enggak?" sergah Riki emosi.
"Bian akan membuang sampah di setiap kelas pulang sekolah nanti," ujar Kepala sekolah, baginya memberikan keduanya hukuman sudah cukup adil.
"Ibu juga memberikan pengobatan buat Bian ya," titah kepala sekolah pada Ibunda Riki.
"Loh, dia ngga papa tuh, kenapa harus di obati, anak saya kan membela diri!" elaknya enggan mengobati anak yang telah memukul putranya.
"Sudah pak ngga usah, Bian biarkan saja saya yang mengobati," jawab Saidah.
Setelah menerima kesepakatan, kedua wali murid itu undur diri, sebab waktu pulang sekolah juga sudah hampir dekat.
Di luar sekolah, ibunda Riki lantas menjegal Saidah.
"Bu Saidah!" panggilnya.
Saidah yang hendak menaiki angkutan umum lantas mengurungkan niatnya.
"Ada apa ya mamah Riki," panggil Saidah menyebutkan nama anaknya.
"Ada apa, ada apa. Sini! katanya tadi mau bayar biaya berobat Riki. Sini uangnya!" pinta Ibunda Riki dengan tak tau malu.
"Loh nanti sepulang sekolah kan saya akan ajak Riki ke klinik biar di obati, kenapa Mamah Riki minta uangnya sekarang?" tanya Saidah bingung.
"Udah ngga usah banyak ngomong, siniin uangnya, biar nanti kami yang priksain dia," ketusnya tak mau berhenti.
Saidah menghela napas lantas mengeluarkan uang selembar seratus ribuan kepada Ibunda Riki.
"Cuma segini? Ibu Saidah jangan sembarangan ya! Paling enggak itu pengobatan Riki habis lima ratus ribu!" ujarnya emosi.
"Ya ampun, ngga mungkin Bu, waktu Bian jatuh dari sepeda aja ngga sampai seratus ribu," elak Saidah.
"Enak aja nyamain anak saya sama anak ibu yang urakan itu, ngga liat hidung anak saya tadi berdarah, kalau ternyata tulangnya patah gimana? Saya ngga mau tau lima ratus ribu sekarang atau saya laporkan ke pihak yang berwajib!" ancamnya.
Enggan berurusan lebih jauh dengan ibunda Riki, Saidah mengalah dan memberikan sejumlah uang yang wanita itu inginkan.
"Gitu dong, duit hasil ngangkang aja, jangan pelit-pelit Bu!" ejeknya.
Saidah hanya bisa menahan sesak di dadanya mendengar hinaan wanita itu.
.
.
.
__ADS_1
Tbc