Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Akhirnya Pindah


__ADS_3

Mily tetap berusaha tenang meski dadanya masih berdebar sangat kencang. Setelah pertemuan itu keadaan Mily semakin memburuk.


Gadis itu semakin jadi pendiam. Rasa khawatir yang berlebihan membuatnya mudah terkejut.


Sekarang bahkan dia dengan terang-terangan menghindar dari rekan-rekan kantornya. Mily merasa jika semua itu akibat kelakuan salah satu dari mereka, hingga membuatnya memilih menjauh.


Selomita bahkan di buat frustrasi saat Mily hanya menjawab pertanyaan seadanya saja.


Gadis itu tak bisa membiarkan Mily bersikap seperti itu padanya. Ia harus tau apa hal yang membuat Mily seperti menjauhinya.


Sakin tidak kuatnya dengan sikap Mily yang semakin menjauh, siang itu Selomita menyeret Mily ke tempat sepi, meski masih di sekitaran kantor.


"Mil, kamu sebenarnya ada apa? Dari kemarin aku sabar dengan perubahan kamu, mungkin kamu butuh waktu, tapi aku lihat kamu makin menghindariku!" keluh Selomita.


Kini Mily berani menatap sengit pada Selomita. Mungkin ini puncak dari kesabarannya. Dia juga lelah selalu merasa ketakutan, jadi sekarang waktunya ia memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya.


"Kamu waktu ke Bogor kenapa ngga cerita sama aku Mit?"


Selomita terkejut bukan main mendengar nada suara Mily yang berubah tajam.


"Kamu marah sama aku Mil?"


Mily tersenyum sinis dan melipat kedua tangannya di dada, itu cara meredakan rasa gugupnya.


"Jawab aja, kamu kenapa ngga cerita sama aku?"


"Ya ampun Mil, aku sampai di sana sore hari, besoknya aku ke hotel kamu, tanya aja sama Pak Ridho, aku mau ketemu kamu, tapi kata Pak Ridho kamu pulang duluan. Katanya kamu sakit," jelas Selomita.


Mily terkejut mendengar penjelasan Selomita yang katanya menemui dirinya.


"Lalu kamu kenapa ngga bahas itu saat aku masuk kerja kemarin?"


"Apa itu yang buat kamu kesal Mil? Aku bahkan bilang sama Pak Ridho buat nyusul kamu, tapi katanya kamu lagi di kampung. Pak Ridho juga bilang, kalau nanti kamu kerja ngga usah banyak tanya yang macam-macam, takut itu buat kamu sedih."

__ADS_1


Selomita tidak berbohong dengan penjelasannya. Memang itulah yang terjadi, tapi penjelasan Selomita bahkan tak membuat Mily tenang.


"Kamu ada di mana malam itu Mit?"


Siapa tau Selomita yang menjebaknya meski kemungkinan itu kecil. Kalau mau, harusnya Selomita yang mengumpankan tubuhnya pada Ridho karena gadis itu memang terlihat sangat tergila-gila dengan Ridho.


Pikiran Mily tiba-tiba buntu, dia sepertinya merasa bersalah karena mencurigai Selomita yang sepertinya tak mungkin melalukan hal itu.


"Aku tidur sampai pagi Mil, memangnya malam itu ada apa?"


"Ngga papa, sakitku kambuh malam itu," lirih Mily.


Meski merasa aneh karena Mily bisa marah padanya hanya karena hal yang menurutnya sepele, Selomita berusaha mengerti keadaan temannya itu.


"Maafkan aku kalau itu membuatmu marah, aku benar-benar ngga tau kalau kamu sakit. Apa sakitnya parah? Sampai kamu ngga bisa masuk kerja hampir dua minggu lamanya?"


Selomita meminta maaf sambil memeluk tubuh ringkih Mily, tak terduga malah membuat Mily menangis tergugu.


Mily dari awal sebenarnya tak begitu yakin jika Selomita akan melakukan hal jahat padanya.


Dia lebih yakin jika Ferdi tetap menjadi target utamanya, sebab laki-laki itu menghilang saat malam kejadian nahas itu terjadi.


"Kamu ngga terkena penyakit serius kan Mil?" terpaksa Selomita bertanya tentang pemikirannya dan Husain.


"Engga, aku baik-baik aja," jawab Mily sambil menyeka air matanya.


"Aku temanmu, berbagilah jika kamu merasa yakin sama aku. Aku ngga akan maksa, tapi tolong jangan menghindariku. Katakan kalau emang aku ada salah ya," pinta Selomita sambil menggenggam kedua tangan Mily.


Mily bersyukur mengenal Selomita, meski mereka hanya sebatas rekan kerja. Mily jarang menghabiskan waktu dengan gadis itu kecuali makan siang bersama di kantor.


***


Mily di panggil ke ruangan Ridho. Di sana sudah ada Bu Kikan yang menjabat sebagai HRD di kantor.

__ADS_1


"Siang Pak, bapak panggil saya?" Mily hanya memanggil Ridho bang di hadapan laki-laki itu dan juga rekan-rekannya, jika di hadapan staf lain dia akan memanggil Ridho dengan sebutan Pak seperti yang lainnya.


"Masuklah Nona Mila," pinta Ridho sambil menunjuk kursi di sebelah staf HRD.


Mily menyalami Kikan, sebelum duduk di sebelahnya.


"Pak Direktur menyetujui perpindahan kamu. Sekarang kamu bekerja di bagian HRD bersama Bu Kikan ya, bagian kamu biar nanti di jelaskan sama Bu Kikan," jelas Ridho.


"Selamat bergabung di divisi kami," ucap Kikan sambil menjabat tangan Mily.


Perpindahan tugas memang biasa di perusahaan, tapi Kikan sedikit terkejut karena posisi Mily lebih baik saat ini justru malah ingin turun di bagian divisinya.


Bukan tanpa alasan kalau Ridho merekomendasikan Mily bergabung di staf bagian HRD, bagian itu tidak membuat Mily pergi keluar kota dan pekerjaannya juga sedikit ringan.


Jadi Ridho berharap Mily bisa lebih fokus kembali pada pengobatannya, tapi tetap bisa menghasilkan uang.


Kikan lalu mengajak Mily keluar untuk memperkenalkannya pada stafnya yang lain.


Di lorong, Mily dan Kikan di hadang oleh Selomita yang berlari menuju ke arah mereka.


"Kamu beneran pindah Mil?!" sentaknya dengan dada naik turun karena lelah berlari.


"Iya Mit."


"Kenapa? Apa kamu masih marah?" pertanyaan Mily membuat Kikan menatap keduanya bingung.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2